Krisis Iklim, Puluhan Negara Dilanda Banjir dan Kebakaran Hutan

Ilustrasi bencana banjir dan kebakaran hutan. Foto: Olahan Kontekstual

Musim panas tahun 2021 di belahan bumi utara dihiasi dengan bencana alam yang menunjukkan krisis iklim. Hal itu ditandai dengan melandanya kebakaran hutan yang masif di negara belahan bumi utara. Sementara itu, kenaikan permukaan laut pun telah menyebabkan banjir di beberapa negara dataran rendah.

Bulan Juni hingga September 2021 memang diproyeksikan sebagai musim panas di belahan bumi utara dan ahli meteorologis telah memperkirakan musim kebakaran hutan. Hanya saja, para ahli meteorologis tidak menyangka bahwa musim kebakaran hutan 2021 datang jauh lebih cepat dan ganas dari yang diperkirakan.

Amerika Serikat sedang menghadapi sekitar 12 lebih kasus kebakaran hutan yang diperkirakan akan meningkat lagi di bulan September. Kasus yang paling menonjol terjadi di California (Dixie Fire) sebesar 113 hektar dan Oregon (Bootleg Fire) sebesar 167 hektar.

Tetangga AS, Kanada, juga mengalami kebakaran yang cukup parah di daerah British Columbia dan Ontario. Pergerakan angin yang mengarah ke selatan juga menyebabkan beberapa daerah di AS, terutama Wisconsin, untuk menerima imbas asap kebakaran hutan tersebut. Dengan tingkat polusi 167 di indeks kualitas udara menunjukkan bahwa udara bersifat berbahaya jika dihirup anak kecil dan penderita asma. 

Sementara itu, kebakaran di Eropa meliputi kebakaran besar di Sakha, Rusia, yang menyebabkan penerbangan melalui Rusia terganggu dan harus mencari rute lain. Kebakaran ini menjadi kebakaran penghasil emisi karbon terbesar, yakni 505 megaton karbon. 

Kebakaran hutan juga terjadi di daerah pulau Sardinia dan Sisilia di Italia. Selain itu, kebakaran hutan besar di Yunani telah menyebar ke daerah Turki. Pergerakan angin memungkinkan adanya penyebaran asap ke Laut Mediterania dan mencapai Afrika Utara. Kebakaran di daerah Mediterania ini sendiri menjadi ancaman tersendiri bagi Turki dan Yunani yang suplai energinya dekat dengan titik kebakaran.

Kenaikan temperatur bumi akibat krisis iklim yang sedang berlangsung pun diperparah oleh kebakaran hutan yang masif. Hal ini turut meningkatkan level pencairan es seperti di Greenland, Denmark, yang mengalami tingkat pencairan tinggi yang menyebabkan kenaikan permukaan laut di Samudera Atlantis. 

Krisis ini juga  menciptakan banjir di Eropa Barat di daerah yang dilewati sungai, seperti di Jerman, Belanda, Prancis, Swiss, dan Belgia. Jika tidak dapat dikontrol dan dihentikan, banjir diperkirakan mampu menyebar hingga daerah Kaukasus.

Banjir juga melanda di daerah Asia Selatan diakibatkan kenaikan curah hujan yang disebabkan penguapan yang tinggi di daerah utara. Hujan yang berlebihan telah menyebabkan banjir di daerah Maharashtra, India yang menghasilkan 209 korban jiwa dan daerah pengungsian Rohingya di Bangladesh yang mengalami kehancuran 4.000 pemukiman pengungsi. Curah hujan tinggi juga telah mengintensifkan banjir yang telah ada di Myanmar sejak lama. 

Rentetan bencana yang bertubi-tubi ini menunjukkan bahwa bencana alam adalah sebuah isu yang dihadapi oleh seluruh dunia. Berbagai bencana yang datang diluar perkiraan adalah bukti bahwa krisis iklim semakin tidak terkendali. Baik dalam penanganan bencana maupun pencegahan perubahan iklim, negara-negara harus dapat bekerja bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *