Evergrande Bangkrut di Tiongkok, Berpotensi Mengulang Resesi 2008 di AS

Ilustrasi gedung Evergrande Center di Shanghai. Foto: Hector Retamal/AFP via Getty Images

Pada hari Kamis (23/9), perusahaan real estate Tiongkok Evergrande harus membayar tagihan bunga obligasi utangnya sebesar US$ 84 juta. Tagihan ini menjadi satu lagi beban yang harus dibayar oleh Evergrande, yang juga belum membayar beberapa kewajibannya yang lain. 

Perusahaan asal Tiongkok itu sedang mengalami kesulitan untuk membayar beban utang mereka menggunakan aset cair dan hal ini menyuarakan kekhawatiran dalam dunia finansial Tiongkok. Evergrande kini terjerat utang sebesar US$ 300 miliar dan menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka tidak dapat membayarnya dengan tepat waktu. Sebelumnya, perusahaan tersebut harus membayar para investor dalam bentuk properti sebab mereka tidak memiliki uang untuk membayar beban perusahaannya itu.

Kondisi ini mungkin mengingatkan kita pada jatuhnya perusahaan Lehman Brothers di tahun 2008 yang menyebabkan krisis finansial. Bangkrutnya Evergrande diduga akan membawa efek tidak hanya bagi ekonomi Tiongkok, tetapi juga ekonomi dunia.

Evergrande sendiri adalah perusahaan real estate yang memulai operasinya pada tahun 1996 di Guangzhou, Tiongkok. Sekarang mereka telah berkembang dan menjadi perusahaan yang bergerak di berbagai bidang selain real estate. Salah satu proyek terbesar Evergrande adalah klub sepakbola Tiongkok Guangzhou F.C.

Potensi Kolaps Evergrande

Evergrande hingga kini menjadi salah satu perusahaan dengan proyek terbanyak di Tiongkok, dengan proyek sejumlah 1.300 proyek dalam 280 kota yang berbeda. Jika mereka dipaksa kolaps, maka proyek-proyek ini akan terbengkalai dan mengakibatkan kerugian besar terhadap pelanggan dan investor. Bahkan, hal ini juga diperkirakan dapat menyebabkan krisis finansial di negara Tiongkok.

Efek yang akan dirasakan dari kolaps adalah orang-orang yang memesan proyek telah menanamkan deposito terlebih dahulu. Deposito yang telah mereka tanam akan menjadi sia-sia jika proyek-proyek tersebut terbengkalai. Selain itu, perusahaan-perusahaan pembangunan yang telah bekerja sama dengan Evergrande akan mengalami kerugian besar sebab proyek mereka harus kehilangan pemasok modal, skala proyek Evergrande yang begitu besar memungkinkan mitra pembangunan mereka untuk merugi hingga bangkrut jika proyek harus terbengkalai.

Kemudian, Evergrande sekarang diperkirakan meminjam uang dari 171 bank domestik dan 121 badan finansial lainnya. Jika Evergrande tidak mampu membayar utang ataupun bunganya, maka lembaga finansial tersebut tidak akan berani meminjamkan uang mereka dalam jumlah signifikan. Hal ini berbahaya karena berpotensi menyebabkan credit crunch, sebuah kondisi ketika perusahaan dalam negeri Tiongkok akan sulit mencari sumber dana pinjaman dengan bunga yang masuk akal. Hal ini diperkirakan akan memberikan efek domino yang menyebabkan investor menarik seluruh investasinya dari Tiongkok dan Tiongkok berpotensi jatuh ke dalam krisis finansial. Adapun sektor properti adalah 20% dari komponen produk domestik bruto (PDB) sehingga hal ini akan menjadi amat signifikan. 

Tanda-tanda krisis sudah muncul dari sisi bursa efek Hang Seng yang mengalami penurunan signifikan di bidang bisnis properti sebesar 6.69%. Selain itu, banyak investor dari Amerika Serikat yang telah menarik dana investasinya sejak bulan Mei atas keresahan akan kondisi keuangan Evergrande. Harga-harga komoditas di Tiongkok seperti tembaga, besi, dan minyak mentah pun mengalami penurunan drastis akibat permintaan barang konstruksi yang terus naik dan ketakutan jika Evergrande akan berhenti memesan barang jika harga terus naik.

Reaksi Pemerintah Tiongkok

Tiongkok sekarang berada dalam kondisi dilematis karena kejatuhan Evergrande ini adalah efek dari kebijakan baru yang mereka terapkan juga. Tiongkok menetapkan peraturan yang melimitasi jumlah uang yang dapat diutang oleh perusahaan real estate dan hal ini memaksa Evergrande untuk menjual banyak asetnya dalam harga miring demi memenuhi batasan kuota yang ditetapkan dan mencegah kebangkrutan.

Sekarang pemerintah Tiongkok menjadi satu-satunya pihak yang mungkin menutupi pembayaran bunga dan bayaran wajib yang dilakukan Evergrande. Walau begitu, metode ini dinilai hanya akan menyelesaikan masalah dalam jangka pendek.

Pemerintah Tiongkok memiliki kekhawatiran jika mereka memutuskan untuk menyelamatkan Evergrande. Walau memang hal tersebut pada dasarnya akan menghentikan potensi kebangkrutan Evergrande dan menghentikan efek domino, metode ini diperkirakan akan menciptakan “krisis moral”. Penyelamatan itu akan membuat Tiongkok dinilai tidak tegas dalam menjalankan peraturannya dan membuat perusahaan lain di masa depan tidak takut untuk menjalankan kebijakan ekonomis yang serupa. Hal ini diperkirakan akan menghasilkan kesulitan yang jauh lebih besar di masa depannya.

Di sisi lain, permasalahan ini jika dibiarkan akan menciptakan kondisi yang hampir mereplikasi resesi yang menghantam dunia setelah Lehman Brothers bangkrut pada tahun 2008. Kejatuhan Evergrande pun tidak hanya membuat Tiongkok saja yang mengalami krisis ekonomi, melainkan negara-negara yang berhubungan dengan perusahaan tersebut akan dapat mengalami dampak kerugian yang besar. Pemerintah Tiongkok tentunya harus bersikap bijak dalam menghadapi krisis baru yang dihadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *