#FirstAidFood: Ketika Pemerintah AS ‘Memaksa’ Warganya Memakan Jeroan

Ilustrasi Jeroan. Foto: Sea Wave

Di sebuah malam di tahun 2011, saya, adik-adik, dan orang tua sedang menikmati semangkuk bubur ayam pinggir jalan. Waktu masih menunjukkan pukul 7 malam, kedai bubur pun masih dipenuhi pengunjung. Tak ada kursi yang kosong, bahkan banyak orang yang rela mengantre demi bubur tersebut. Lokasinya yang terletak di dekat pasar swalayan Tip Top Rawamangun turut berperan atas ramainya pengunjung di kedai tersebut.

Salah satu yang paling saya suka dari semangkuk bubur adalah memadukannya dengan sate usus, jeroan yang berasal dari tubuh ayam. Saya pun mencopot rangkaian usus tersebut dari tusukannya, lalu mengaduknya dengan topping bubur ayam yang lainnya. Benar, saya termasuk #TimBuburDiaduk.

Satu yang saya tidak sadar saat itu adalah, saya mencabut usus dari tusukannya tanpa saya potong-potong terlebih dahulu. Lalu ketika saya menyuap usus dari mangkuk bersamaan dengan buburnya, serangkaian usus yang masih panjang masuk ke mulut saya. Proses mengunyah yang saya lakukan pun ternyata tak cukup mampu untuk mengoyak usus tersebut. Alhasil, saya tersedak usus sepanjang satu tusukan sate sampai kesulitan bernafas selama 5-10 detik.

Beruntung, saya dapat menelan usus tersebut. Jika tidak, mungkin saya dalam bahaya. Kejadian ini lantas tidak membuat saya jadi punya phobia akan sate usus, namun tetap membuat saya lebih berhati-hati setiap memakannya.

Melihat ke belakang, kejadian tersebut sudah bisa saya tertawakan sekarang. Bahkan, kejadian ini membuat saya berpikir, saya bisa saja mati karena tersedak sate usus, ketika di belahan bumi lainnya, usus (dan jeroan lainnya) justru menjadi alternatif penyambung hidup ketika sepiring nasi dan daging menjadi sebuah kemewahan. Setidaknya, itu dongeng orang tua saya ketika saya kecil.

Dongeng tersebut ternyata benar adanya. Belakangan, bahkan saya baru tahu bahwa jeroan ternyata tidak hanya dimakan oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga dinikmati oleh banyak masyarakat di seluruh dunia, tak terkecuali di Eropa Barat hingga hari ini.

Menentukan kapan suatu masyarakat mulai mengolah jeroan sebagai lauk di atas meja jelas sulit. Sebab, serupa dengan produk budaya lainnya, makanan berkembang secara evolusioner. Perubahannya berkembang secara perlahan, dan tiap-tiap atap bisa memiliki interpretasi yang berbeda dalam mengolahnya. Hal tersebut yang membuat negara seperti Indonesia bisa memiliki interpretasi olahan yang berbeda pada satu jenis bagian jeroan. Contohnya ati ampela. Di satu budaya, ati ampela bisa menjadi bagian dari bubur ayam, tetapi di budaya lainnya, dapat diaduk bersama kuah santan.

Namun, saya punya satu cerita tentang bagaimana jeroan mulai dinikmati sebagai hidangan karena adanya proses rekayasa sosial yang dilakukan secara top-down (terpadu dari pemerintah). Rekayasa sosial ini dilakukan di Amerika Serikat. 

Jargon Jeroan Amerika Serikat

Di suatu masa, pemerintah Amerika Serikat melakukan rekayasa sosial agar masyarakatnya beralih dari daging ke jeroan. Masa itu dimulai di bulan Januari tahun 1943, setahun setelah Amerika Serikat mulai turut serta secara aktif dalam Perang Dunia Kedua. 

Herbert Hoover, mantan Presiden Amerika Serikat, dalam majalah What’s New in Foods and Nutrition mengatakan “daging dan lemak sama pentingnya sebagai amunisi, seperti tank dan pesawat.” Ia menyampaikan hal tersebut atas kekhawatirannya melihat jumlah daging yang dirasa tak akan cukup untuk suplai makanan bagi tentara yang berperang.

Pernyataan Hoover benar adanya. Hanya dua bulan dari ucapannya di majalah tersebut, daging langsung dibatasi per kepala. Hal ini demi memastikan adanya jumlah daging yang cukup untuk dikirim ke para tentara. Sebagian masyarakat Amerika Serikat tak kehabisan akal soal daging ini. Pasar gelap daging pun mulai bermunculan dengan harga jual yang tak wajar. Obsesi warga Amerika Serikat atas daging memang tak main-main.

Untuk mengubah obsesi ini, pemerintah Amerika Serikat pun melancarkan propaganda. Seperti dikutip dari The Atlantic, mereka mulai mendorong masyarakat agar makan jeroan. Namun, alih-alih menggunakan nama yang dianggap kurang mengenakkan seperti otak, hati, lidah, atau ginjal, mereka menamai bagian-bagian tubuh sapi tersebut dengan satu nama: daging organ. Nama ini dianggap dapat memberi ilusi secara psikologis di masyarakat bahwa bagian tersebut tetaplah ‘daging’.

Pemerintah Amerika Serikat tidak berhenti di situ. Dalam mengiklankan daging organ ini, mereka tidak meminta secara blak-blakan seperti “Ayo ganti daging dengan ati sapi!” melainkan mereka meminta masyarakat untuk mencoba terlebih dahulu daging organ ini sebagai bagian dari variasi dari daging yang biasa mereka makan. Dalam kalimat yang harfiah, pesan tersebut berbunyi, “just try it for variety.”

Perubahan norma sosial dari daging ke jeroan dilakukan dengan perlahan tapi pasti. Tak lama dari propaganda ini disebarkan, mulai ramai buku masak dan kelas memasak jeroan di khalayak umum. Masyarakat juga menilai bahwa memakan jeroan bukan lagi sebagai tindakan yang tabu, melainkan tindakan ‘patriotik’ demi membantu negaranya memenangkan perang. Pemerintah Amerika Serikat tampaknya telah melakukan langkah yang tepat.

Perang Dunia Kedua pun berakhir dengan kemenangan di pihak Amerika Serikat dan sekutu. Kemenangan ini tentu menjadi sesuatu yang dirayakan oleh warga Amerika Serikat. Namun, kemenangan ini menyisakan satu proses peralihan dari daging ke jeroan yang tak selesai. Memang, ada perubahan yang relatif cepat dari pola konsumsi masyarakat, tetapi itu semua terjadi dengan satu alasan: pembatasan daging akibat kebutuhan perang. Ketika perang selesai, tak ada lagi kebutuhan untuk membatasi daging. Padahal, pengalihan konsumsi dari daging ke jeroan belum sepenuhnya selesai. Sebagian warga Amerika Serikat pun meninggalkan jeroan dan kembali ke daging.

Inggris, Krisis, dan Haggis

Seperti yang kita tahu, terdapat hidangan jeroan yang khas dan digemari di Britania Raya, salah satunya adalah Haggis, yaitu makanan yang berbahan dasar jeroan domba. Lain Amerika Serikat, lain Britania Raya. Jika Pemerintah Amerika Serikat di masa Perang Dunia Kedua harus melakukan rekayasa sosial agar rakyatnya mau menyantap jeroan, situasi perubahan pola makan dari daging ke jeroan di Britania Raya jelang krisis finansial 2008 terjadi secara alamiah.

Lima tahun jelang 2008, popularitas jeroan di Britania Raya mulai meningkat. Tanpa fabrikasi sosial, terdapat peningkatan 67 persen selama periode 2003-2007. Secara rinci, penjualan jeroan (offal) di ASDA meningkat 20 persen di bulan November 2008 jika dibandingkan dengan November 2007. Sedangkan di Sainsbury’s, penjualan ati babi meningkat 48 persen, ati ayam 22 persen, dan ginjal babi meningkat 8 persen jika dibandingkan antara tahun 2007 dengan 2008. CEO British Hospitality Association kala itu, Bob Cotton, mengatakan bahwa perlambatan ekonomi jelas mendorong masyarakat untuk mencari alternatif yang lebih murah sebagai pengganti daging.

Baik karena proses evolusi, rekayasa sosial, atau karena tak ada lagi pilihan, jeroan jelas menjadi hidangan yang masih akan terus dinikmati oleh masyarakat dunia. Dalam porsi yang ideal, jeroan dapat menjadi pilihan pengganti daging yang tepat. Alasan bahwa jeroan menjadi makanan ‘si miskin’ pun kini tak lagi relevan, terutama jika kita melihat bagaimana jeroan seperti kikil, paru, dan ati dijual dengan harga yang serupa dengan daging di restoran makanan Minang seperti Pagi Sore, Natrabu, atau Garuda.

Buat kalian yang masih enggan untuk mencoba jeroan, pesan dari saya sama seperti pemerintah Amerika Serikat di masa Perang Dunia Kedua:

Just try it for variety.”

Hafizh Mulia adalah CEO dari Kontekstual. Dapat ditemui di Twitter dan Instagram dengan username @moelija.

Leave a Reply

Your email address will not be published.