#FirstAidFood: Kopi Instan, Amunisi ‘Perang’ Umat Manusia!

Ilustrasi Kopi Instan. Foto: Pixabay

Suara teko listrik yang saya letakkan di dekat tumpukan roti itu kian menderu, seiring air yang ada di dalamnya semakin dekat dengan titik didih. Di sisi lain dari tumpukan roti, ada sebuah gelas kering yang sudah saya tuang bubuk kopi instan. Kepulan asap dari teko yang menebal semakin membuat saya tak sabar untuk segera menuangkan air panas ke gelas, dan memenuhi seluruh pojok dapur saya dengan aroma kopi instan.  

Jujur, saya bukanlah penikmat kopi instan rutin. Namun pagi itu, pilihan saya jatuh pada kopi agar dapat kuat mengarungi hari, selayaknya 57 persen warga DKI Jakarta lainnya.

Angka 57 persen itu besar sekali, lho. Anggaplah ada 8 juta warga DKI Jakarta. Itu artinya, ada sekitar 4,5 juta gelas kopi diminum setiap harinya di Jakarta.

Itu kalau satu gelas kopi per orang. Kalau dua? Tiga? 

Jelas, jika kita mempertimbangkan semua aspek, yang paling berperan besar dalam tingginya kemampuan produksi kopi per hari adalah kopi instan. Jika tidak ada kopi instan yang biasanya dikemas dalam sachet, maka akan ada hambatan signifikan bagi mereka yang ingin mengkonsumsinya. 

Kalian mungkin bisa berargumen kalau sekarang sudah banyak kedai kopi bertebaran di DKI Jakarta. Namun soal harga dan kecepatan proses produksi, kedai kopi yang sudah menjamur itu belum mampu menyaingi kopi sachet.

Para penikmat kopi instan Starling (Starbucks keliling) pasti paham apa yang saya maksud soal harga dan kecepatan proses produksi ini. Bagi mereka, kopi instan Starling telah menjadi amunisi yang tepat untuk meningkatkan tenaga, yang mungkin belum terisi di pagi hari, atau sudah mulai berkurang di siang hari. Bisa jadi, kopi instan ini satu-satunya amunisi mereka agar dapat melanjutkan aktivitas.

Hal ini pun serupa dengan para prajurit Amerika Serikat di masa perang yang menjadikan kopi instan amunisi penting agar tetap prima di medan perang.

Tingginya Permintaan Kopi Prajurit AS di Masa Perang

Pada bulan April 1917, Amerika Serikat mendeklarasikan perang atas Jerman dalam Perang Dunia Pertama yang sudah berlangsung sejak tahun 1914. Selang beberapa bulan, tepatnya di bulan Juni, tentara AS mendarat di Benua Eropa. Selepas pendaratan, kopi langsung menjadi komoditas yang paling dicari dan dibutuhkan oleh para tentara tersebut.

“Kopi adalah komoditas yang penting, setara dengan roti dan daging,” ujar salah satu petinggi tentara AS pasca Perang Dunia Pertama berakhir. Kopi dianggap telah berhasil mengangkat moral para prajurit yang ditugaskan.

Catatan sejarah soal kebutuhan kopi dalam perang ternyata bisa ditarik mundur lebih jauh lagi, ke Perang Sipil Amerika Serikat yang terjadi dari tahun 1861 hingga 1865. Di dalam buku catatan para prajurit yang berperang dalam perang sipil tersebut, banyak yang menuliskan cerita soal kebutuhan mereka akan kopi. 

Di buku para prajurit pro-Serikat (wilayah AS bagian utara), tema umum yang sering ditemukan adalah cerita tentang seberapa sering mereka membutuhkan kopi di tengah-tengah perang dan bagaimana penjatahan dilakukan demi memastikan kebutuhan kopi semua masyarakat terpenuhi. Di dalam catatannya, para prajurit pro-Serikat bercerita tentang bagaimana setiap warga pro-Serikat mendapatkan jatah 18 kg bubuk kopi setahun. 

Sedangkan narasi dari cerita para prajurit pro-Konfederasi (wilayah AS bagian selatan) lebih banyak mencatatkan tentang bagaimana kebutuhan kopi mereka tidak terpenuhi, dan cara-cara unik mereka mencari alternatif pengganti pun dimulai.

Kendati banyaknya cerita yang mengindikasikan kebutuhan kopi sudah berlangsung dari sebelum abad ke-20, dan bahkan banyak catatan yang menunjukkan bahwa kopi instan (bukan dalam bentuk seperti yang kita kenal saat ini) sudah diproduksi di berbagai tempat seperti Jepang atau Britania Raya sejak abad ke-18, kopi instan baru pertama kali diproduksi massal sejak tahun 1910, yaitu oleh perusahaan kopi G. Washington yang didirikan oleh seorang warga AS keturunan Belgia, George Constant Louis Washington.

Nggak, George Washington yang ini nggak punya hubungan apa-apa sama George Washington presiden pertama AS.

Washington yang kala itu paham akan adanya permintaan yang tinggi dari warga AS terkait kopi, akhirnya berhasil memproduksi massal kopi instan dengan resep rahasia sekaligus mematenkannya. Di masa awal produksi, kopi instan Washington’s kurang disukai karena dianggap tidak lebih enak jika dibandingkan kopi biasa. 

Namun, seolah menjadi keberuntungan di tengah nestapa, Perang Dunia Pertama justru membuat Washington’s laris manis di kalangan prajurit AS, karena hanya kopi instan ini yang dapat diproduksi secara massal. Washington’s mampu memproduksi 18 ribu kilogram bubuk kopi instan per hari, memastikan kebutuhan kopi setiap prajurit terpenuhi.

Larisnya Washington’s pada masa Perang Dunia Pertama terus berlanjut setelah perang itu berakhir. Sebutan ‘A Cup of George’ untuk kopi instan di masa interwar pun menjadi simbol yang menunjukkan seberapa besar dampak Washington’s di kalangan warga AS.

Kehancuran Pasar Saham 1929 dan Awal Mula Kopi Instan Modern

Meski sudah diproduksi massal, Washington’s bukanlah kopi instan modern yang sekarang umum kita kenal. Proses dan bentuknya sudah jauh berbeda dengan kopi instan modern. 

Untuk memahami bagaimana umat manusia bisa sampai pada penemuan kopi instan modern, saya perlu mengajak kalian ke tahun 1929, ketika pasar saham Wall Street mengalami kehancuran luar biasa.

Pasca kehancuran pasar saham 1929, Banque Française et Italienne pour l’Amérique du Sud menemukan surplus biji kopi dalam jumlah yang sangat besar di gudang mereka. Hal ini membuat mereka meminta tolong kepada Louis Dapples, mantan bankir yang saat itu menjabat sebagai direktur utama Nestle, untuk mengolah biji kopi tersebut dan menjadikannya kopi instan yang dapat larut dengan mudah. Bersama ahli kimia Max Morgenthaler, Nestle berhasil menemukan teknologi spray drying untuk menciptakan bubuk kopi yang lembut dan mudah larut. Nescafé pun lahir di tahun 1938. 

Memasuki Perang Dunia Kedua, Nescafé turut memasok kebutuhan kopi instan untuk para prajurit AS, seperti yang dilakukan Washington’s pada perang dunia sebelumnya. Untuk memastikan pasokan kopi instan terpenuhi, Nestle sampai membangun dua fasilitas pabrik tambahan

Namun, Perang Dunia Kedua tak hanya menjadi bukti lain bahwa kopi instan adalah bagian dari pasokan makanan di masa darurat. Seolah kembali mendapat keberuntungan di tengah nestapa, ragam penelitian yang dilakukan di masa Perang Dunia Kedua ternyata membuat Nestle berhasil menerapkan teknologi freeze drying dalam pembuatan bubuk kopi instan, teknologi yang hingga kini terus diterapkan demi memastikan terpenuhinya kebutuhan kopi instan di berbagai sudut dunia.

Kopi untuk Amunisi Semua Orang di Seluruh Dunia

Sebenarnya, tanpa perlu bersusah-payah memahami bagaimana kopi instan menjadi pasokan makanan darurat di masa perang, observasi sederhana ke sekitar sudah cukup memberikan kita gambaran tentang bagaimana signifikansi kopi instan sebagai opsi darurat pemenuhan kebutuhan. 

Di setiap pagi, observasi akan membawa kalian menemukan pekerja kantoran yang membutuhkan secangkir kopi instan demi sukses menyampaikan presentasi di hadapan klien; siswa yang mengonsumsi kopi instan demi tetap fokus menerima pembelajaran; petugas keamanan yang menyeduh bubuk kopi instan agar dapat terus terjaga seharian; dan kurir yang mengaduk bubuk kopi instan agar setiap barang sampai di destinasi tujuan.

Bagi sebagian orang, mungkin kopi instan dipersepsikan sebagai sesuatu yang ‘murahan’ atau tak enak jika dibandingkan kopi-kopi seduhan dari kedai kopi ternama. Saya pun tak ingin menyangkal hal tersebut. Biarkan perdebatan itu menjadi bahasan di lain waktu. Yang jelas, kopi instan telah berhasil bertahan dari masa ke masa, menjadi amunisi ‘perang’ untuk berbagai bentuk pertaruhan yang dihadapi manusia di muka bumi.

Hafizh Mulia adalah Managing Director dari Kontekstual. Dapat ditemui di Twitter dan Instagram dengan nama pengguna @moelija.

Leave a Reply

Your email address will not be published.