“Genosida Kultural” Kanada: Dibalik Temuan Ratusan Makam Tak Bertanda

Ilustrasi sepatu anak-anak pribumi Kanada yang dijajarkan. Foto: Getty Images

Kanada kini sedang berduka akibat temuan sebuah penyelidikan tentang keberadaan lebih dari 1100 makam tak bertanda di sebuah reruntuhan sekolah. 1100 makam tak bertanda tersebut disinyalir merupakan makam anak-anak dari suku-suku asli (indigenous people) Kanada.

Makam tersebut ditemukan di daerah sekitar Kamloops Indian Residential School, Marieval Indian Residential School, dan St. Eugene’s Mission School. Sekolah-sekolah ini merupakan beberapa dari 150 sekolah asrama yang bertujuan untuk mengasimilasi kelompok pribumi Kanada ke budaya kulit putih pada masanya. 

Seluruh makam yang ditemukan sejauh ini tidak memiliki identifikasi. Investigasi yang dilakukan Direktur Eksekutif National Centre for Truth and Reconciliation Stephanie Scott pun hanya bisa mengungkap identitas 50 makam di daerah Kamloops, sementara ada sekitar 165 makam yang tidak dapat diidentifikasi. 

Sementara itu temuan di Marivel yang berkisar 751 makam dan penemuan di St. Eugene yang berkisar 182 makam belum dapat diinvestigasi sehingga belum bisa diidentifikasi kapan dibuat makam-makam temuan baru tersebut.

Scott menyatakan bahwa makam ini dibuat pada kisaran waktu 1900-1971. Hal tersebut menjadi bukti kuat akan adanya “genosida kultural” yang dilakukan oleh pemerintahan Kanada pada masanya. 

Genosida kultural tersebut adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintahan Kanada pada abad 19 hingga abad 20 untuk menghapus budaya pribumi masyarakat pendiam Kanada sebelumnya. Aksi ini dilancarkan oleh pemerintah yang berasal dari pendatang Inggris, yang bekerja sama dengan Vatikan untuk membangun sekolah asrama yang digunakan untuk menyebarkan nilai Katolik ke anak pribumi Kanada.

Sekolah asrama tersebut banyak yang dijalankan  oleh gereja Katolik di bawah Vatikan. Anak suku pribumi ditarik paksa dari keluarganya untuk mengikuti pendidikan di sekolah asrama yang tidak layak. Dari sekitar 150.000 anak yang ditarik, diperkirakan angka kematian mencapai 30.000 anak.

Publik Kanada terkejut atas kenyataan ini dan sebagian telah membuat memorial untuk menghormati anak pribumi yang meninggal. Walaupun begitu, Perry Bellegarde sebagai  Ketua Assembly of First Nations menyatakan bahwa hal tersebut sudah tidak mengejutkan. 

“Kemarahan dan keterkejutan publik sangatlah diterima. Tetapi laporan ini tidaklah mengejutkan, orang yang bertahan hidup dari genosida telah menceritakan hal ini berulang-ulang tetapi tidak ada yang pernah percaya.” jelas Bellegarde sebagai responnya. 

Laporan dari Truth And Commission (TRC) yang dirilis pada tahun 2015 menceritakan secara mendetail kebijakan pemerintah untuk melakukan genosida dengan menyekolahkan paksa anak pribumi untuk meninggalkan budaya lama mereka. Laporan setebal 400 halaman tersebut itu pun menjelaskan bahwa kehidupan di sekolah tersebut amat tidak layak, tidak bersih, dan tidak bisa memberikan kehangatan di musim dingin. 

Penemuan makam anak pribumi ini pun baru sebagian dari total 94 proyek ajukan TRC ke Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Penemuan ini pun mungkin meningkatkan keinginan pemerintahan Kanada untuk memberi tambahan dana menjalankan proyek pengungkapan tersebut.

Justin Trudeau sendiri amat menyesali penemuan yang ada dan menjanjikan “aksi konkrit”. Walau begitu, masih belum ada bentuk jelas aksi yang dijanjikan Trudeau selain permohonannya pada Paus Fransiskus tahun 2017 untuk meminta maaf pada publik Kanada atas peran Gereja dalam genosida kultural ini. Permintaan itu sendiri belum direspons oleh Paus Fransiskus hingga saat ini. 

Sementara itu, gerakan demonstrasi telah dijalankan di Kanada yang mana publik menjatuhkan patung Ratu Victoria dan Elizabeth II di Winnipeg. Mereka juga meneriakkan slogan “No Pride in Genocide” sambil melakukan aksi protes tersebut.

Dengan dilanjutkannya pencarian makam anak pribumi, akan makin terkuak kenyataan besar genosida kultural Kanada. Selama ini, kekejaman dan pelanggaran HAM terhadap penduduk pribumi adalah episode kelam dalam sejarah Kanada yang belum benar-benar dapat dihadapi secara bersama oleh Kanada sebagai sebuah bangsa. Perlahan tapi pasti, Kanada harus menghadapi masa lalunya untuk dapat terus melangkah kedepan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *