Diselimuti Kecurigaan, Kamp Pengungsi Rohingya Hangus Terbakar

Ilustrasi kebakaran kamp Rohingya di Bangladesh Foto: Shafiqur Rahman/AP Photo

Pada Senin (22/3) dini hari waktu setempat, kebakaran besar menghancurkan kamp pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Dilaporkan oleh BBC, Kebakaran di kamp pengungsi Rohingya yang terbesar itu menyebabkan setidaknya 15 korban tewas. Selain itu, 550 orang mengalami luka-luka dan 400 masih hilang.

Dikutip dari CNN Indonesia, kebakaran tersebut disinyalir berasal dari api yang menyala di salah satu dari 34 kamp pada tengah malam. Setelahnya, kobaran api semakin cepat merambat ke tiga kamp lainnya, terutama karena adanya tabung gas yang meledak.

Kondisi di kamp saat kebakaran sangat kacau. Menurut sukarelawan untuk Save the Children Tayeba Begum, “Orang-orang berteriak dan berlarian kesana kemari. Anak-anak juga menangis mencari keluarga mereka,” ujarnya.

Kekacauan akibat kebakaran tersebut juga semakin diperparah oleh adanya kawat berduri di sekeliling kamp, menjadikan anak-anak terjebak di dalam kamp.

“Saya menyaksikan sendiri orang terbakar habis. Saya ingin membantu mereka. Saya ingin menyelamatkan mereka, walaupun saya bisa meninggal,” ujar Saiful Arakani, fotografer sekaligus sukarelawan di kamp tersebut.

Akibat bencana tersebut, 900 tenda tempat tinggal dari 7.400 pengungsi rata dengan tanah. Selain itu, 40.500 hingga 50.000 pengungsi terdampak secara signifikan, seperti kehilangan harta benda hingga keluarga.

Pola Kebakaran Yang Mencurigakan

Di balik perasaan pilu, kebakaran tersebut mengundang rasa curiga dari sejumlah pegiat HAM.

Dikutip dari CNN Indonesia, pengamat Amnesty International untuk kawasan Asia Selatan Saad Hammadi merupakan satu di antara pihak yang mencurigai adanya permainan pihak tertentu dibalik kebakaran kamp Rohingnya tersebut.

Pasalnya, kejadian kebakaran di kamp kerap terjadi akhir-akhir ini.

“Frekuensi kebakaran di kamp-kamp ini terlalu mencurigakan, terutama ketika hasil penyelidikan sebelumnya belum diketahui, dan kebakaran terus berulang,” ujarnya.

Terjadinya kebakaran tersebut juga berbarengan dengan adanya upaya pemerintah Bangladesh untuk merelokasi para pengungsi Rohingya ke pulau Bhasan Char, pulau terpencil di Teluk Bengal, karena Cox’s Bazar sudah penuh.

Cox’s Bazar sendiri sebelumnya merupakan tempat pengungsian utama orang Rohingya yang kabur dari persekusi dan pembantaian oleh Tatmadaw, militer Myanmar, sejak 2017. Lebih dari 800.000 orang telah tinggal di daerah itu sehingga menjadikannya sebagai lokasi kamp pengungsi terbesar di dunia.

Meskipun demikian, kondisi kamp pengungsian di Cox’s Bazar masih belum dapat dikatakan “baik”. Pemerintah Bangladesh pun juga gerah dengan keberadaan pengungsi Rohingnya yang dianggap terlalu penuh dan mengganggu masyarakat asli setempat sehingga membatasi hubungan kamp dengan dunia luar hingga berusaha memindahkan penghuninya ke Bhasan Char.

Tidak mengherankan jika kebakaran yang terjadi akan mengundang rasa curiga akan adanya foul play dari pihak tertentu, terutama yang merasa dirugikan atas adanya kamp tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.