Konflik Rusia-Ukraina dan Implikasinya bagi Tatanan Global

Ilustrasi Antony Blinken dan Sergei Lavrov. Foto: Alex Brandon/Pool AP

Beberapa pekan terakhir, perhatian pengamat hubungan internasional terpusat pada Ukraina. Setelah beberapa tahun berada dalam tahap frozen conflict yang terbatas pada garis kontak di Donbass, potensi konflik terbuka di Ukraina kembali terbuka seiring dengan dikumpulkannya 100.000 tentara Rusia di perbatasan Ukraina serta pengiriman tank, kapal, dan alutsista lainnya dari berbagai penjuru Rusia. Berbagai upaya diplomatik sudah dijalankan dengan keterlibatan Amerika Serikat, NATO, dan OSCE untuk mencegah potensi konflik terbuka dan serangan Rusia ke Ukraina, namun masih belum memberi hasil yang konklusif karena Barat menegaskan tidak akan menuruti permintaan jaminan keamanan Rusia yang di dalamnya memuat kesepakatan tertulis bahwa Ukraina tidak bisa bergabung dengan NATO. AS dan sekutu-sekutunya juga berjanji akan memberikan sanksi serius bagi Rusia jika Rusia menyerang Ukraina serta dukungan diplomatik, materil, dan persenjataan bagi Ukraina dalam mempertahankan integritas teritorialnya. Sementara itu, Rusia membantah akan menyerang Ukraina dan menganggap Rusia mempunyai hak untuk menggerakkan pasukan di wilayahnya sendiri, dan balik menuduh Barat karena dianggap mempunyai niatan ofensif terhadap Rusia seiring perluasan NATO ke Eropa Timur dan banyaknya pasukan NATO di dekat perbatasan Rusia.

Konflik Rusia-Ukraina sendiri muncul pada awal tahun 2014 sebagai imbas dilengserkannya Presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych menyusul beberapa bulan demonstrasi akibat penolakan Yanukovych yang menunda kesepakatan dengan Uni Eropa. Jatuhnya Yanukovych mendorong pergolakan di Krimea, wilayah Ukraina yang dihuni etnis Rusia dan menjadi bagian Soviet Ukraina sebagai bentuk serah terima dari pemimpin Soviet Nikita Khrushchev tahun 1954. Krimea kemudian memilih bergabung dengan Rusia melalui referendum yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional. Sementara, insurgensi juga muncul di wilayah industri Donbass (Donetsk dan Luhansk) yang juga dihuni etnis Rusia, yang kemudian memilih melepaskan diri dari Ukraina. Pertempuran kemudian terjadi di Donbass hingga perjanjian gencatan senjata tahun 2015. Seiring waktu, upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik seperti Formula Steinmeier, Kesepakatan Minsk, dan Normandy Four belum membawa dampak signifikan dan lebih dari 14.000 tentara gugur dalam pertempuran di garis kontak Donbass. Pergantian kepemimpinan Ukraina dari Petro Poroshenko ke komedian Volodymyr Zelensky tahun 2019, yang membawa perdamaian sebagai janji kampanyenya juga tidak berdampak besar karena Zelensky sendiri memiliki posisi rapuh dalam politik domestik Ukraina.

Dalam tulisan ini, penulis beropini mandeknya resolusi konflik Rusia-Ukraina dan permainan kekuatan besar yang ada dalam konflik ini memiliki sejumlah implikasi bagi keamanan internasional yang akan dirasakan secara global. Implikasi tersebut diantaranya 1) jatuhnya unipolaritas AS dan semakin tampaknya persaingan kekuatan besar (great-power competition) sebagai elemen penting tatanan global kontemporer, 2) semakin kuatnya geopolitik kritis dalam mempengaruhi politik internasional, dan 3) meskipun konflik ini terjadi di Eropa, namun Asia sebagai kawasan yang sering disebut sebagai pusat geopolitik abad ke-21 juga akan merasakan dampak dari peristiwa di Ukraina.

Berakhirnya dominasi unipolaritas AS sudah menjadi fokus pembahasan hubungan internasional dalam berbagai tahun terakhir, seiring dengan kebangkitan Tiongkok dan Rusia sebagai poros kekuatan non-Barat dan berkurangnya komitmen AS dalam percaturan global, seperti dalam penarikan pasukan AS dari Afganistan dan tren America First yang mendorong AS untuk lebih inward-looking. Dalam konteks Ukraina, permintaan tertulis Rusia terhadap AS dan NATO dapat dilihat sebagai bagaimana Rusia meyakini ia sanggup untuk melawan ketetapan AS dan akan ada konsekuensi jika tuntutan ini tidak terpenuhi. Tuntutan-tuntutan tersebut di antaranya memuat larangan Ukraina, Georgia, dan negara-negara eks-Soviet lainnya untuk bergabung dalam NATO, mengembalikan postur NATO di Eropa kembali ke postur sebelum tahun 1997 (sebelum negara eks-Pakta Warsawa bergabung dalam NATO), dan melarang instalasi misil di negara eks-Pakta Warsawa. Akibatnya, negosiasi tingkat tinggi antara pejabat-pejabat AS dan Rusia harus dijalankan secara rutin dan kontinyu, dengan AS-Rusia duduk satu meja, setara, seakan menunjukkan AS bukan lagi hegemon tunggal yang tak tersaingi. Situasi saat ini berbeda dengan kondisi di tahun 1990-an ketika Rusia sedang mengalami kesulitan ekonomi, lemah, dan harus menerima kebijakan AS di Eropa Timur. Meskipun Rusia tidak memiliki kekuatan ekonomi sebesar AS, namun kemampuan militernya yang mumpuni, posisinya sebagai penyedia energi bagi Eropa dan “kecerdasan strategis” Putin telah membuatnya memberi tantangan terhadap kekuatan hegemoni AS di Eropa.

Kedua, dapat dilihat banyak persepsi geopolitik kritis yang muncul dalam konflik Rusia-Ukraina. Jika geopolitik tradisional hanya melihat geografi, maka geopolitik kritis melihat faktor budaya, ideologis, religius, dan historis dalam melihat pemaknaan politis terhadap suatu entitas geografis. Dalam konflik Rusia-Ukraina, penulis menemukan dua identitas geopolitik yang berbeda, yaitu identitas Rusia dan Ukraina. Bagi Rusia, sebagaimana ditunjukkan dalam artikel Presiden Putin, sejarah Rusia dan Ukraina adalah satu dengan akar yang sama, yaitu Kievan Rus. Rusia dan Ukraina diikat oleh tali persaudaraan bahasa, budaya, religius, dan pengalaman sejarah. Rusia melihat konsep Ukraina sebagai negara terpisah adalah konstruksi geopolitik yang bertujuan melemahkan identitas Rusia. Oleh karena itu, penting bagi Rusia dan Ukraina tetap berhubungan dekat seperti halnya Jerman dan Austria atau Kanada dan AS. Rusia melihat masuknya Ukraina ke NATO akan mengancam keamanan Rusia karena jaraknya yang dekat dan trauma Rusia terhadap invasi Barat. Sementara, identitas Ukraina melihat dirinya sebagai asal mula Kyivan Rus sesungguhnya, sedangkan Rusia baru muncul setelah invasi Mongol (akun Twitter Ukraina menyebut ketika Kyiv sudah menjadi kota dengan peradaban yang unggul, Moskow masih berupa hutan yang dihuni katak). Setelah Ukraina bergabung dengan Rusia, Ukraina mengalami diskriminasi dan kekayaan budayanya “dicuri” Rusia. Era Soviet menyebabkan represi dan upaya genosida terhadap bangsa Ukraina melalui Holodomor. Kini, Ukraina harus mempertahankan diri dari serangan Rusia sebagai negara agresor. Dari sini, kajian konstruktivis akan semakin penting dengan melihat ide-ide dan konstruksi sosial dalam mempengaruhi power politics dan bagaimana suatu negara memaknai keadaan diri dan sekitarnya.

Terakhir, meskipun Ukraina jauh dari Asia, tetapi tetap akan ada efek yang muncul bagi Asia. Selama ini, konflik Ukraina memang cukup terpinggirkan dari perhatian akademisi Asia Tenggara, dengan konflik Tiongkok-Taiwan yang lebih dekat mengundang perhatian dan kekhawatiran yang lebih besar. Bukan tidak mungkin langkah militer apapun yang dilakukan Rusia di Ukraina akan dilihat seksama oleh Tiongkok, yang kini menjadi mitra dekat Rusia, dan menggunakan ini sebagai justifikasi untuk menguasai Taiwan dan memaksakannya kembali menjadi bagian Tiongkok dalam “reunifikasi bangsa Tionghoa”—yang lagi-lagi menunjukkan persepsi kultural seperti dalam kasus Rusia-Ukraina. Sementara itu, di sisi lain kemampuan Rusia dalam menghalau tantangan Amerika Serikat akan semakin dilihat sebagai bagaimana Amerika Serikat bukanlah satu-satunya kekuatan besar dalam dunia kontemporer, sehingga apakah Amerika Serikat akan berkomtimen dan mampu untuk menjaga Asia Tenggara akan dipertanyakan. Di sisi lain, Rusia yang semakin kuat juga akan mengundang kekhawatiran bagi beberapa negara Asia Timur, terutama Jepang yang memiliki sengketa pulau dengan Rusia dan mengurangi harapan Jepang agar pulau-pulau sengketa tersebut bisa dikembalikan ke Jepang.

Dari tulisan ini, dapat dilihat bahwa perkembangan selanjutnya konflik Rusia-Ukraina akan berdampak signifikan terhadap hubungan internasional kontemporer dan dampaknya terasa secara global. Oleh karena itu, penting bagi akademisi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk memberi perhatian terhadap perkembangan konflik di Ukraina dan mulai berpikir apa yang bisa terjadi kedepannya. Studi dan pemahaman terhadap kawasan pasca-Soviet, yang selama ini lumayan terpinggirkan mengingat posisinya di “pinggiran Eropa dan Asia” juga penting untuk semakin didalami seiring banyaknya dinamika politik di kawasan ini yang dapat memiliki dampak strategis yang signifikan secara global. Penulis menutup tulisan ini dengan kutipan salah satu sastrawan Rusia, Fyodor Dostoevsky, yang berkata kesakitan dan penderitaan tidak dapat dihindari karena kecerdasan manusia dan nafsu hati yang kuat. Konflik di Ukraina menunjukkan konflik sebagai bagian penting dalam hubungan internasional yang didasarkan pada persepsi geopolitik yang berbeda, yang kemudian berdampak kepada lingkungan sekitarnya, baik secara regional maupun global.

Jonathan Jordan adalah alumni Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang memiliki minat pada kajian politik dan kebijakan luar negeri Rusia. Dapat ditemui di Instragram dengan nama pengguna @yurichernousov

Leave a Reply

Your email address will not be published.