ISS Mulai Rusak, Tiongkok Muncul Sebagai Aktor Baru di Luar Angkasa

Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa. Foto: NASA

Tahun 2021 menjadi tahun penting bagi eksplorasi manusia di luar angkasa. Hal tersebut terlihat dari banyaknya peristiwa penting yang berpotensi besar memengaruhi masa depan dari penjelajahan antariksa oleh manusia.

Salah satunya adalah kabar mengejutkan yang datang pada Rabu (1/9) waktu setempat ketika otoritas Rusia menyebut bahwa International Space Station (ISS), stasiun luar angkasa terbesar di antariksa, berpotensi mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki karena faktor usia.

Hal tersebut berpotensi memperpendek masa pakai ISS yang telah menjadi pusat kegiatan luar angkasa bagi umat manusia selama 20 tahun terakhir.

Di sisi lain, Tiongkok berhasil meluncurkan Tianhe, modul pertama yang akan menjadi bagian dari Stasiun Luar Angkasa Tiangong, pada April tahun ini. Dengan demikian, Tiongkok menjadi negara ketiga yang memiliki stasiun luar angkasa setelah AS dan Rusia.

ISS Berpotensi Rusak, Kongsi AS-Rusia Berpotensi Pecah

Dikutip dari BBC, kepala insinyur perusahaan luar angkasa Energia Vladimir Solovyov menyebut bawa ISS berpotensi mengalami kerusakan yang “tidak dapat diperbaiki” karena peralatan yang sudah ketinggalan zaman. Ia menyebut bahwa 80% sistem di kompartemen bagian Rusia dari ISS sudah melewati masa usia pakai.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa terdapat keretakan di modul Zarya, salah satu modul tertua ISS. Menurutnya, retakan tersebut berpotensi besar untuk semakin meluas ke depannya dan menyebabkan kebocoran udara.

Kebocoran tersebut dapat menjadi sangat fatal karena udara yang digunakan astronot untuk bernapas dapat keluar ke ruang hampa.

Roscosmos, badan antariksa Rusia, pun juga menyebut pada akhir bulan Agustus bahwa terdapat penurunan tekanan udara di modul Zvezda yang menjadi tempat tinggal bagi kru ISS.

Permasalahan yang ada di ISS juga diperparah oleh hubungan politik yang tegang di antara dua negara sponsor ISS utama, AS dan Rusia. Direktur Roscosmos bahkan sempat mengancam akan menarik Rusia dari ISS jika sanksi ekonomi AS terhadap Rusia tidak dicabut.

Meskipun Roscosmos kemudian menarik ancamannya, peristiwa tersebut menunjukkan rapuhnya kelanjutan kerja sama di dalam ISS. Rusia sendiri pun hanya berkomitmen untuk tetap berada di ISS hingga 2025, menempatkan stasiun luar angkasa tersebut ke dalam kondisi yang lebih buruk. Dengan masa pakai optimal ISS sendiri yang sudah habis sejak 2016, bukan tidak mungkin jika ISS akan tidak dapat digunakan lagi dalam waktu dekat.

Tiongkok Sang Pemain Baru

Pada saat ISS menghadapi ancaman krisis operasional, muncul dua pemain baru yang diperkirakan akan mengubah peta penjelajahan luar angkasa pada abad ke-21, yakni Tiongkok.

Pada 29 April lalu, Tiongkok berhasil memulai pembangunan stasiun luar angkasa Tiangong dengan meluncurkan modul utama Tianhe. Stasiun yang memiliki arti “Istana Surgawi” tersebut pun juga sudah dihuni oleh tiga taikonaut (sebutan astronot Tiongkok), yaitu Nie Haisheng, Liu Boming, dan Tang Hongbo sejak Juni 2021.

Dikutip dari Space.com, Tiongkok akan mengirimkan dua modul lagi untuk dirangkaikan dengan Tianhe pada 2022. Dalam bentuk akhirnya, Tiangong akan memiliki 14 rak eksperimen dan 50 port eksternal yang akan digunakan untuk studi luar angkasa.

Dengan masa pakai optimal 15 tahun, stasiun luar angkasa tersebut akan digunakan sebagai pusat penelitian luar angkasa Tiongkok setidaknya hingga 2036.

Memasuki Era Baru?

Sebelumnya, dominasi Rusia (dulu Uni Soviet) dan AS di petualangan luar angkasa sudah menjadi rahasia umum selama lebih dari 60 tahun terakhir. Sejak peluncuran Sputnik 1 dan Explorer 1 pada tahun 1957 dan 1958, kedua negara menjadi pemimpin utama dalam perjalanan menembus ruang angkasa, dari manusia pertama di luar angkasa, penjelajahan ke bulan, hingga membangun stasiun ruang angkasa masing-masing.

Kedua negara juga menjadi sponsor utama pembangunan ISS pada tahun 1998, didukung pihak-pihak lain seperti Jepang dan Eropa. Hingga saat ini pun, dominasi AS dan Rusia dalam penjelajahan ruang angkasa tetap terasa dari kewajiban seluruh astronaut di dunia untuk memahami Bahasa Inggris dan Rusia jika ingin terbang ke ISS.

Namun, kehadiran Tiongkok menjadi pertanda bahwa penjelajahan luar angkasa bukan lagi menjadi tempat kekuasaan AS dan Rusia semata. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Tiongkok sudah mampu menciptakan kekuatan luar angkasa yang tidak bergantung kepada dua adidaya luar angkasa tersebut.

Selain itu, apabila ISS benar-benar mati dalam waktu dekat, stasiun luar angkasa aktif yang tersisa hanyalah stasiun Tiangong milik Negeri Paman Xi tersebut. Dengan demikian, setiap ilmuwan yang ingin melakukan penelitian jangka panjang di luar angkasa harus “minta izin” kepada Tiongkok.

Di sisi lain, muncul penjelajah luar angkasa yang berasal dari pihak non-negara, yaitu sejumlah miliarder dari perusahaan kaya raya. Richard Branson dari Virgin Group dan Jeff Bezos dari Amazon tercatat sebagai dua pengusaha dengan misi luar angkasa yang cukup berhasil.

Keberhasilan dua misi tersebut kedepannya disebut akan membuka kesempatan bagi turisme luar angkasa. Ini tentunya menjadi satu lagi hal baru bagi eksplorasi luar angkasa.

Pada akhirnya, memang perubahan geopolitik di bumi juga akan memengaruhi dinamika eksplorasi luar angkasa. Pemain lama hilang, pemain baru muncul. Bagaimanapun juga, kelanjutan penjelajahan luar angkasa seharusnya dapat membawa kemajuan pengetahuan bagi seluruh umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.