ISIS Bom Kabul, Tantangan Bagi Taliban Maupun AS

Ilustrasi korban bom Kabul. Foto: AFP via Getty Images

Pada Kamis (26/8), ISIS kembali “unjuk gigi” melalui dua bom bunuh diri di Kabul, Afghanistan. Dikutip dari BBC, bom yang terjadi di Hotel Baron dan Bandara Kabul sudah menewaskan 90 orang saat berita ini diturunkan, termasuk 13 personel militer AS.

Peristiwa ini menjadi sorotan dunia karena serangan tersebut ditujukan untuk personel AS dan Inggris yang sedang mendukung proses evakuasi warga negara masing-masing dan pengungsian penduduk Afgan dari Afganistan.

Presiden AS Joe Biden bahkan berjanji untuk memburu komplotan pelaku bom bunuh diri dan membuat mereka “membayar” peristiwa yang terjadi di Kabul.

Seluruh perhatian pun segera tertuju kepada ISIS-K karena organisasi itu mengklaim bahwa mereka adalah dalang di balik peristiwa bom bunuh diri tersebut. Dikutip dari Kompas.com, pihak ISIS-K menyebut bahwa pelakunya adalah Abdul Rehman al-Loghri, salah satu milisi dari organisasi tersebut, dalam aplikasi Telegram.

ISIS-K sendiri adalah cabang organisasi ISIS di Afghanistan yang sudah ada sejak 2015. Sempat kompak dengan Taliban, ISIS-K “pecah kongsi” dan berbalik melawan organisasi yang didirikan Mullah Omar itu karena perselisihan mengenai perjanjian damai dengan AS pada tahun lalu.     

Tak ayal, ISIS-K diprediksi akan menjadi momok besar bagi pemerintahan Taliban yang baru 12 hari kembali memerintah Afganistan. Kehadirannya menjadi duri dalam daging bagi Taliban yang sedang berusaha mewujudkan stabilitas domestik di negara tersebut.

Situasi di Afganistan juga semakin kompleks karena ISIS-K resmi menjadi pihak ketiga yang bertarung dalam konflik di negara tersebut, setelah Taliban dan Front Perlawanan Nasional yang berlokasi di Lembah Panjshir.

Keterlibatan ISIS dalam kemelut di Afghanistan ini menambah kerumitan situasi yang sudah kompleks. Meski begitu, dalam menghadapi ISIS-K ini AS dan Taliban tampaknya berada di sisi yang sama. ISIS-K menjadi tantangan terhadap Taliban yang kini memerintah dan harus menjaga stabilitas Afghanistan sebagai negara. Di sisi lain, serangan tersebut kembali menegaskan eksistensi ISIS yang terus mengancam AS dan sekutunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *