Akrobat Ekonomi Erdogan, Lira Turki Alami Depresiasi Historis

Ilustrasi Presiden Turki Erdogan. Foto: Getty Images

Pada tanggal 23 November 2021, mata uang Turki, Lira, mengalami penurunan dan depresiasi sebesar 15% setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan memutuskan pemotongan suku bunga. Hal ini ia katakan adalah salah satu langkah yang ia jalankan dari rencana besar “perang ekonomi untuk kemerdekaan.” Walau begitu, banyak muncul kritik dan permintaan untuk memutarbalikkan keputusan yang dianggap destruktif ini.

Sejauh ini, kurs Lira telah turun jauh dibandingkan dolar AS, dengan harga satu dolar AS telah mencapai lebih dari 13,45 Lira. Hal ini menandakan adanya devaluasi sebesar 42% dari Lira pada tahun 2021, yang mana 22% penurunan baru terjadi sejak akhir bulan November lalu.

Recep Tayyip Erdogan menjustifikasi keputusannya untuk memotong suku bunga pinjaman sebagai sebuah strategi pelonggaran agresif. Menurutnya, hal ini diperlukan untuk mendorong angka ekspor, investasi, pekerjaan. Keputusan ini memang biasanya dijalankan untuk mengurangi harga produk ekspor dan memberikan kebebasan lebih bagi orang untuk meminjam dan mengonsumsi komoditas.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa strategi tersebut hanya efektif dalam kondisi tingkat inflasi yang rendah. Kondisi di Turki sekarang mengalami inflasi sebesar 20% dan hal ini dipadukan dengan keputusan Erdogan telah menciptakan depresiasi mata uang yang makin cepat. Ekonomi Turki mungkin mengalami perkembangan 7,4% di tahun 2021, akan tetapi hal ini tidak selalu menunjukkan hal yang positif secara garis besar.

Turki mengalami kesulitan dalam menyusun rencana anggaran keuangan tahun depan akibat depresiasi yang berat. Pimpinan Bank Sentral Turki Sahap Kavcioglu pun menyatakan bahwa keputusan untuk membatalkan keputusan Erdogan “tidak realistis dan benar-benar lepas” dari konsep fundamental ekonomi. Selain itu, mereka telah menyatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan intervensi kecuali terjadi kondisi “volatilitas eksesif.”

Erdogan bersikeras bahwa tidak ada kondisi yang memaksakan adanya kebutuhan untuk memutar balik dari keputusan yang telah ia buat.  Malah Erdogan menunjukkan adanya rencana untuk melanjutkan pemotongan suku bunga di bulan Desember. Keputusan ini sendiri didukung oleh pemimpin partai nasionalis MHP, Devlet Bahceli, yang juga berpikiran bahwa suku bunga pinjam yang tinggi akan mematikan produksi dan memuji keputusan Erdogan ini.

“Saya menolak keputusan yang mengontrak negara kita, melemahkannya, menghancurkan orang-orang kita melalui pengangguran, kelaparan, dan kemiskinan.” sebut Erdogan pada pertemuan kabinet yang mengamplifikasi depresiasi Lira.

Pemikiran Erdogan yang dinilai amat eksperimental dan tidak ortodoks dipercaya telah menghancurkan perkembangan yang dibangun Turki selama 20 tahun kepemimpinannya. Hal ini amat krusial karena Erdogan berencana untuk melanjutkan kepemimpinannya di Turki pada tahun 2023. Kegagalan kebijakan dan kebersikerasan Erdogan sejauh ini telah membuat tingkat afirmasi terhadap Erdogan dalam voting opini sementara mengalami penurunan.

“Harga barang naik parah. Saya tidak bisa membeli produk tertentu karena mereka menjadi terlalu mahal. Hal ini terjadi karena Presiden Erdogan, pemerintahan AKP, dan siapapun pendukung yang dengan buta mendukung mereka.” sebut Kaan Acar, 28, penduduk yang menyatakan keinginannya untuk membatalkan rencana liburannya karena kenaikan harga barang.

Kondisi depresiasi terberat Eropa ini diduga terjadi karena Erdogan memang mengatur kondisi pemimpin bank sentral dan pemerintahan untuk mendukung kebijakan suku bunga pinjaman yang tinggi ini. Hal ini dibuktikan dari pemecatan mendadak mantan pemimpin Bank Sentral Turki, Naci Agbal, untuk digantikan oleh Kavcioglu. Hal ini agak mengkhawatirkan karena posisi Bank Sentral dalam sebuah negara harusnya lebih independen, sedangkan Erdogan sendiri telah melakukan pergantian pemimpin Bank Sentral sebanyak tiga kali dalam beberapa tahun terakhir.

Walau krisis Lira sekarang belum menjadi krisis ekonomi yang terbesar dalam sejarah Turki, krisis Lira sekarang ini dipercaya berada dalam tingkat yang berpotensi menjadi krisis terbesar Turki dalam sejarahnya. Hal ini dinilai negatif dengan adanya keinginan Erdogan untuk memperpanjang kepemimpinannya, beberapa ahli menyatakan bahwa ada kemungkinan krisis moneter Turki yang akan tercipta jika keputusan Erdogan tidak diputar balik.

Kondisi yang terjadi di Turki sekarang membuat banyak ahli menerka-nerka kapan Turki akan melakukan kenaikan suku bunga mendadak di masa depannya. Ilan Solot, strategis pasar global di Brown Brothers Harriman, menyatakan bahwa Erdogan kemungkinan besar akan mencapai “breaking point” sebelum melakukan pemutarbalikkan.

Dengan keinginannya untuk maju di tahun 2023, patut dipertanyakan apakah Erdogan akan melakukan perubahan terhadap keinginannya dalam menurunkan suku bunga. Hal ini amat krusial berhubungan adanya seruan dari partai CHP untuk mempercepat dilaksanakannya Pemilu, karena CHP adalah saingan dari partai AKP yang menaungi Erdogan sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *