African Parks: Alternatif Konservasi di Dunia Ketiga

Ilustrasi Gajah di Taman Nasional Zakouma. Foto: Brent Stirton/National Geographic

Afrika adalah sebuah benua yang sedang mengahadapi krisis biodiversitas. Menurut studi dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), dengan kondisi sekarang, Afrika akan kehilangan lebih dari setengah spesies mamalia dan burung pada tahun 2100. Kepunahan juga akan melanda flora secara signifikan dan membuat produktivitas danau turun hingga 30%. Kenyataan yang kian memburuk ini tentu saja memicu keprihatinan dari dunia internasional.

Masalahnya, pihak tempat usaha-usaha konservasi bergantung, yakni negara, tidak dapat diandalkan dalam melindungi flora dan faunanya. Sebagian besar negara di Afrika dapat dikategorikan sebagai negara lemah (weak states) atau bahkan negara gagal (failed states). Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang mengindikasikan ketidakmampuan suatu negara untuk melakukan peran yang sudah seharusnya dilakukan oleh negara. Faktor monopoli kekerasan misalnya, banyak tidak dipenuhi oleh negara Afrika, dilihat dari kemunculan milisi, pemberontak, hingga organisasi teror yang melakukan kekerasan dan kriminalits yang masif. Salah satu kriminalitas yang marak dilakukan karena keuntungan yang dihasilkannya adalah perburuan binatang secara ilegal dan membabi buta. Hal ini belum termasuk kelemahan-kelemahan lainnya dari negara seperti kurangnya sentralisasi, ketidakmampuan menyediakan public goods, dan berhubungan dengan negara lain selayaknya negara yang layak.

Sebagai akibatnya, seringkali konservasi dan perlindungan terhadap kekayaan alam dan keanekaragaman hayati tidak menjadi prioritas utama bagi negara-negara di Afrika. Hal ini tentu tidak mengherankan, sebab masalah konservasi tersebut tidak berpengaruh langsung terhadap kedaulatan dan keamanan negara. Selain itu, tidak ada ketertarikan atau tekanan yang berarti dari masyarakat kepada negara untuk melindungi flora dan fauna yang terancam. Jika diamati lebih luas, maka dapat ditemukan bahwa pola pengabaian terhadap konservasi ini tidak hanya terjadi di negara-negara Afrika, tetapi juga di dunia ketiga secara luas.

Zakouma dan African Parks

Terdapat banyak contoh nyata dari kasus ini, salah satunya adalah negara Chad di Afrika Tengah. Taman Nasional Zakouma adalah taman nasional tertua di Chad yang telah didirikan sejak 1963. Taman Nasional Zakouma terutama digunakan untuk melindungi Gajah Afrika (Loxodonta Africana) dan Badak Hitam (Diceros Bicornis). Namun, populasi Gajah terus menurun pada tahun 2000an, bahkan hingga terjadi pembantaian ratusan Gajah di Zakouma pada 2006. Pengurangan ini diiakibatkan perburuan liar oleh milisi Janjaweed dan pemburu lainnya yang mengincar gading Gajah. Sementara itu, Badak Hitam terakhir dilaporkan terlihat di Zakouma pada 1972 dan belum terlihat lagi setelah itu.

Menghadapi hal tersebut, pemerintah Chad memiliki kemauan untuk memperbaikinya, tetapi tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga Taman Nasional Zakouma dan menghadapi para pemburu Gajah. Akibatnya, sepanjang 2002-2010, Zakouma kehilangan sekitar 4000 atau 95% dari keseluruhan populasi Gajahnya. Menghadapi ancaman kepunahan tersebut, Chad kemudian mengambil langkah yang kini semakin populer diantara negara-negara Afrika, yakni menyerahkan pengelolaan Taman Nasional Zakouma kepada African Parks.

African Parks sendiri adalah Non-Governmental Organization (NGO) yang memang fokus pada usaha-usaha konservasi sejak didirikan pada tahun 2000. NGO yang berkantor di Johannesburg, Afrika Selatan ini memiliki lima fokus dalam melakukan kerjanya, yakni menyelamatkan satwa liar, melindungi kawasan konservasi, community development, turisme dan bisnis, serta manajemen dan infrastruktur. Menyelamatkan satwa liar dan melindungi tamna konservasi, tentu sudah menjadi peran utama African Parks. Dalam melakukan tugasnya, African Parks mengerahkan sekitar 1.100 penjaga hutan yang melindungi 18 kawasan konservasi di 11 negara. Sambil melakukan hal tersebut, African Parks juga melakukan program community development bagi komunitas disekitar kawasan tersebut, seperti program pendidikan bagi anak-anak. Manajemen untuk mengoptimalisasi turisme, bisnis, dan infrastruktur juga dibangun untuk menghidupkan kawasan konservasi dan masyarakat sekitar.

Meskipun merupakan organisasi non-profit, African Parks bekerja dengan cara yang tidak memberatkan negara tempat konservasi dilakukan. Cara kerja African Parks berpanduan pada pilar 3M, yakni mandate, management, dan money. Satu-satunya hal penting yang diperlukan oleh African Parks dari pemerintah adalah mandat untuk mengelola suatu kawasan konservasi dan sekitarnya. Selain itu, African Parks dapat dikatakan tidak membutuhkan bantuan berarti dari pemerintah. Setelah itu, African Parks tinggal melakukan pengelolaan yang baik atas kawasan tersebut, setidaknya dengan menjamin keamanan kawasan konservasi dan melakukan usaha konservasi serta rehabilitasi. Dalam melakukan semua programnya, African Parks tidak meminta pendanaan dari negara tujuan konservasi, melainkan dari pihak-pihak yang berada di dunia pertama. African Parks menerima pendanaan dai donor-donor besar seperti Uni Eropa, USAID, WWF, Yayasan Howard G. Buffet, dan masih banyak lagi.

Setelah satu dekade menyerahkan pengelolaan Taman Nasional Zakouma kepada African Parks, hasil dari usaha konservasi dan pemulihan mulai terasa. Pada 2016, tidak ada lagi gajah yang mati terbunuh karena perburuan liar sehingga memungkinkan penambahan populasi kembali menjadi 559 ekor pada 2018. Di tahun yang sama, enam Badak Hitam kembali diperkenalkan di Zaokouma setelah sekian dekade lamanya. Semua hal tersebut dilakukan sambil memberikan pendidikan bagi 1.500 anak di tujuh belas sekolah yang didukung oleh African Parks.

Pengelolaan Pihak Ketiga bagi Dunia Ketiga

African Parks memiliki moto “A Bussiness Approach to Conservation”. Moto tersebut kemudian menjelaskan pendekatan African Parks yang sejatinya mempertemukan penawaran (supply) dengan permintaan (demand) dalam konteks konservasi. Terdapat demand yang besar dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan berbagai instansi negara maupun non-negara lainnya di dunia pertama terkait konservasi secara global. Hal ini terefleksikan dari tingginya perhatian masyarakat terhadap kelestarian alam, pembangunan ramah lingkungan, dan perlakuam yang etis terhadap hewan. Akhirnya dibentuklah instansi pemerintah, non-pemerintah, hingga gerakan masyarakat dan aktivis hewan yang berfokus pada usaha konservasi.

Di sisi lain, terdapat supply kawasan konservasi dan margasatwa yang membutuhkan perlindungan, yang sebagian besar terletak di negara-negara dunia ketiga. Tidak hanya Afrika, tetapi juga di Amerika Selatan dan Asia, masih terdapat puluhan ribu kawasan konservasi yang terus mengalami pengurangan biodiversitas. Puluhan ribu kawasan konservasi tersebut banyak dibiarkan tidak terurus oleh pemerintah masing-masing karena tidak adanya kemampuan atau ketertarikan untuk mengelolanya. Berbagai kepunahan dan perburuan yang terjadi di kawasan konservasi inilah yang juga menjadi perhatian pemerintah hingga aktivis hewan di negara-negara dunia pertama.

African Parks kemudian hadir untuk menjembatani supply dan demand yang tidak terhubung ini. Dengan mengangkat masalah perlindungan margasatwa yang terjadi di dunia ketiga, African Parks menggalang dana dari donor-donor di dunia pertama. African Parks sendiri juga yang kemudian turun tangan untuk menangani permasalahan-permasalahan di kawasan konservasi serta mengembangkannya menjadi lebih baik. Tanpa perlu mengeluarkan sumber daya yang berarti, negara tempat konservasi kemudian mendapat kawasan konservasinya terawat dan dipuji. Akhirnya, sebagaimana lazimnya bisnis, semua pihak yang terlibat merasa diuntungkan dari peran yang dilakukan African Parks.

African Parks, meski baru mengelola delapan belas kawasan konservasi di Afrika, telah berperan dalam menjadi contoh yang baik bagi konservasi di dunia ketiga. African Parks menawarkan solusi yang mudah dan menguntungkan semua pihak. Kenyataan ini sekaligus memperkuat bahwa pihak non-negara seperti NGO dan pihak swasta, juga dapat mengemban tugas-tugas penting bahkan hingga yang berkaitan dengan keamanan. Mungkin negara memang tidak perlu memaksakan kehendaknya untuk memiliki semua peran. Terlebih lagi di dunia ketiga dengan banyaknya negara yang lemah dan belum selesai dengan konsolidasi internalnya. Kedepannya, usaha konservasi oleh pihak ketiga ini bisa diperluas sehingga tidak hanya mencakup wilayah Afrika saja, tetapi juga seluruh dunia.

Ikhlas Tawazun adalah mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Dapat ditemui di sosial media dengan nama pengguna @tawazunikhlas     

Leave a Reply

Your email address will not be published.