Kebangkitan Angkatan Laut Tiongkok: Peningkatan Jumlah Armada, Teknologi, dan Ekspor Kapal

Illustrasi gambar satelit dari kapal induk tiruan milik Tiongkok. Foto: Reuters

Akhir dekade 2010-an menjadi titik awal kebangkitan angkatan laut Tiongkok, People’s Liberation Navy (PLN); sekarang, Tiongkok makin tancap gas untuk membangkitkan kekuatan laut mereka untuk menghadapi ancaman AS dan sekutunya.

Laporan satelit terbaru memperlihatkan bahwa pembangunan kapal induk ketiga Tiongkok sedang dalam tahap penyelesaian. Pakar dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa kapal induk tersebut dapat selesai dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Tiongkok juga berhasil melakukan ekspor kapal perang kelas fregat terbaru ke Pakistan, sekutu utamanya di Asia Selatan. Apalagi, kapal perang tersebut merupakan kapal perang tercanggih yang pernah Tiongkok ekspor, memperlihatkan perkembangan signifikan dalam kerja sama strategis Tiongkok dengan sekutunya.

Pada saat yang bersamaan, Tiongkok diketahui sedang melatih kapabilitas tempurnya untuk menghadapi AS. Foto satelit memperlihatkan adanya tiruan kapal induk AS yang ada di wilayah uji coba rudal balistik di Xinjiang, Tiongkok.

Meskipun Tiongkok makin berusaha meningkatkan kapabilitasnya dan menunjukkan postur konfrontatif terhadap AS, berbagai pihak masih meragukan kemampuan Tiongkok untuk melakukan konfrontasi langsung terhadap AS dan sekutunya. Hal tersebut disebabkan armada Tiongkok masih cenderung didominasi kapal berukuran kecil dan dikelilingi oleh First Island Chain yang membatasi akses Tiongkok ke Samudra Pasifik.

Kapal Induk Baru, Lebih Canggih

Dilansir dari Insider, foto satelit terbaru memperlihatkan pembangunan kapal induk baru Tiongkok di Jiangnan, Shanghai pada Selasa (9/11) lalu.

Kapal induk yang diidentifikasi dengan “Type 003” tersebut diketahui memiliki sejumlah peningkatan yang signifikan dibandingkan kapal induk Tiongkok sebelumnya.

Sebagai contoh, Pentagon menyebut bahwa Type 003 berukuran lebih besar dari pendahulunya dan mampu mengangkut pesawat tempur yang lebih andal, termasuk pesawat tempur generasi terbaru.

Type 003 juga akan dilengkapi dengan alat peluncur (catapult) sehingga pesawat yang akan tinggal landas dapat membawa bahan bakar dan senjata yang lebih besar.

Sejauh ini, Tiongkok sendiri sudah memiliki dua kapal induk, Liaoning dan Shandong. Meskipun demikian, kedua kapal induk tersebut menggunakan landasan pacu berbentuk ramp yang membatasi kemampuan tempur kapal induk tersebut.

Jika kapal induk Type 003 bergabung ke dalam armada laut Tiongkok, kemampuan tempur Tiongkok di lautan diprediksi akan meningkat secara signifikan dan menciptakan ancaman yang lebih besar bagi AS dan sekutunya.

Ekspor Kapal Tempur Baru, Perkuat Kerja Sama Strategis

Pada saat yang berdekatan, Tiongkok mengirimkan kapal tempur baru kepada Pakistan pada Senin (8/11). Kapal tempur baru tersebut adalah kapal fregat kelas Type 054A/P yang dinamai PNS Tughril.

Yang membuatnya berbeda, PNS Tughril merupakan kapal tempur terbesar dan tercanggih yang pernah Tiongkok ekspor hingga saat ini.

Dilansir dari Global Times, fregat tersebut memiliki kemampuan tempur surface-to-surface, surface-to-air, dan underwater yang luar biasa. PNS Tughril juga memiliki kemampuan intai, sistem manajemen pertempuran, peperangan elektronik, dan pertahanan diri yang canggih.

Otoritas Pakistan mengklaim bahwa kapal Type 054A/P dapat “melakukan berbagai misi pertempuran laut dalam kondisi multi-ancaman yang intens.”

Pengiriman kapal tersebut menjadi titik loncatan baru bagi kerja sama strategis Tiongkok-Pakistan. Dengan kemampuan untuk mengimbangi balance of power di Samudra Hindia, kapal tersebut diharapkan dapat meningkatkan proyeksi kekuatan Tiongkok di samudra tersebut sembari meningkatkan kapabilitas Pakistan melawan musuhnya, India.

Tiruan Kapal Induk AS di Gurun, Tiongkok Uji Coba Senjata

Sementara itu, konfrontasi angkatan laut Tiongkok-AS kembali jadi perhatian secara absurd dengan kemunculan tiruan kapal induk AS di Gurun Taklamakan, Xinjiang, Tiongkok.

Dikutip dari CNN, United States Naval Institute (USNI) menyebut bahwa berdasarkan pantauan satelit Maxar, Tiongkok membangun replika kapal induk kelas Gerald R. Ford, kapal induk terbesar AS yang sedang dibangun,  dan dua replika kapal perusak kelas Arleigh Burke.

“Replika-replika kapal tersebut memperlihatkan bahwa Tiongkok sedang berusaha membangun kapabilitas anti-kapal induk, terutama kapal induk AS,” sebut USNI.

Wilayah tersebut umum digunakan sebagai tempat uji coba rudal balistik Tiongkok. Konteks wilayah tersebut sesuai dengan perkembangan persenjataan Tiongkok sendiri yang sedang dalam proses pengembangan rudal balistik anti-kapal.

Menyikapi temuan tersebut, Pentagon menyatakan tahu akan hal tersebut, tetapi memilih untuk lebih fokus terhadap kerja sama Indo-Pasifik.

“Yang kami lebih waspadai … ialah peningkatan perilaku intimidasi dan koersi militer Tiongkok di Indo-Pasifik,” ujar Sekretaris Pers Departemen Pertahanan AS John F. Kirby.

“Kami fokus untuk mengembangkan kapabilitas, konsep operasional, dan menyiapkan sumber daya serta strategi yang sesuai agar kami dapat menghadapi sumber tantangan nomor satu (Tiongkok),” tambahnya.

Apakah Kapabilitas Sudah Cukup?

Peningkatan kekuatan laut Tiongkok tersebut tak ayal mengundang kekhawatiran dari kawasan sekitar. Jepang sendiri diketahui mengubah “kapal perusak helikopter”-nya menjadi kapal induk de facto untuk menghadapi peningkatan ancaman laut Tiongkok.

Meskipun demikian, sejumlah pihak tetap sangsi dengan kemampuan Tiongkok untuk menghadapi AS dan sekutunya.

Penulis Forbes David Axe memang menyebut bahwa Armada Tiongkok jauh lebih besar secara kuantitas dari Armada Indo-Pasifik AS, tetapi ukuran kapal-kapal Tiongkok jauh lebih kecil dibandingkan kapal-kapal AS.

Kapal perusak kelas Arleigh Burke sebagai median armada laut AS memiliki berat 9.000 ton, sementara kapal perusak Type 045 sebagai median armada laut Tiongkok hanya memiliki berat 4.000 ton.

Jika tonase kapal semakin besar, suatu kapal akan memiliki persenjataan yang lebih banyak, pertahanan yang lebih kuat, dan kapasitas bahan bakar yang lebih besar untuk mengarungi samudra. Sebaliknya, kapal yang kecil cenderung diarahkan untuk bertempur jarak dekat saja dan lebih sulit bergerak jauh dari pangkalan.

Tiongkok juga terkunci di pesisir Laut Kuning dan Laut Cina Timur saja karena ada First Island Chain yang membentang dari Semenanjung Kamchatka hingga Kalimantan.

Dalam rangkaian pulau tersebut, terdapat tiga sekutu AS (Jepang, Taiwan, dan Filipina) yang menghadang Tiongkok untuk mengakses Samudera Pasifik sehingga proyeksi kekuatan Laut Tiongkok akan sangat terbatas di pesisir Tiongkok saja.

Peningkatan kapabilitas laut Tiongkok tersebut memperlihatkan kesungguhan Tiongkok untuk memiliki angkatan bersenjata yang lebih banyak dan canggih AS. AS dan sekutunya harus berusaha mengimbangi kebangkitan angkatan laut Tiongkok ini, jika ingin tetap menjaga perimbangan kekuatan di dunia. Jika Tiongkok dapat unggul secara mutlak di laut, tentu akan ada banyak perubahan lainnya yang menyusul di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *