Amerika Serikat dan Sekutu Tuntaskan Evakuasi dari Afghanistan

Illustrasi evakuasi di Afghanistan. Foto: Harjit Sajjan/Twitter

Pada Senin (30/8), Jenderal Kenneth Franklin McKenzie Jr. mengumumkan selesainya evakuasi AS dari Afghanistan. Hal ini secara efektif mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat yang berlangsung selama kurang lebih 20 tahun.

Tindakan evakuasi dimulai dari perginya 3.000 pasukan AS dan 600 pasukan Inggris ke Bandara Internasional Hamid Karzai Kabul pada tanggal 12 Agustus 2021. Dengan dikirimnya pasukan penyelamat, AS juga menyampaikan pesan pada staf kantor Kedutaan Besar AS di Afghanistan untuk menghanguskan seluruh benda yang memiliki logo atau insignia AS dengan alasan mencegah digunakan dalam tindakan propaganda. 

Satu-satunya cara untuk melakukan evakuasi adalah dengan menggunakan jalur udara karena diblokirnya seluruh daerah perbatasan oleh Taliban. 

Pemimpin Taliban, Zabihullah Mujahid, menyatakan bahwa mereka tidak melarang orang asing untuk pergi dari Afghanistan, tetapi ia akan melayangkan hukuman keras pada orang Afghanistan yang berusaha kabur dari Afghanistan. Dalam konferensi pers yang sama, ia mengatakan bahwa ia tidak akan memperpanjang tenggat waktu kepergian orang asing dari Afghanistan. Menurutnya, hal itu sama saja dengan memperpanjang pendudukan pihak asing di Afghanistan.

Pada tanggal 15 Agustus, kekacauan pendudukan kabul menyebabkan 7 orang meninggal pada kerusuhan di Bandara Kabul. Salah satu korbannya adalah pesepakbola muda, Zaki Anwari, yang kemudian viral di internet. Dilansir dari Al Jazeera, sekitar 170 penerbangan militer terjadi di Afghanistan pada  periode 15-16 Agustus. Negara yang melakukan penerbangan meliputi negara Eropa dan Amerika Utara. Sementara itu Filipina menyatakan bahwa mereka bersedia menampung pengungsi dari Afghanistan.

Periode tanggal 17-22 Agustus membawa kekacauan lebih setelah munculnya video-video dan foto yang menunjukkan ibu-ibu dari anak Afghanistan yang berusaha melempar anak mereka ke helikopter NATO. Hal ini ditanggapi oleh Ben Wallace, Menteri Keamanan Inggris, yang menyatakan bahwa NATO tidak dapat membawa anak tanpa orang tuanya dalam prosedur. Sementara itu, Malaysia dan Australia berhasil mengevakuasi warga negara mereka pada tanggal 18 Agustus. Hingga 22 Agustus, sekitar 28.000 orang berhasil dievakuasi dari Kabul dan 13 negara telah menerima pengungsi.

Pada tanggal 23-24 Agustus terjadi kenaikan drastis dalam jumlah pengungsian, yang didukung oleh evakuasi 21.600 orang yang meliputi Irlandia, Kanada dan Korea Selatan. Korea Selatan juga menerima 380 pengungsi dari Afghanistan. Pada tanggal 26 Agustus, dalam langkah terdesak, Joe Biden menyerahkan daftar nama orang yang harus dievakuasi ke Taliban dengan harapan mereka dapat membantu. Gerakan tersebut dikritik keras oleh warga AS yang menyatakan bahwa Biden memberikan Taliban “daftar orang untuk dibunuh.”

Pada hari yang sama juga, sekelompok teroris menyerang bandara Kabul dengan meledakkan diri di keramaian. Korban jiwa diperkirakan mencapai 170 orang dan korban luka-luka ada 150 orang. Hal tersebut menghambat proses evakuasi yang berjalan.

Menanggapi serangan tersebut, Kanada menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri misi evakuasi mereka. Hal ini diikuti oleh Australia, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Jerman, Hungaria, Belanda, Selandia Baru dan Polandia yang menyatakan bahwa mereka mengakhiri proses evakuasi mereka. Sekitar 12.500 orang berhasil dievakuasi pada tanggal 26 Agustus.

Pada tanggal 28 Agustus, seluruh negara selain AS mengakhiri proses evakuasinya. Hal tersebut memudahkan Taliban untuk mengidentifikasi penduduk lokal yang berusaha kabur dan serangan drone Taliban menewaskan 20 orang pada tanggal 29 Agustus.

Pada tanggal 30 Agustus, pasukan sisa AS di Afghanistan membumihanguskan sisa-sisa perlengkapan di Bandara Kabul. Pembumihangusan ini adalah langkah pencegahan Taliban untuk menggunakan perlengkapan mereka kembali, suatu kesalahan yang terjadi pada pengosongan lapangan udara AS di Afghanistan sebelumnya.

Sekitar 150.000 orang berhasil dievakuasi, dengan sekitar 195 korban jiwa dari operasi evakuasi ini. Jerman menampung 12.000 pengungsi di lapangan Ramstein, sementara AS menampung sekitar 25.000 orang di 4 lokasi berbeda.  Kanada dan Inggris pun masing-masing menerima 20.000 pengungsi. Inggris sendiri menyatakan bahwa mereka hanya akan mengakomodasi pengungsi hingga 5 tahun kedepan saja.

Daftar nama orang yang perlu diselamatkan pun tidak jelas, hal ini menyebabkan beberapa penduduk Afghanistan yang membantu proses evakuasi untuk tidak dapat dievakuasi oleh AS dan sekutunya. Kantor Luar Negeri Inggris sendiri menyatakan bahwa mereka memiliki 5.000 surel belum terbaca  yang dikirimkan penduduk Afghanistan yang meminta pertolongan.

Bagaimanapun berantakannya, fase evakuasi dari Afghanistan telah selesai dilakukan oleh AS dan sekutunya. Pasukan terakhir AS telah terbang, begitu juga dengan ratusan ribu orang lainnya, Afghan dan non-Afghan, meski dengan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit.

Namun, selesainya evakuasi dari Afghanistan bukanlah akhir dari cerita. Sebagian besar orang yang dievakuasi tersebut belum sampai ke negara tujuannya, atau bahkan belum ditentukan nasibnya. Inilah yang kemudian harus menjadi catatan untuk ditangani oleh AS dan sekutunya untuk benar-benar menuntaskan kepergiannya dari Afghanistan.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *