Macron Kembali Terpilih Menjadi Presiden, Mengukir Sejarah di Prancis

Ilustrasi kemenangan Emmanuel Macron. Foto: AP

Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron kembali terpilih sebagai Presiden Prancis setelah mengalahkan pesaing utamanya, Marine Le Pen, dalam putaran kedua Pilpres Prancis 2022.

Berdasarkan hitung cepat yang hampir mencapai 100 persen, Macron yang beralas dari partai En Marche berhasil mengumpulkan 58,6 persen suara masyarakat Prancis, sementara Le Pen hanya berhasil mengumpulkan 41,4 persen suara, tulis Aljazeera.

Putaran kedua Pilpres Prancis dilakukan karena tidak ada yang memenangi putaran pertama. Pada putaran pertama, Macron dan Le Pen masing-masing hanya memeroleh 27,85 persen  dan 23,15 persen suara. Namun, karena keduanya merupakan dua calon dengan suara terbanyak, Macron dan Le Pen melaju ke putaran kedua.

Pendukung Macron merayakan kemenangan pria 44 tahun tersebut setelah hasil hitung cepat keluar di layar besar di taman Champ de Mars dekat Menara Eiffel. Dengan demikian, Macron menjadi presiden pertama yang memenangi Pemilu dua kali setelah sekian lama, sejak terakhir Jacques Chirac pada 2002.

Performa Macron Lebih Rendah dari 2017

Meski kembali memenangi pemilihan, performa Macron pada Pilpres 2022 lebih rendah dari ketika ia memenangi Pilpres 2017. Pencapaian 58,6 persen suara merupakan tanda yang jelas bahwa dukungan terhadap Macron menurun karena ia sebelumnya memeroleh 66,1 persen suara pada 2017.

Penurunan performa tersebut juga makin kentara jika melihat sentimen politik pemilih Macron. Banyak dari mereka yang memilih Macron pada putaran kedua bukanlah mereka yang sebenarnya ingin mendukung pria 44 tahun tersebut; mereka hanya ingin Le Pen yang ultranasionalis tidak menjadi presiden.

Situasi tersebut dipahami oleh Macron. “Banyak orang di negara ini memilihku bukan karena mereka mendukung ideku, tetapi karena mereka ingin mencegah dominasi sayap kanan,” ujar Macron. Ia pun berjanji untuk menjadi “presiden untuk semua.”

Le Pen, meskipun dikalahkan kembali untuk yang ketiga kalinya dalam pilpres, merayakan hasil yang dicapai dirinya dalam Pilpres 2022. Untuk pertama kalinya, calon presiden dari sayap ekstrim berhasil mencapai lebih dari 40 persen suara dalam pilpres.

“Dalam kekalahan ini, saya merasakan harapan,” ujar perempuan 53 tahun itu. Ia berjanji akan tetap berjuang agar partai sayap kanan dapat menguasai parlemen dalam Pemilu pada Juni depan.

Realitas Prancis yang Terpolarisasi

Pilpres 2022 memperlihatkan situasi Prancis yang mengalami polarisasi besar-besaran. Pierre Haski, komentator politik Prancis, memperlihatkan bahwa terdapat tiga kekuatan besar dalam pilpres Prancis yang akan bertarung dalam pemilu bulan Juni.

“Ada Macron di sayap tengah, ada Le Pen di sayap kanan yang berhasil meningkatkan basis kekuatannya, dan ada Jean-Luc Melenchon di sayap kiri yang menduduki posisi ketiga dalam putaran pertama pilpres dan siap membalaskan dendam pada pemilu parlemen,” ujar Haski.

“Jika Macron gagal memeroleh mayoritas dalam pemilu parlemen, ia akan memiliki perdana menteri dari partai dengan orientasi politik yang berbeda dan itu akan menjadi sumber ketegangan dan kesulitan,” tambahnya. Pemilu Parlemen Prancis baru akan berlangsung 10 Juni 2022 nanti.

Meskipun Macron terpilih kembali, Macron kini memiliki beban yang lebih berat dalam membuktikan janji-janjinya yang belum terealisasi, serta lebih berfokus kepada masalah-masalah domestik ketimbang terlalu banyak bermain di Eropa. Perlu lima tahun lagi untuk melihat apakah Macron berhasil memenuhi ekspektasi dan mengatasi masalah-masalah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.