Arab Saudi dan UEA Bertengkar Perkara Minyak di OPEC

Ilustrasi Putra Mahkota UEA Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Foto: Reuters

Dalam peristiwa yang cukup langka, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) bersitegang di OPEC mengenai masalah produksi minyak pada Minggu (04/07) waktu setempat.

Dikutip dari Aljazeera, Arab Saudi menginginkan adanya perpanjangan batas waktu pemotongan produksi minyak selama pandemi COVID-19, dari yang awalnya di bulan April 2022 menjadi akhir tahun 2022.

Selain itu, di dalam rancangan persetujuan OPEC Plus, UEA akan kembali memotong produksi minyak hingga 18%, sementara Arab Saudi hanya 5%.

Merespons wacana tersebut, UEA merasa bahwa perpanjangan waktu pemotongan produksi tersebut sangatlah tidak adil bagi negaranya. Bagi Abu Dhabi, perpanjangan waktu itu akan semakin menyakiti negaranya yang sudah memotong produksi hingga lebih dari 30% selama dua tahun terakhir.

“Kami tidak bisa membuat persetujuan baru dalam kondisi yang sama dan kami punya kedaulatan untuk menegosiasikan persetujuan itu lagi,” sebut Menteri Energi UEA Suhail al-Mazrouei.

Sementara itu, Menteri Energi Arab Saudi Abdulaziz bin Salman menyebut bahwa “kompromi dan rasionalitas”—pemotongan produksi—akan membantu menyelamatkan permintaan minyak dan ekonomi global.

Selama ini, pemotongan produksi minyak OPEC dinilai telah membantu meredamkan gejolak harga minyak yang pernah anjlok drastis saat awal pandemi. Namun, banyak pihak khawatir akan anjloknya harga minyak lagi jika produksi kembali ditingkatkan secara terburu-buru.

Ketegangan Arab Saudi-UEA di OPEC tersebut menandai semakin besarnya perbedaan kepentingan antara kedua negara, padahal keduanya dianggap sangat dekat sebagai sesama negara Arab.

Perbedaan ini semakin kentara dengan mundurnya UEA dari intervensi di Yaman yang dipimpin oleh Riyadh pada tahun 2019. Negara itu juga tetap mengencangkan boikot terhadap Qatar meskipun Arab Saudi telah berdamai dengan mereka pada Januari lalu.

Sementara itu, normalisasi hubungan dengan Israel yang dilakukan oleh UEA tidak diikuti oleh Arab Saudi. Negeri Penjaga Dua Masjid Suci itu malah merevisi aturan perdagangannya untuk mempersulit impor barang yang proses produksinya melibatkan Israel atau ada di zona bebas perdagangan, menantang dominasi UEA sebagai pusat perdagangan Timur Tengah.

Fenomena pertengkaran produksi minyak di antara kedua negara memang belum terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap dinamika kawasan setempat. Namun, dikhawatirkan fenomena tersebut dapat memicu kerentanan bagi penjualan minyak ke depannya di tingkat global, di dunia yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap minyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *