Biden Masih Terdiam, Korea Utara Lanjutkan Uji Coba Misil Balistik

Kim Jong-Un dengan misil balistik Korea Utara. Foto: AFP

Korea Utara kembali lakukan uji coba misil balistik pada hari Kamis (25/3) waktu setempat. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, dalam konferensi persnya yang juga diamini oleh pihak Korea Selatan dan Amerika Serikat.

“Uji coba misil balistik pertama dalam kurun waktu kurang dari setahun ini menghadirkan ancaman yang besar atas stabilitas dan perdamaian Jepang dan wilayah sekitarnya, serta telah melanggar resolusi PBB,” ujar Suga dalam konferensi pers yang disiarkan oleh NHK.

Uji coba ini merupakan bagian dari serangkaian uji coba yang dilakukan Korut. Pada akhir pekan kemarin, Korut juga telah melakukan uji coba misil jelajahnya. 

Dilansir dari Reuters, Leif-Eric Easley, profesor hubungan internasional Universitas Ewha, meyakini bahwa Korut sedang mencari tahu sejauh mana mereka dapat terhindar dari kecaman dunia internasional. Terlebih, resolusi Dewan Keamanan PBB telah secara eksplisit menyatakan larangan untuk Korut mengembangkan misil balistik.

“Dengan kembalinya rangkaian uji coba berbagai misil yang dilakukan oleh Korea Utara, menjadi sinyal bahwa mereka (Korea Utara) sedang menguji seberapa jauh mereka dapat melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.”

Dilansir dari Aljazeera, Korut menembakkan misil balistiknya sebanyak dua kali ke arah Timur pada pukul 7 pagi waktu setempat. Misil balistik pertama menjelajah sejauh 420 km di udara, dengan misil balistik kedua berhasil menjelajah 10 km lebih jauh. Keduanya jatuh di sekitar laut Jepang. 

Korea Selatan Bernegosiasi, Amerika Serikat Sedang Evaluasi

Kendati ada peningkatan upaya koersif yang nyata dari Korut, Korsel dinilai tidak akan mengambil langkah gegabah. Easley meyakini bahwa sejauh ini, pemerintahan Moon justru telah melakukan peningkatan upaya pendekatan dengan cara damai.

Sedangkan Easley menilai AS sendiri saat ini masih berada dalam tahap mengevaluasi situasi Korut, dan belum akan mengambil langkah-langkah besar sebelum evaluasi tuntas. 

“Pemerintahan Moon belakangan ini justru meningkatkan upaya pendekatan dengan cara damai dan pemerintahan Biden tampaknya akan menuntaskan evaluasi situasi di Korea Utara sebelum mengambil langkah besar,” ujar Easley.

Kendati demikian, Harry Kazianis, Direktur Senior Studi Korea di Center for the National Interest, menilai AS harus segera menuntaskan evaluasinya dan mengambil langkah untuk meredam pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB yang dilakukan Korut. Hal ini agar Kim tidak terus-terusan meremehkan Biden, yang jika hal ini berlanjut akan dapat berakibat fatal.

Uji coba misil balistik terbaru yang dilakukan Korut tampaknya menjadi reaksi lanjutan dari Kim setelah menilai pemerintahan Biden tidak merespon serius uji coba misil jelajahnya yang dilakukan di akhir pekan. Pemerintahan Kim, seperti yang dilakukan pada era Trump, akan bereaksi sesuai dengan respon AS atas tindakan yang mereka lakukan. 

Meskipun langkah Biden yang terkesan meremehkan sebenarnya adalah upaya untuk tidak memicu respon berlebihan dari pihak lawan, Korut justru akan melihat preteks dari masa lampau, dan kemudian menggiring situasi kembali ke masa-masa kelam tahun 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published.