AS dan Tiongkok Sepakati Kooperasi Iklim: Inisiatif Dua Polutan Terbesar Dunia

Ilustrasi John Kerry di COP26. Foto: Ian Forsyth/Getty Images

Dalam langkah yang mengejutkan, kedua negara polutan karbon terbesar dunia, AS dan Tiongkok, telah menyetujui akan diperlukannya kooperasi melawan perubahan iklim. Hal itu mereka sampaikan dalam pernyataan bersama di United Nations Climate Change Conference (COP26) di Glasgow. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyetujui usaha-usaha untuk memperbanyak usaha melawan perubahan iklim dengan “aksi konkrit”.

“Kedua sisi menyadari akan adanya jarak yang jauh antara jumlah usaha yang telah dilakukan dibandingkan tujuan yang ditentukan dalam Paris Agreement jadi kami akan bersama-sama memperkuat aksi melawan perubahan iklim.” sebut Xie Zhenhua, utusan iklim dari Tiongkok yang mengumumkan kesepakatannya pada hari Rabu lalu.

Menurut Xie, AS dan Tiongkok menargetkan untuk merestrukturisasi jumlah karbon emisi dengan mengacu pada Paris Agreement dengan memperkuat target potongan emisi karbon yang lebih tinggi untuk tahun 2025. “Aksi konkrit” yang dinyatakan Xie akan menghasilkan perubahan terbaru dalam tata cara melawan perubahan iklim pada dekade 2020-an.

Perlu diketahui bahwa Tiongkok dan AS adalah penyumbang emisi dan polusi CO2 terbesar di dunia. Sekitar 40% dari polusi karbondioksida di dunia dihasilkan oleh AS dan Tiongkok. Xie menyatakan bahwa hal itu menjadi sesuatu yang mengganjal Tiongkok, yang mana ia kemudian mengklaim bahwa Tiongkok telah menjalankan 30 pertemuan virtual dalam 10 bulan terakhir untuk membentuk inisiatif terbaru.

Utusan Iklim AS John Kerry juga menyatakan bahwa kedua negara juga tidak akan berhenti pada pengurangan emisi karbondioksida saja, tetapi juga telah menyusun rancangan untuk mengurangi emisi metana. Ia menilai bahwa konsensus yang tercipta antara AS dan Tiongkok adalah kesuksesan dari COP26.

“Hari ini kami menyampaikan dukungan terbesar kami terhadap COP26 yang sukses, termasuk beberapa elemen yang akan mempromosikan ambisi, tetapi biarkan saya jelaskan dalam deklarasi ini kita berusaha melangkah ke langkah yang bisa dibangun untuk menutup celah yang ada… Segala langkah penting sekarang dan kita masih memiliki langkah dan perjalanan yang jauh,” sebut Kerry dalam sebuah konferensi pers.

Perubahan Sikap Tiongkok Yang Tidak Terduga

Baru saja minggu lalu, Presiden AS Joe Biden menyatakan bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping berusaha “lari dari tanggung jawab” dengan tidak berpartisipasi dalam COP26. Tiongkok merespons tantangan ini dengan akhirnya mengirimkan utusan ke COP26, namun tidak ada yang akan mengira bahwa Tiongkok akan membawa konsensus ke AS.

“Pernyataan bersama antara AS dan TIongkok adalah bukti bahwa kooperasi adalah satu-satunya pilihan ideal bagi Tiongkok dan AS,” kata Xie dalam merespons pertanyaan yang mempertanyakan kooperasi yang tak terduga ini.

Komitmen yang disampaikan oleh AS dan Tiongkok yang bersifat jangka panjang dan ditujukan untuk menjadi standar dekade 2020-an. Hal ini dipandang sebagai suatu perubahan yang amat diterima oleh dunia. 

Biden dan Xi Jinping juga telah merencanakan pertemuan di masa depan yang mungkin meningkatkan optimisme iklim yang diciptakan dari pernyataan bersama pada hari Rabu lalu.

“Manusia kini sedang dihadapkan dengan tantangan terbesar yang pernah ada, yakni krisis iklim, lalu Tiongkok dan AS akan bekerja sama dengan lebih dekat, dan menurut kami ini adalah sesuatu yang sangat baik terjadi di COP, kami menerima deklarasi bersama ini, menurut saya ini adalah berita yang baik untuk kira.” sebut Frans Timmermans, wakil presiden eksekutif European Green Deal.

Antonio Guterres, sekretaris jenderal PBB pun telah menyampaikan dukungannya melalui cuitan di Twitter.

Walau begitu, tidak semua pihak menyatakan kepuasan atas hasil dari pernyataan bersama ini. Beberapa pihak menilai bahwa ada kekurangan persiapan akuntabilitas dan komitmen yang masih mengawang dalam memotong emisi gas rumah kaca. 

Pemimpin dari COP26 sendiri, Alok Sharma, menyatakan bahwa masih banyak isu yang belum terselesaikan. Menurutnya, perkembangan sejauh ini memang menjanjikan, tetapi tidak cukup untuk menciptakan masa depan yang stabil untuk generasi berikutnya. Susunan target iklim dari COP26 dihitung masih akan memberikan kenaikan suhu dunia sebesar 2,4 derajat Celcius pada tahun 2100 yang masih dinilai signifikan dan katastrofis. 

COP26 berhasil mempertemukan AS dan Tiongkok dalam sebuah komitmen yang tidak terduga. Konsensus antara kedua negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia ini memang menjadi suatu hal yang menjanjikan. Kepemimpinan kedua negara superpower ini diharapkan akan dapat menjadi contoh komitmen nyata bagi negara-negara lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *