Di Tengah Krisis, Abiy Ahmed Kembali Menangi Pemilu Ethiopia

Ilustrasi pemenang Pemilu Ethiopia, Abiy Ahmed. Foto: Britta Pedersen/Alamy

Sabtu (10/7), panitia Pemilu Ethiopia mengumumkan kemenangan besar Abiy Ahmed sebagai perdana menteri baru Ethiopia. Ia meraih 410 dari 419 kursi yang diperebutkan dalam Pemilu Ethiopia

Pemilu ini sempat ditunda dua kali karena pandemi COVID-19 sebelum akhirnya dijalankan pada tanggal 21 Juni 2021 silam. Pemilu ini dimenangkan oleh partai Abiy Ahmed, yakni Prosperity Party (PP).

Pemilu sempat mengalami gangguan akibat boikot partai oposan PP, namun berhasil dilaksanakan oleh National Electoral Board of Ethiopia (NEBE).

Keberhasilan Pemilu ini dianggap mampu mengembalikan kestabilan di Ethiopia. Walaupun begitu banyak, salah satunya Tsedale Lemma, penemu media bulanan Addis Standard di Ethiopia menyatakan bahwa ada implikasi yang berbahaya di balik keberhasilan Pemilu.

“Jauh dari memberikan legitimasi ke pemerintahan dan stabilitas ke negara, Pemilu yang dihadapi boikot oposisi dan di tengah peperangan ini malah akan memisahkan Ethiopia, yang membawa bencana.” tulis Lemma dalam sebuah tulisan op-ed di New York Times.

Kenyataannya memang harus diterima bahwa Pemilu ini memiliki banyak kendala. Walau telah menghasilkan hasil kemenangan mutlak terhadap kemenangan Ahmed, terdapat 64 daerah konstituen yang belum menjalankan Pemilu akibat masalah keamanan.

Abiy harus memotong pendek selebrasi kemenangannya dan langsung turun ke Tigray untuk menghadapi masalah terbesar yang mengancam legitimasi Ethiopia itu sendiri, yakni pemberontakan Tigray.

Sekarang, para pengamat menganggap bahwa Abiy memiliki dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah untuk menggunakan posisinya untuk mengamankan mandatnya dan menjatuhkan oposisi yang melawannya. Sedangkan pilihan kedua adalah untuk berasumsi bahwa mandatnya aman dan berproses dengan mengkonsolidasi daerah oposisi dan bernegosiasi tanpa kekerasan.

Tewodrose Tirfe, ketua Amhara Association of America, menyatakan bahwa transisi dan kestabilan demokrasi Ethiopia semua bergantung pada keputusan PM Abiy Ahmed untuk melakukan dialog nasional untuk menggantikan sistem federal yang dinilai telah rusak.

Permasalahan di Tigray bukan satu-satunya hal memusingkan yang harus diurusi oleh Ahmed di masa kepemimpinannya nanti, melainkan ada permasalahan internal dan konflik dengan Sudan dan Mesir mengenai pembangunan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Kondisi Ahmed yang terisolasi secara internasional di daerah yang rawan konflik membuat keruntuhan Ethiopia sebagai negara yang memiliki legitimasi menjadi risiko yang memungkinkan di masa depan.

Setelah kemenangan besar di Pemilu, Abiy Ahmed tidak memiliki waktu banyak untuk berselebrasi. Ethiopia masih berada dalam rentetan krisis domestik dan regional yang perlu ditangani. Tentunya, dalam menangani krisis tidak hanya diperlukan kemampuan elektoral, tetapi juga kepemimpinan nasional yang kembali diuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *