Hadapi Tekanan Internasional, Israel Gencatan Senjata Dengan Palestina

Ilustrasi perayaan gencatan senjata di Gaza. Foto: AFP

Israel dan Hamas, sebagai perwakilan Palestina, telah menyetujui dan memberlakukan gencatan senjata.

Gencatan senjata itu dimulai pada awal Jumat tanggal 21 Mei 2021, yang akan mengakhiri bombardir yang telah berjalan selama sebelas hari.

Dalam sebelas hari itu, terhitung adanya lebih dari 240 korban jiwa yang kebanyakan merupakan warga Palestina di jalur Gaza.

Pengumuman gencatan senjata tersebut berhasil membuat warga Palestina untuk membanjiri jalanan di jalur Gaza dan bersorak-sorai.

Israel yang sebelumnya sempat menolak berdamai dan menyatakan akan terus menyerang, akhirnya menerima gagasan ini. Melalui pernyataan Kabinet Keamanan Politik Israel, yang juga menyatakan bahwa, “Eselon politik mengutamakan kenyataan yang terjadi di medan perang-lah yang menentukan lanjut tidaknya pertempuran”.

Sementara itu, hasil ini diterima dengan sangat positif oleh Hamas yang menerimanya sebagai “kemenangan” bagi bangsa Palestina dan kekalahan bagi Israel, terutama oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Walau begitu, anggota Hamas Council of International Relations, Basem Naim, menyatakan bahwa ia masih skeptis akan keberlangsungan gencatan senjata. Ia menyatakan, “Tanpa adanya keadilan untuk orang Palestina, tanpa memberhentikan kejahatan dan agresi Israel terhadap orang kita di Yerusalem, gencatan senjata ini akan sangat mudah rapuh.”

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menyatakan pujiannya terhadap Netanyahu sesaat setelah gencatan senjata dikumandangkan. 

Dalam pernyataannya, Biden menyebutkan rasa terima kasihnya untuk Presiden Mesir, Abdel Fattah Al-Sisi, atas kontribusinya dalam menciptakan gencatan senjata. Ia juga menyatakan keinginannya untuk terus menjaga keamanan Israel dan bekerja sama dengan PBB dalam membangun daerah Jalur Gaza. Uniknya, Biden menyatakan bahwa ia hanya akan bekerja dengan pemerintahan resmi Palestina dan bukan Hamas.

Tekanan internasional juga telah menekan kedua sisi untuk menghentikan konflik. Biden telah berusaha untuk menekan Netanyahu untuk melakukan de-eskalasi secepatnya. Ia menyatakan de-eskalasi internal akan lebih baik daripada kedatangan Dewan Keamanan PBB, yang membuat AS menolak intervensi DK PBB.

Sementara itu, PBB beserta Qatar dan Mesir juga telah berusaha melakukan mediasi bagi pihak Israel dan Hamas.

Untuk sekarang, kedua belah pihak bisa bernafas dengan sedikit lega terlebih dahulu. Angka korban jiwa dapat berhenti di sekitar 200-an orang di Palestina dan 12 orang di Israel. Hanya saja, masih dikhawatirkan akan ketahanan perjanjian gencatan senjata ini dan apakah kedua pihak secara sepakat menginginkannya. Walaupun begitu, kedua pihak mengklaim deklarasi ini sebagai “kemenangan” tersendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *