Egoisme Vaksin Barat dan Keberhasilan Diplomasi Vaksin Tiongkok

Ilustrasi diplomasi vaksin Tiongkok. Foto: Reuters

Dunia telah memecahkan rekor baru dalam memproduksi vaksin. Dalam waktu kurang dari setahun telah dihasilkan vaksin untuk pandemi COVID-19 yang sedang melanda dunia. Bahkan, per Juni 2021 tidak hanya dihasilkan satu atau dua jenis vaksin, melainkan 17 vaksin yang sudah disetujui penggunaannya oleh setidaknya satu negara. Lebih dari 100 kandidat vaksin lainnya sedang melalui berbagai tahapan penelitian dan uji klinis. 

Namun, berlawanan dari anggapan umum, hal ini tidak kemudian berarti keberhasilan vaksinasi secara global. Negara-negara yang terlebih dahulu sukses melakukan vaksinasi adalah negara-negara Barat. Israel misalnya, adalah negara dengan proporsi populasi yang paling banyak divaksinasi, dengan 57% dari seluruh penduduknya telah divaksinasi secara penuh.

Hal ini disebabkan negara-negara Barat, yang tentunya memiliki keunggulan teknologi dalam penelitian vaksin, telah memesan sejumlah vaksin terlebih dahulu. Lebih dari 90% vaksin Pfizer/BioNTech akan dikirim ke negara-negara Barat, dan 100% dari Moderna. Beberapa negara seperti AS, Inggris, dan Kanada bahkan telah mengamankan total jumlah vaksin untuk memvaksinasi populasinya beberapa kali. AS dapat memvaksinasi seluruh warganya dua kali, Inggris tiga kali, bahkan Kanada hingga lima kali.

Sebuah estimasi bahkan memperkirakan bahwa negara-negara maju di dunia yang totalnya hanya mencapai 16% dari populasi dunia, telah mengamankan 4.2 miliar dosis vaksin. Sementara itu, negara-negara dunia ketiga yang tidak memiliki teknologi tinggi untuk melakukan riset vaksin dari awal, hanya mendapatkan sedikit. 

Tindakan ini, tanpa dapat dicegah, mengesankan bukan hanya nasionalisme vaksin, tetapi juga egoisme vaksin negara-negara Barat di tengah krisis global—yang sebenarnya juga telah terjadi dalam kasus-kasus penyebaran wabah sebelumnya seperti H5N1, H1N1, dan lainnya.

Meskipun begitu, dapat dipahami pula bahwa hal tersebut terjadi dipengaruhi oleh bentuk negara-negara Barat yang semuanya berupa demokrasi, selain juga karena mereka mengalami gelombang pandemi yang cukup cepat dan parah. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggungjawab bagi pemimpin-pemimpin Barat, untuk mengamankan suplai vaksin bagi warganya. Jika tidak, maka dapat dibayangkan approval rating dan dukungan publik yang memudar, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap prospek elektoral kedepannya.

Namun, dunia kini telah banyak berubah, terlebih sejak lebih dari satu dekade lalu terdapat epidemi. Sebagai alternatif dari vaksin produksi negara-negara Barat, atau lebih spesifiknya sekutu AS, terdapat beberapa produsen vaksin yang juga telah berhasil cukup awal, yakni Tiongkok dan Rusia. Banyak pula negara berkembang seperti India hingga Kazakhstan yang sedang mengembangkan vaksinnya sendiri.

Dalam hal ini, negara-negara tersebut, khususnya Tiongkok, melakukan pendekatan yang tampak kontras dengan negara-negara Barat. Khususnya pada bulan Maret dan April, tingkat vaksinasi Tiongkok terbilang lambat, dengan total sekitar 200 juta dosis yang telah disuntikkan. Jumlah tersebut masih jauh dari target 560 juta dosis per bulan Juni dan relatif terhadap populasi 1.4 miliar jiwanya. Padahal, Tiongkok merupakan salah satu produsen vaksin utama yang telah memiliki empat jenis vaksin: dua dari Sinopharm, satu Sinovac, dan satu lagi CanSino.

Lambatnya tingkat vaksinasi di Tiongkok disengajakan terjadi sebagai kompensasi terhadap upaya distribusi vaksin Tiongkok di dunia, yang  berada dalam kerangka diplomasi vaksin Tiongkok. Di tengah perebutan suplai vaksin dunia, yang tentunya dimenangi oleh negara-negara maju, Tiongkok tampil menjadi jawaban bagi negara-negara dunia ketiga.

Beijing disebut telah menjanjikan lebih dari setengah miliar dosis bagi konsumsi luar negeri. Per 30 April, lebih dari 80 negara telah menerima vaksin dari Tiongkok, 53 diantaranya bahkan menerimanya secara gratis. Sebagian besar vaksin, tentu saja, diperuntukkan bagi negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tiongkok telah mengirimkan 143 juta vaksin ke Amerika Latin. Indonesia sendiri juga telah memesan 140 juta vaksin Tiongkok, dan telah menyepakati lisensi dengan Sinovac untuk memproduksi vaksinnya di dalam negeri.

Pemberian vaksin dalam jumlah besar ini tentu tidak dialokasikan secara asal-asalan. Fungsi pertama dari pemberian vaksin ini lebih sebagai soft power, bahwa Tiongkok kini juga bisa menyaingi Barat dalam bidang-bidang berteknologi tinggi seperti kesehatan dan dapat menjadi kawan yang diandalkan. Ditemukan bahwa dari 56 negara awal yang mendapat janji vaksin dari Xi Jinping, hanya satu diantaranya yang tidak terlibat dalam Belt and Road Initiative (BRI). Bahkan, terdapat suatu sebutan khusus bagi diplomasi vaksin di BRI ini, yakni Health Silk Road.

Namun lebih dari itu, diplomasi vaksin juga dapat menjadi stick dan bukan carrot, tergantung penggunaannya. Misalnya, dengan banyaknya negara-negara kecil Amerika Latin yang mengakui Taiwan, pengalihan pengakuan diplomatik seringkali menjadi syarat penerimaan vaksin Tiongkok. Belakangan ini, tiga negara di Amerika Latin baru saja mengubah pengakuan diplomatiknya dengan tawaran vaksin, yakni Panama, El Salvador, dan Republik Dominika. 

Sementara itu, satu-satunya negara Amerika Latin yang cukup signifikan dan masih mengakui Taiwan adalah Paraguay, yang terus ditawari vaksin oleh Tiongkok. Namun Paraguay bertahan sejauh ini, dan akibatnya tertatih-tatih dalam vaksinasi.

Ketika negara lain telah memulai vaksinasi, Paraguay baru saja mendapat vaksin pertamanya dari COVAX pada 19 Maret lalu, dan hingga kini baru memvaksinasi kurang dari 1% dari tujuh juta rakyatnya. Melihat kondisi ini, AS tetap menekankan Paraguay untuk tidak mengubah pengakuan diplomatiknya, tetapi tetap dengan tidak memberikan satu dosis pun.

Belakangan ini, AS mulai mengubah tingkahnya. Bulan lalu, pemerintah AS mendorong produsen vaksin untuk melepaskan lisensi mereka agar siapapun dapat memproduksi vaksinnya. Selain itu, pemerintah AS juga merencanakan pemberian 25 juta dosis vaksin stok AS kepada negara yang membutuhkan.

Meskipun begitu, diragukan bahwa perubahan perilaku AS dan negara-negara Barat lainnya akan membawa banyak perubahan. Mereka ibarat pahlawan kesiangan, sementara Tiongkok telah meraih simpati banyak negara dengan diplomasi vaksinnya. Tiongkok kini telah berubah di mata dunia dari sumber pandemi menjadi penyelamat. Maka dalam hal ini, Tiongkok yang lebih berani dalam mengambil langkah, telah berhasil dari berbagai segi.

Ikhlas Tawazun adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia dan Editor-in-Chief Kontekstual. Dapat ditemui di sosial media dengan nama pengguna @tawazunikhlas

Leave a Reply

Your email address will not be published.