Amerika Serikat: Tanah Kebebasan yang (sedang) Terisolasi

Ilustrasi Donald Trump. Foto: pixabay.com.

Di tengah kepanikan global akibat pandemi, yang mana paling banyak saat ini menginfeksi warga Amerika Serikat, sebagian masyarakat Amerika Serikat justru berdemonstrasi menolak karantina. Demonstrasi anti-karantina telah terjadi di lebih dari selusin negara bagian, yakni di Michigan, Ohio, North Carolina, Minnesota, Utah, Virginia, Kentucky, Wisconsin, Oregon, Idaho, Texas, Arizona, Colorado, Montana, Washington, Washington, New Hampshire, dan Pennsylvania.

Alasan mengapa orang turun ke jalan, meskipun adanya instruksi untuk tidak berkumpul dalam jumlah besar, adalah karena para pengunjuk rasa merasa bahwa langkah-langkah ketat yang diberlakukan oleh pemerintah negara bagian untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 adalah reaksi yang berlebihan. Mereka merasa bahwa tindakan tersebut membatasi pergerakan orang dan bisnis, yang membuat masyarakat merugi. Beberapa orang mengatakan bahwa jika kebijakan ini diterapkan terlalu lama, hal ini akan menghancurkan ekonomi lokal untuk waktu yang panjang. CEO Tesla, Elon Musk, mengatakan, “ini fasis, ini bukan demokrasi, ini bukan kebebasan,” diikuti dengan tweetnya, “BEBASKAN AMERIKA SEKARANG.”

Selain itu, anggota kongres dari Partai Republikan tidak akan menjamin gaji pekerja karena mereka menolak cuti berbayar dengan alasan sakit, sekaligus menentang penerapan kebijakan sosial komprehensif bagi pengangguran yang dipecat akibat pandemi. Pemecatan mereka dan kurangnya bantuan pemerintah, ditambah dengan ketidakpastian ekonomi, semakin memicu demonstrasi anti-lockdown.

Terlepas dari potensi bahaya akibat demonstrasi, tanggapan Trump terhadap demonstrasi sangat mengejutkan. Ia justru mendorong para demonstran, “jika orang-orang merasa seperti itu, Anda diizinkan untuk protes. Beberapa gubernur telah bertindak terlalu jauh, beberapa hal yang telah diterapkan mungkin tidak sesuai.” Ia mengucapkan hal ini dalam Sunday Briefing di Gedung Putih hari Minggu. Ia juga menuliskan cuitan di Twitter yang cukup menghasut para pemrotes seperti “BEBASKAN MICHIGAN,” “BEBASKAN MINNESOTA,” dan “BEBASKAN VIRGINIA.” Tidak hanya itu, ia juga membuat pernyataan kontroversial yang mengatakan bahwa disinfektan dan sinar ultraviolet merupakan dua obat yang manjur menyembuhkan Covid-19.

Kekecewaan atas tindakan Trump tidak hanya dirasakan oleh warga negaranya, tetapi juga berasal dari seluruh dunia, karena ia menuduh World Health Organization (WHO) menutupi penyebaran virus setelah muncul di Cina, dan meminta pertanggungjawaban kepada WHO. Ia juga ingin menghentikan pembiayaan ke PBB. Menanggapi hal itu, kepala PBB mengatakan “bukan waktunya” untuk memotong dana ke WHO. Untuk lebih jauh menguraikan klaimnya, Donald Trump berbicara di konferensi Gedung Putih yang menyatakan bahwa virus itu berasal dari laboratorium virologi di Wuhan, Cina. Ketika ditanya apakah dia telah melihat bukti tentang hal ini, dia berkata “ya, saya punya” tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *