Cyberpunk, Kapitalisme Tahap Akhir, dan Bahaya Kuning: Pandangan Sebelah Mata terhadap Masyarakat Asia dalam Budaya Pop Barat

Ilustrasi Blade Runner 1982. Foto: Warner Bros

“Revolusi industri dan segala konsekuensinya telah menjadi bencana bagi ras manusia,” tulis seorang pria dalam sebuah manifesto yang sedang saya baca. Baru kalimat pertama, tapi saya sudah bertanya: Ras yang mana?

Sebagai penikmat budaya populer, tentunya saya merasakan sepercik kebanggaan saat melihat representasi Asia di dalam sebuah film hollywood. Seperti melihat diri sendiri, tapi versi yang lebih keren. Namun, sangat disayangkan, representasi itu tak selamanya membanggakan.

Keberadaan karakter berkulit ‘kuning’ sudah tak asing lagi dalam cerita-cerita fiksi ilmiah, tak terkecuali fiksi ilmiah Barat. Namun, alih-alih memberikan ruang representasi yang baik bagi orang Asia, karakterisasi kulit kuning dalam fiksi ilmiah Barat kerap menjadi ladang stereotip yang menyesatkan tentang masyarakat Asia, khususnya–namun tidak terbatas pada–Asia Timur.

Beberapa dari kita pasti pernah menyaksikan film produksi A24 yang berjudul ‘Ex Machina’. Kisah dalam film ini berpusat pada seorang programmer yang memiliki ‘seorang’ pelayan bernama Kyoko. Anehnya, Kyoko yang digambarkan sebagai perempuan Asia ini ternyata hanyalah seperangkat robot yang diciptakan khusus untuk melayani majikannya. Ia bahkan tidak diprogram untuk berbicara bahasa Inggris (yang notabene merupakan ‘standar peradaban’ menurut mereka yang menggunakannya), sebuah pernyataan implisit bahwa orang Asia tak lebih tinggi derajatnya dari ‘orang Barbar’.

Tentang Supremasi, Sebuah Retrospeksi

Familiar dengan istilah Yellow Peril? Yellow Peril atau Bahaya Kuning muncul sebagai reaksi dunia Barat terhadap kebangkitan peradaban Asia yang mengancam supremasi kulit putih. Pasalnya, kekuatan asing ini dianggap menghambat tatanan kolonial Barat yang menindas sejak abad ke-15. 

Istilah ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1897 oleh seorang sosiolog Rusia bernama Jacques Novikow melalui esainya yang berjudul Le Péril Jaune” (The Yellow Peril). Esai ini bahkan dijadikan alat propaganda oleh Kaisar Wilhelm II dalam rangka menghasut kekaisaran-kekaisaran di Eropa agar melancarkan invasi terhadap Tiongkok. Mulai sekarang hati-hati ya kalo nulis paper, mana tau nanti ada petinggi Sunda Empire yang baca.

Kita dapat mengupas sejarah Bahaya Kuning ini sampai ke abad ke-19 ketika banyak pekerja imigran beretnis Tionghoa berbondong-bondong datang ke Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Selandia Baru setelah disetujuinya Perjanjian Burlingame. Para pekerja ini membawa etos kerja yang memicu reaksi bernada rasis akibat kesediaan mereka untuk diupah di bawah rata-rata. Reaksi ini bahkan membuat Kongres Amerika Serikat meratifikasi the Chinese Exclusion Act pada tahun 1882 untuk meredakan kekhawatiran pekerja kulit putih sekaligus mempertahankan ‘kemurnian ras’.

Di sisi dunia yang lain, abad ke-19 diakhiri dengan tumpahnya darah 100 ribu orang (termasuk tentara dan sipil) di Beijing akibat Pemberontakan Boxer. Huru-hara yang melibatkan Dinasti Qing dan Aliansi Delapan Negara tersebut membidik dan menewaskan 200 orang misionaris Barat. Pengepungan Legasi Internasional tahun 1900 juga menggemparkan dunia serta memperkuat stigma yang melekat pada sentimen Yellow Peril.

Selain itu, salah satu momentum yang memperkuat ketakutan terhadap orang Asia adalah kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905. Hampir tidak ada yang mengira negara sekecil dan seterpencil Jepang bisa mengalahkan Kekaisaran Rusia yang memiliki teritori dari Barat sampai ke Timur. Kemenangan dalam perang yang disebut-sebut sebagai World War Zero itu menempatkan Jepang di singgasana pemimpin, pelindung, dan cahaya Asia selama beberapa tahun.

Cyberpunk dan Kapitalisme Tahap Akhir

Melaju melalui lorong waktu ke tahun 70-an, perekonomian Jepang pascaperang berkembang pesat dengan industri otomotif dan teknologinya. Peristiwa ini biasa dirujuk sebagai Japanese Economic Miracle, salah satu buah Perang Dunia II yang tidak sebombastis Fat Man dan Little Boy.

Pernah melihat foto ini?

Wanita itu adalah Mariya Takeuchi, ikon musik City Pop yang tiba-tiba memenuhi rekomendasi YouTube semua orang setelah tiga puluh tahun hilang terkubur. Pada masanya, ia melambangkan suatu fenomena kebangkitan budaya Jepang yang menjadi ujung tombak kepopuleran budaya Asia di dunia Barat.

Saat Mariya sibuk menaiki puncak karirnya, di belahan dunia lain, para penulis science fiction sedang mengalami masa produktif dalam hal kepengarangan. Tak dapat dipungkiri bahwa daya tarik kebudayaan selalu berpusat pada sentra pergerakan uang. Alhasil, Jepang pun bermetamorfosis menjadi teladan pop culture kala itu.

Akan tetapi, mengingat masih terbatasnya media penyampaian informasi lintas benua, penulis-penulis ini hanya mendapatkan pemahaman yang setengah-setengah (dan tentunya sudah disunting oleh bagian redaksi) tentang masyarakat Asia. Ditambah dengan ketakutan tak berdasar mereka pada ‘supremasi kulit kuning’ (yang tentu saja khayali dan absurd), lahirlah aliran cyberpunk.

Di dalam karya-karya cyberpunk yang dipelopori oleh William Gibson dan Ridley Scott, masyarakat Asia mengalami dehumanisasi melalui penggambaran yang terlalu menitikberatkan industrialisasi dan otomatisasi. Ada satu istilah yang kalau kata teman saya “edgy dan catchy,” yaitu Techno-Orientalism. Penggunaan estetika Asia dalam latar cyberpunk, futuristik, dan dystopian menjadi tonggak berdirinya subgenre ini. Singkatnya, dengan aksesoris perkembangan teknologi, Asia diibaratkan sebagai sebuah pabrik yang menghasilkan buruh murah dengan tingkat efisiensi tinggi. Mengutip tanggapan Takeo Rivera mengenai pembunuhan Vincent Chin di Detroit pada tahun 1982, 

Techno-oriental fears are mapped as easily upon Japanese people as the Japanese cars: mass reproducible, intrusive, and overwhelming the more ‘human’ white man.”

Dalam Blade Runner karya Scott dan Neuromancer karya Gibson, cerita yang disuguhkan tak dapat dipisahkan dari penggambaran Asia sebagai pusat kemerosotan moral di tengah tumbuh suburnya perusahaan-perusahaan multinasional. Masyarakat ‘cyberspace’ yang terglobalisasi, transnasional, dan tak berbatas sekaligus bernada rasial ini merupakan pengejawantahan dari kegelisahan mengenai dunia Timur yang melandasi konsepsi masyarakat Barat tentang postmodernitas yang berdampingan dengan late-stage capitalism (kapitalisme tahap akhir). 

Di masa depan–atau masa kini–yang kental dengan kapitalisme tahap akhir, komoditas bukanlah lagi barang maupun jasa, akan tetapi informasi yang diperdagangkan. Melalui penggambaran peradaban Asia yang penuh keruh dengan kapitalisme tahap akhir, dapat diasumsikan bahwa karakter Asia dilucuti dari kemanusiaannya.

Dengan kata lain, eksistensi ‘manusia’ Asia secara ontologis telah direduksi menjadi sekadar kepingan informasi, bukan lagi untaian emosi. Pengosongan nurani inilah yang melatarbelakangi dehumanisasi karakter Asia dan techno-Orientalism secara umum.   

Kemunculan karakter berdarah Asia hanya dijadikan penggerak dan pelumas plot, jauh dari niatan apresiasi maupun inklusi. Dalam karya-karya tersebut, orang Asia diberikan peranan yang ambigu secara moral, seperti biohacker atau penyelundup organ tubuh manusia. Berikut secarik kutipan dari ‘Neuromancer’:

“In Japan, he’d known with a clenched and absolute certainty, he’d find his cure. In Chiba. Either in a registered clinic or in the shadowland of black medicine. Synonymous with implants, nerve-splicing, and microbionics, Chiba was a magnet for the Sprawl’s techno-criminal subcultures.”

Seakan masih tak cukup merendahkan, perempuan Asia pun mengalami seksualisasi secara kultural. Salah satu contoh konkretnya adalah pakaian tradisional Cheongsam yang bertransformasi menjadi lambang seksualitas akibat akulturasi dengan budaya Barat. Rasanya aman untuk mengatakan bahwa budaya Asia sudah tidak ada harga dirinya lagi di hadapan bangsa yang katanya paling beradab di muka bumi.

Situasi Penuh Benci

Meski meledaknya Bahaya Kuning tak terdengar seperti berita kemarin sore, isu kebencian rasial terhadap orang Asia bukannya sudah reda. Beberapa bulan terakhir, cyberspace tengah diguncang oleh kejahatan rasial terhadap penduduk berdarah Asia di Amerika Serikat. Menurut Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme Cal State University San Bernardino (2021), kejahatan rasial terhadap orang Asia di 16 kota besar di Amerika Serikat meningkat sebesar 164% dari tahun lalu. Tak bisa terlupa juga bahwa bulan Maret silam, terjadi penembakan yang menewaskan enam orang Asia di Atlanta. Besar kemungkinan bahwa tragedi tersebut diilhami oleh perkataan seorang pria yang menyebut COVID-19 sebagai ‘kung flu’dan membangkitkan sentimen Yellow Peril gaya baru di tengah masyarakat Barat. Tak perlu ditebak, tentunya kasus ini merebak dengan cepat di dunia maya bak kebakaran hutan.

Populernya isu-isu politik identitas di platform ‘diskusi’ daring seperti Twitter merupakan salah satu faktor penting yang mampu menginisiasi perubahan budaya populer Barat ke arah ‘political correctness’. Meski diiringi pro dan kontra, cancel culture pun turut berperan sebagai organ represif yang secara tidak langsung mengubah arah gerak kebudayaan. Aktivitas warganet ini menjadi sebuah faktor yang mendorong para pelaku seni untuk mulai memperbaiki citra masyarakat Asia dalam karya-karya mereka. 

Sebut saja rumah produksi kelas kakap Marvel Studios dalam penggarapan ‘Shang Chi and the Legend of the Ten Rings’ yang mengganti tokoh Dr. Fu Manchu–seorang supervillain penjelmaan dari Yellow Peril–dengan karakter Mandarin (diperankan oleh mas-mas yang sering muncul di film Wong Kar Wai). Karakterisasi Mandarin dinilai lebih netral apabila dibandingkan dengan Dr. Fu Manchu yang sarat akan stereotip rasis sisa-sisa peninggalan nenek moyang sejak penampilan pertamanya di 1973. Semoga saja, perubahan ini dapat menjadi awal mula dari sebuah industri budaya yang lebih inklusif dan toleran.

Sebagai pelaku dan penikmat seni, sudah seharusnya kita turut serta dalam membangun lingkungan yang sehat bagi penikmat seni maupun pelaku seni lainnya. Tak hanya melalui affirmative action dan hasrat intelektual untuk menjadi politically correct, namun juga internalisasi bahwa semua manusia diciptakan (atau berevolusi) sederajat tanpa ada satu kelompok yang lebih superior dibanding kelompok lainnya. Tak kalah penting untuk mengingat bahwa dalam perjuangan menghapus penindasan, kita tidak boleh terlena dan malah menjadi penindas selanjutnya.

Referensi

Gibson, William. Neuromancer. New York City: Ace, 1984.

Martin, Michael T. dan Howard Cohen. “« Late Capitalism » and Race and Neo-colonial Domination: Discontinuities in Marxist Theory,Présence Africaine, Nouvelle Série (1980). Hlm. 29-60.  

Jameson, Fredric. Postmodernism, or, the Cultural Logic of Late Capitalism. University Press: Durham: Duke, 1991.

Paner, Isabel. “The Marginalization and Stereotyping of Asians in American Film.”  Tesis Dominican University of California, San Rafael, 2018.

Roh, David S. et al. Techno-Orientalism: Imagining Asia in Speculative Fiction, History, and Media. New Brunswick: Rutgers University Press, 2015.

Said, Edward. Orientalism. New York City: Pantheon Books, 1978.

Sohn, Stephen Hong. “Introduction: Alien/Asian: Imagining the Racialized Future,” MELUS 33 (2008). Hlm. 5-22.

Tamara C. Ho. “Articulating Asia in SF,Science Fiction Studies 44 (2017). Hlm. 587-591.

Whalence, Terence. “The Future of a Commodity: Notes toward a Critique of Cyberpunk and the Information Age (L’Avenir D’une Marchandise: Notes Sur Cyberpunk Et L’Ère De L’Information),” Science Fiction Studies 19 (1992). Hlm. 75-88.

Yu, Timothy. “Oriental Cities, Postmodern Futures: “Naked Lunch, Blade Runner”, and “Neuromancer”,MELUS 33 (2008). Hlm. 45-71. 

Andrea Anggita Larasati adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dapat ditemukan di Instagram melalui nama pengguna @andylarasati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *