Invasi Rusia ke Ukraina: Keamanan untuk Siapa?

Ilustrasi bendera Ukraina. Foto: Shutterstock

Pasca runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, ketegangan antara Rusia dan Ukraina kiranya dapat ditelusuri sejak Yushchenko mendeklarasikan bahwa ia akan memulai pengajuan keanggotaan NATO untuk Ukraina. Ketegangan ini selanjutnya tereskalasi saat Rusia melakukan aneksasi pada Krimea pada tahun 2014 dan akhirnya menemui puncaknya pada 24 Februari 2022 lalu ketika negara tersebut melakukan invasi militer terhadap Ukraina dengan menurunkan beribu tentaranya di Donbas. Dalam pembuatan keputusan yang berujung pada invasi Rusia terhadap Ukraina ini, tentu berbagai jalinan kompleks menjadi konsiderasi Kremlin dalam melakukan aksinya. Namun, tak dapat diingkari bahwa faktor keamanan—utamanya keamanan Rusia dalam konteks ini—menjadi faktor yang paling disoroti sebagai basis aksi yang dilancarkan oleh Rusia. Karenanya, dalam esai ini, penulis akan mencoba untuk membahas mengenai aspek keamanan dalam invasi Rusia terhadap Ukraina melalui dua posisi teoritis yakni posisi positivis yang diwakili oleh realisme ofensif ala Mearsheimer dan posisi interpretivis yang diwakili oleh teori feminisme dalam hubungan internasional.

Dari Keamanan Negara hingga Kekuatan Relatif: Aspek Keamanan Realisme Ofensif dalam Invasi Rusia terhadap Ukraina

Bagi realis ofensif seperti Mearsheimer, keamanan merupakan tujuan utama dan terpenting negara dalam sistem internasional yang anarki. Hal ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, anarki membuat negara menyisakan sedikit sekali ruang untuk percaya pada negara lain (Mearsheimer, 1990) karena saat negara meletakkan kepercayaannya pada negara lain dan negara tersebut berkhianat padanya, tidak akan instansi di atas negara yang dapat mengadili negara lain tersebut atas pengkhianatan—dan mungkin kerugian—yang telah ditimbulkan. Kedua, dengan minimnya kepercayaan antar negara tersebut, negara akan selalu menganggap negara lain sebagai ancaman potensial sehingga ia merasa bahwa tidak ada aktor lain selain dirinya yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya serta keamanan integritas teritorialnya dan otonomi politik domestiknya (Mearsheimer, 1990). Ujungnya, negara pun mengembangkan prinsip self-help sebab ia tidak punya pilihan selain menjamin keamanannya sendiri. Implikasi dari kedua faktor ini, negara pun berusaha untuk memaksimalkan kekuatan relatif mereka terhadap negara lain demi membela diri dan bertahan hidup di bawah sistem yang anarki (Mearsheimer, 2001).

Secara spesifik, pemaksimalan kekuatan relatif ini dilakukan dengan mencari peluang untuk menggoyahkan keseimbangan kekuasaan dengan memperoleh tambahan kekuatan dengan mengorbankan saingan potensial (Mearsheimer, 2001). Metode ini mewakili cara berpikir zero-sum di mana negara akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dibandingkan dengan negara lain sehingga keuntungan yang didapatkannya dapat menjadi kerugian bagi negara lain (Mearsheimer, 2001). Hal ini dilakukannya karena dalam sistem yang anarki pada akhirnya, menjadi pemenang dalam kontestasi keamanan yang tak pernah usai ini adalah sebuah kebutuhan untuk menjadi aman. Dengan kata lain, ofensif realis memandang bahwa untuk menjadi aman adalah untuk menjadi dominator atau hegemon dalam sistem. Namun, dalam berbagai kasus, negara tidak memiliki sarana yang cukup untuk menjadi hegemon secara keseluruhan dan ini adalah hal yang wajar (Mearsheimer, 2001). Meskipun demikian, hal ini bukanlah alasan sebuah negara untuk berhenti bertindak ofensif karena, mengingat bahwa negara tidak dapat memastikan intensi negara lain, akan selalu menjadi pilihan yang tepat untuk memiliki lebih banyak kekuatan dibanding negara lain daripada puas dengan sedikit kekuatan yang dimiliki. Lagi pula, pertahanan yang paling efektif bisa jadi terwujud tindakan ofensif yang baik (Mearsheimer, 2001).

Jika pendekatan ini diadopsi digunakan sebagai pendekatan untuk memahami invasi Rusia terhadap Ukraina, dapat dilihat bahwa invasi ini merupakan bentuk perlindungan diri secara ofensif Rusia atas ancaman keamanan yang dirasakannya berupa ekspansi NATO ke Ukraina yang diwacanakan sejak 2008. Wacana ekspansi NATO ini memojokkan Rusia karena hal ini dapat mengeluarkan Ukraina dari posisinya sebagai halaman belakang dan buffer zone Rusia (Mearsheimer, 2014). Hal ini, ditambah dengan pelibatan Ukraina dalam Eastern Partnership yang digagas Uni Eropa (Mearsheimer, 2014), tentu membuat perasaan terancam Rusia membuncah . Dengan logika bahwa akan menjadi lebih baik bagi Rusia jika mereka melakukan ekspansi demi mendapatkan lebih banyak kekuatan melalui perluasan sphere of influence yang lebih kuat di beberapa bagian Ukraina (dan juga kekuatan relatif lebih dari sumber daya mineral yang kaya di lokasi tersebut), Rusia pun menganeksasi Krimea pada tahun 2014.

Namun nyatanya, upaya ini tidak cukup untuk menghentikan NATO dan Uni Eropa untuk menggaet Ukraina. Sebab, pemerintah Ukraina yang makin terdemokratisasi pasca jatuhnya Yanukovych nyatanya justru makin mesra dengan NATO. Kemesraan ini misalnya tampak dengan munculnya berbagai dialog antar Ukraina dan pihak NATO di era Poroshenko dan Zelensky yang pada akhirnya berujung pada diterimanya Ukraina sebagai kandidat anggota NATO. Disematkannya status tersebut pada Ukraina yang terus melancarkan diplomasinya untuk aksesi NATO tentu makin mengancam keamanan Rusia. Mengingat dekatnya Ukraina secara geografis dan posisinya sebagai buffer zone untuk Rusia (Mearsheimer, 2014), Moskow pun memilih untuk melakukan invasi terhadap Ukraina dengan asumsi bahwa invasi ini dapat menjadikan Ukraina sebagai keuntungan relatif Rusia vis-à-vis NATO yang dianggapnya sebagai ancaman. Hal ini menunjukkan bahwa Rusia mencoba meraih keamanannya dengan mengimplementasi logika “it’s always better to have more power than your enemy in the world full of anarchy.” Dengan logika yang sama, tak dapat dipungkiri bahwa mungkin—dengan bayangan “kejayaan” Soviet di masa lalu, invasi Rusia ini juga menjadi sarana Rusia untuk mewujudkan ambisinya dalam memenangkan relative gains game melawan NATO yang menjadi representasi Barat untuk menjadi dominator dalam sistem demi mengamankan dirinya.

Suara dari Seberang: Pandangan Feminisme terhadap Invasi Rusia ke Ukraina

Pembahasan mengenai perang dan keamanan dalam perspektif feminisme lahir dari tekad yang sama untuk mengemansipasi perempuan dari posisi subordinasinya, dimulai dari level individu sebagai titik awal analisisnya (Tickner, 2001). Dalam konteks ini, subordinasi yang dimaksud adalah berbagai konsepsi keamanan ala negara yang kerap kali sangat erat dengan nilai-nilai maskulinitas. Untuk membuat diskursus keamanan yang lebih inklusif dan sensitif gender, sebagian feminis memulai proyeknya dengan mendebat peran negara sebagai penyedia keamanan. Sebab dalam banyak diskursus, negara yang berpikir dengan logika maskulin kemudian justru kerap kali mengkompromikan kekerasan—baik struktural maupun fisik—terhadap warganya demi keamanan negaranya (Tickner, 2001). Sementara itu, sebagian feminis yang lain memfokuskan analisisnya untuk mendebat mitos “pelindung” yang hampir selalu disematkan pada laki-laki dalam rangka melindungi yang harus dilindungi dan dinilai rentan, yakni perempuan dan anak-anak (Baylis et al., 2014). Pendebatan dari sisi feminisme ini muncul akibat banyaknya bukti “kegagalan” para pelindung ini dalam melindungi yang seharusnya dilindungi, dibuktikan dengan tingginya angka kematian perempuan dan anak-anak dalam perang (Baylis et al., 2014). Mitos laki-laki sebagai “pelindung” ini pun dapat pula dipatahkan dengan banyaknya kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang terjadi di medan pertempuran. Kedua taktik ini dalam sejarah telah banyak digunakan sebagai senjata atau strategi perang untuk menyerang musuh secara psikologis dengan menodai martabat perempuan dari kubu lawan yang dianggap sebagai simbolisme kehormatan lawan.

Di samping itu, pengonsepsian laki-laki sebagai pelindung ini pun pada akhirnya menjadi basis dari pelatihan militer yang ada. Dalam pelatihan-pelatihan militer, para tentara pun dibentuk untuk memiliki citra yang tangguh dan maskulin tanpa memiliki aspek feminin sedikit pun sehingga apa pun aspek feminin yang ada dalam diri mereka harus sudah dibuang jauh-jauh sebelum terjun ke medan perang. Tak jarang citra maskulin yang diciptakan oleh militer ini juga digunakan untuk membentuk narasi perang yang ada. Hal ini dilakukan dengan mengontraskan citra maskulinitas militer suatu negara dengan citra feminin lawan untuk membentuk konstruksi musuh atau membuat justifikasi atas perang yang dikibarkan (Baylis et al., 2014). Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa dalam dunia yang dikuasai nilai-nilai maskulinitas ini, negara pun memerlukan ketimpangan relasi gender untuk menyokong kepentingan keamanannya yang dicapai melalui perang.

Apabila dipandang melalui kacamata yang sensitif gender, kentara sekali bahwa invasi Rusia terhadap Ukraina ini sangat kental dengan nilai-nilai maskulinitas. Dari langkahnya untuk menginvasi Ukraina saja, telah terlihat bagaimana Putin memutuskan untuk menukar keamanan warga negara Ukraina dengan keamanan negaranya demi mendapatkan kekuatan yang lebih banyak dibanding lawannya, yaitu Barat dan NATO. Mitos pelindung pun turut dilanggengkan dengan hanya turunnya tentara laki-laki Rusia ke medan pertempuran—alih-alih menginklusi perempuan yang ada dalam angkatan bersenjata mereka (O’Brien & Quenviet, 2022). Mitos ini turut dipertahankan oleh Ukraina dengan yang mewajibkan seluruh penduduk prianya yang berusia 18-60 tahun di Ukraina (True & Davies, 2022). Dalam konteks mitos perlindungan ini pula, pemerkosaan atas perempuan Ukraina ujungnya menjadi marak dilakukan oleh tentara Rusia tanpa pandang bulu—baik pada anak-anak, gadis lajang, perempuan bersuami, maupun perempuan lanjut usia. Sebab, pemerkosaan dianggap oleh tentara Rusia sebagai sarana penyampai pesan yang tepat pada laki-laki Ukraina untuk mengatakan bahwa mereka telah gagal melindungi kehormatan perempuan mereka (O’Brien & Quenviet, 2022).

Di luar kenyataan tersebut, invasi Rusia ini juga sarat dengan adanya pembentukan citra feminin Ukraina oleh Rusia yang dijadikannya sebagai justifikasi perang. Hal ini dapat ditilik dari pernyataan Kremlin yang sedari dulu kerap menggunaan kata ganti “picky girl” ataupun “flighty mistress” untuk menyebutkan Ukraina dalam berbagai siaran media resmi (Voronova, 2017)—seakan-akan mengimplikasikan bahwa Ukraina adalah gadis bandel yang harus didisiplinkan oleh seorang sosok yang lebih keras—dalam kasus ini Rusia—agar tetap berlaku tertib di tempatnya. Di sisi lain, Ukraina juga kerap dipandang Rusia sebagai negara yang lemah dan bergantung sehingga perlu dilindungi oleh negara yang lebih kuat dan tangguh seperti Rusia (Voronova, 2017). Kedua contoh ini memperlihatkan bagaimana Rusia memanfaatkan retorika-retorika feminin untuk mendefinisikan Ukraina sembari menguatkan karakteristik maskulin Moskow dalam rangka melegitimasi segala tindakan agresifnya, termasuk invasi, terhadap negara tetangganya itu.

Meniti Teori yang Tepat untuk Menganalisis Invasi yang Telah Terjadi

Meskipun menganalisis satu fenomena yang sama, tampak bahwa kedua teori yang dijelaskan dalam esai ini memiliki interpretasi yang amat berbeda terhadap invasi Rusia terhadap Ukraina. Di satu sisi, realisme ofensif yang berangkat dari sisi positivis dan memusatkan analisisnya pada unit negara merasa bahwa invasi ini adalah konsekuensi sistematis dari anarki yang membuat negara selalu merasa perlu untuk melakukan self-help dan memiliki kekuatan relatif atas negara lain. Di sisi lain, feminisme menekankan bahwa invasi Rusia terhadap Ukraina ini tidak bisa dilepaskan dari logika-logika maskulin yang membutuhkan ketimpangan relasi gender untuk menjustifikasi perang. Pada akhirnya, penulis merasa bahwa realisme ofensif tentu akan terasa lebih mudah digunakan untuk menjelaskan fenomena ini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pendekatan ini cenderung menyimplifikasi hubungan yang kompleks di berbagai level analisis serta mengabaikan aspek-aspek lain seperti ketidakamanan dan ancaman yang dirasakan kelompok atau individu tertentu sehingga tidak dapat memberi gambaran yang utuh mengenai aspek keamanan dalam fenomena ini. Maka dari itu, penulis menyimpulkan bahwa analisis feminis yang sensitif gender akan menjadi teori yang lebih tepat dan sangat diperlukan untuk menganalisis invasi Rusia ke Ukraina—utamanya dari aspek keamanan yang tak hanya menyangkut keamanan negara, namun juga keamanan individu dan kelompok. 

Referensi:

Baylis, J., Smith, B., Owens, P., & Tickner, J. A. (2014). Gender in World Politics. In The Globalization of World Politics: An Introduction to international relations (6th Edition, pp. 259–271). Oxford University Press.

Mearsheimer, J. J. (1990). Back to the future: Instability in Europe after the Cold War. International Security, 15(1), 5–56. https://doi.org/10.2307/2538981

Mearsheimer, J. J. (2001). Anarchy and the Struggle for Power. In The Tragedy of Great Power Politics (pp. 29–54). essay, W.W. Norton.

Mearsheimer, J. J. (2014). Why the Ukraine Crisis Is the West’s Fault: The Liberal Delusions That Provoked Putin. Foreign Affairs, 93(5), 77–84, 85–89 . https://doi.org/https://www.jstor.org/stable/24483306

O’Brien, M., & Quenivet, N. (2022, June 8). Sexual and gender-based violence against women in the Russia-Ukraine conflict. EJIL. Retrieved June 17, 2022, from https://www.ejiltalk.org/sexual-and-gender-based-violence-against-women-in-the-russia-ukraine-conflict/

Tickner, J. A. (2001). In Gendering World Politics: Issues and Approaches in the Post-Cold War Era (pp. 36–64). essay, Columbia University Press.

True, J., & Davies, S. E. (2022, April 1). Weapon of war in Europe? the escalation of sexual and gender-based violence in Ukraine-russia conflict. Australian Institute of International Affairs. Retrieved June 17, 2022, from https://www.internationalaffairs.org.au/australianoutlook/weapon-of-war-in-europe-the-escalation-of-sexual-and-gender-based-violence-in-ukraine-russia-conflict/

Voronova, L. (2017). Gender politics of the ‘War of Narratives’: Russian TV-news in the Times of conflict in Ukraine. Catalan Journal of Communication & Cultural Studies, 9(2), 217–235. https://doi.org/10.1386/cjcs.9.2.217_1  

Sekarini Wukirasih adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada dan salah satu staf dalam tim penulis Kontekstual. Ia dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @skrsekar

Leave a Reply

Your email address will not be published.