Kurangi Dependensi Energi Rusia, Jerman Bentuk Kerja Sama dengan Qatar

Menteri Ekonomi Jerman Habeck berbincang dengan Pemimpin Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Foto: Bernd von Jutrczenka/Picture Alliances

Minggu (20/3), Jerman dan Qatar berhasil mencapai kesepakatan kerja sama jangka panjang berkaitan penyediaan energi. Perjanjian ini dinyatakan sebagai manifestasi keinginan Jerman untuk mengurangi dependensi energi terhadap sumber energi dari Rusia.

Hingga kini, Rusia adalah penghasil ekspor gas alam terbesar di dunia dan sebelumnya adalah penyuplai gas terbanyak ke Jerman. Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck menyatakan bahwa Jerman inisiatif memutus hubungan penyuplaian ini sebagai bentuk ketidaksetujuan atas invasi Rusia terhadap Ukraina.

Kenapa Qatar?

Habeck menyatakan bahwa kedua pihak berhasil mencapai kesepakatan untuk saling bekerja sama. Pemimpin Qatar, Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menyatakan bahwa keinginan bekerja sama dengan Jerman telah ada sejak lama, tetapi sayangnya diskusi tidak pernah menghasilkan hasil yang konkrit.

Qatar menyatakan bahwa mereka akan mendorong penyaluran LNG (Liquid Natural Gas) berkelanjutan terhadap Jerman. Dibandingkan dengan Rusia, Qatar merupakan penghasil ekspor gas alam terbesar ketiga di dunia, hanya kalah dari Rusia dan Amerika Serikat. 

Selain itu, seiring waktu Qatar muncul sebagai salah satu mitra penting di Timur Tengah bagi Barat. Qatar telah menjadi jembatan diplomasi dalam kasus Taliban, memiliki hubungan ekonomi yang semakin dekat dengan Eropa, hingga secara resmi diakui oleh AS sebagai ‘major non-NATO ally’ Hal tersebut menjadikan Qatar suatu alternatif mitra strategis bagi Jerman, salah satunya dalam perihal energi.

Belajar Dari Kesalahan

Kebijakan baru ini dalam banyak cara didorong oleh kenyataan bahwa kondisi yang ada sekarang tidak dapat dipertahankan. Habeck menyatakan bahwa kebijakan energi Jerman baru ini akan memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh pemerintahan Jerman sebelumnya. Habeck menambahkan bahwa tingkat impor gas Rusia di Jerman yang mencapai 55% merupakan situasi yang seharusnya tidak tercipta. Jerman harus melakukan diversifikasi penyuplai sekaligus 

Walaupun Jerman sekarang membentuk kerjasama dengan Qatar, suplai gas dari Rusia masih terus berlanjut. Rusia juga belum memutuskan akan benar-benar memotong suplai gas ke Eropa, meski sempat mengancam akan melakukannya.

Sementara itu, kerjsama Nord Stream 2 yang akan meningkatkan ekspor gas Rusia ke Eropa terhenti, entah untuk sementara atau selamanya.

Namun, kerjasama dengan Qatar ini tidak berarti bebas dari masalah. Jerman selama ini lebih bergantung kepada gas yang disalurkan melalui pipa. Padahal, Qatar hanya menjanjikan bantuan energi dalam bentuk LNG. Jerman hingga sekarang tidak memiliki terminal LNG yang beroperasi, baru hanya terdapat beberapa saja yang sedang dibangun. Dengan begitu, pengiriman LNG dari Qatar ke Jerman tentu akan menjadi tantangan tersendiri.

Selain dengan Qatar, Jerman juga memiliki kerja sama energi dengan Uni Emirat Arabterkait dengan hidrogen hijau. Rencana ini juga akan memenuhi target pemerintahan Jerman untuk menciptakan suplai energi yang beragam, sekaligus memberikan alternatif energi yang lebih bersih. Akan tetapi, kerja sama dengan Uni Emirat Arab masih lebih jauh lagi dari kata terealisasi. 

Pada akhirnya, kerja sama dengan Qatar adalah inisiatif Jerman untuk melepas dependensi energinya terhadap Rusia. Dengan dependensi yang tinggi terhadap Rusia, Jerman menjadi rentan terhadap ancaman dari Rusia. Dalam jangka panjang, Jerman akan terus mengurangi dependensinya terhadap energi Rusia melalui diversifikasi penyuplai dan transisi hijau. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.