Kapal AS Tegaskan Kebebasan Berlayar di LTS, Tiongkok Klaim Berhasil Usir

Ilustrasi Kapal Perang AS yang beroperasi di LTS. Foto: Samuel Hardgrove/Agence France Presse

Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Tiongkok kembali bersitegang di Laut Tiongkok Selatan (LTS). Pasalnya, kapal perang AS USS Benfold berlayar melintasi Kepulauan Paracel, wilayah yang diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayah nasionalnya.

Dikutip dari Aljazeera, AS ikut balik mengklaim bahwa keberadaan kapal perang AS itu “sesuai dengan hukum internasional.”

Pernyataan Armada Ketujuh Angkatan Laut AS menyebut bahwa USS Benfold hanya “menjalankan hak dan kebebasan navigasi” di sekitar Kepulauan Paracel sesuai Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) dan menyebut bahwa klaim Tiongkok atas wilayah tersebut sebagai “bohong” dan “misinterpretasi.”

Merespons hal tersebut, Tiongkok mengeluarkan pernyataan keras bahwa angkatan bersenjatanya “mengusir” kapal angkatan laut AS USS Benfold yang masuk ke sekitar Kepulauan Paracel pada hari Senin (12/07) yang lalu.

Pertanyaan tersebut cukup spesial karena bertepatan dengan perayaan lima tahun putusan Mahkamah Internasional yang menyebut Tiongkok tidak punya berhak mengklaim wilayah apa pun di LTS, termasuk Kepulauan Paracel.

“Kami meminta AS untuk menghentikan aksi provokasi tersebut,” tulis pernyataan dari Komando Militer Wilayah Selatan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. AS membantah pernyataan bahwa kapalnya “diusir” dari Kepulauan Paracel.

Apabila ditelisik dalam dimensi geopolitik, Kepulauan Paracel sendiri adalah gugusan dari ratusan karang dan atol yang diperebutkan oleh Tiongkok, Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei. Diduga, kepulauan tersebut menyimpan kekayaan sumber daya alam yang besar.

Beijing sudah mengklaim kepulauan tersebut melalui Nine-dash Line yang diklaim sudah ada sejak era Dinasti Ming. Secara fisik, Tiongkok pun juga telah mengendalikan wilayah tersebut secara militer sejak 1970-an.

Klaim tersebut ditolak oleh Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag pada 12 Juli 2016. Menurut putusan mahkamah tersebut, Tiongkok tidak memiliki kontrol historis di LTS. Tiongkok juga dinilai melanggar kedaulatan Filipina dengan melakukan eksplorasi migas di wilayah Paracel yang diklaim Manila.

Namun, Tiongkok yang sudah menjadi negara terkuat kedua di dunia pada masa kini menolak putusan tersebut dengan mudahnya. Melihat ancaman tersebut, Menlu AS Anthony Blinken sampai mengancam bahwa invasi Tiongkok ke wilayah Filipina akan mengaktifkan aliansi keamanan antara AS dengan Filipina.

Dinamika LTS memperlihatkan bagaimana rentannya hubungan AS-Tiongkok pada masa kini. Kesalahan sedikit saja dalam pergerakan USS Benfold, kedua belah pihak beserta sekutunya dapat jatuh ke dalam konfrontasi terbuka. Dengan demikian, penurunan tensi di antara kedua negara perlu dilakukan dengan segera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *