Makna Pelabelan ‘Kadrun’ di Media Sosial dalam Kajian Orientalisme

Ilustrasi Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Foto: Shutterstock

Meningkatnya masyarakat dalam mengeluarkan opini di media sosial memang bukanlah suatu hal yang dilarang, karena hal tersebut dijamin dalam Undang-Undang Pasal 28. Namun demikian, masyarakat Indonesia masih saja terbawa arus untuk mengeluarkan opini negatif di media sosial tanpa mempertimbangkan makna dari hal tersebut. Fluktuasi politik yang berasal dari dinamika kontestasi pemilu 2019 menjadikan isu politik semakin menarik di kalangan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia terkhusus masyarakat digital pun terbawa suasana untuk mengeluarkan beragam opininya di media sosial sebagai wujud respon atas isu tersebut. 

Terlepas dari berakhirnya isu Pilpres 2019, hal ini tetap menjadi suatu hal yang menarik dalam membicarakan perpolitikan di Indonesia. Masyarakat Indonesia pada kala itu terpolarisasi ke dalam dua kubu berdasarkan dukungan mereka terhadap pasangan calon tertentu. Polarisasi tersebut terlihat secara gamblang melalui media sosial yang mana masing-masing pendukung melakukan pelabelan negatif terhadap pihak lawan sebagai bentuk atau simbol sinisme. Hal ini dapat terlihat dari pelabelan seperti “Cebong” dan “Kampret” yang ditunjukkan dari masing-masing pendukung. Namun, kedua pelabelan tersebut mulai usang dan digantikan oleh istilah “Kadrun” yang kini ramai mewarnai kolom komentar di media sosial. Pelabelan ini berhasil dipopulerkan oleh seorang YouTuber, Denny Siregar dalam channel YouTube-nya. Menurut Denny sendiri, istilah Kadrun atau Kadal Gurun ini merujuk pada sekelompok orang yang memanfaatkan atau mengatasnamakan Islam untuk kepentingan kelompoknya (Hops.id, 2020). Semestinya pelabelan ini tidak terjadi kembali, namun apa boleh buat, masyarakat mulai terpengaruh untuk bergabung meramaikan pelabelan tersebut. Konsep pelabelan ini kembali membangkitkan polarisasi masyarakat Indonesia yang seharusnya sudah pensiun mengingat ajang kontestasi pemilu sudah berakhir. 

Pelabelan ‘Kadrun’ apabila dilihat dari kajian orientalisme, sejalan dengan konsep “Us” dan “They or Those” yang ditawarkan oleh Edward Said dalam bukunya yang berjudul Orientalism yang dipublikasi pada tahun 1978. Said sendiri  merupakan  seorang akademisi keturunan Palestina yang dalam sejarahnya cukup populer pada pertengahan abad 20. Kajian atau studi akademis tentang Timur yang dinarasikan oleh bangsa Barat mengantarkan Said untuk menilik kembali kepada konsep orientalisme. Menurut Said (1978) orientalisme merupakan model berpikir yang dibuat antara negara Timur sebagai the Orient dan negara Barat sebagai the Occident. Dalam menuliskan bukunya tersebut, wacana Foucault dan Gramsci menjadi basis teoritis terhadap konsep Orientalism yang ia tawarkan. 

Narasi imajiner  yang ditawarkan bangsa Barat terhadap bangsa Timur sebagai bangsa yang tidak rasional, kejam, bar-bar, fanatik terhadap agama, merupakan suatu hal yang kontradiktif dengan realita yang ada. Dalam mendukung narasi tersebut, hal ini terfragmentasi pada media-media massa yang dimiliki oleh bangsa Barat dan disebarluaskan kepada masyarakat sehingga menciptakan stereotip baru terhadap masyarakat bangsa Timur. Pasalnya, secara tidak langsung masyarakat dipandu untuk percaya apabila semua bangsa Arab merupakan Muslim serta semua Muslim adalah bangsa Arab. Sehingga hal ini memicu stigma negatif di kalangan bangsa Barat terhadap umat Muslim maupun bangsa Arab. Maka dari itu, Said dalam bukunya mendefinisikan kembali secara singkat apabila Orientalisme merupakan wacana bangsa Barat untuk membangun hegemoninya di dunia (Said, 2003). 

Konsep “Us” atau kami ditujukan kepada bangsa Barat (the Occident), sedangkan konsep “Those or They” yang merujuk pada konsep mereka merujuk bangsa Timur (the Orient). Kedua konsep ini ingin menjelaskan batas dari siapa kita dan siapa mereka (Said, 2003). Konsep ini juga memaksa mereka untuk mengidentifikasi diri sebagai orang Barat atau Timur. Akan tetapi, hal ini menjadi sebuah kutukan bagi bangsa Timur karena mereka diidentifikasi sebagai “Those or They” atau harus dijustifikasi sebagai orang yang bar-bar atau radikal yang dinarasikan oleh bangsa Barat. Stereotip negatif terhadap bangsa Timur, terkhusus Arab sendiri menguat pasca terjadinya dua peristiwa besar yang mengguncang dunia, yakni invasi Irak terhadap Kuwait pada tahun 1990 serta pemboman gedung menara kembar World Trade Center yang terjadi pada 11 September 2001 (Shaheen, 2003). Kehadiran peristiwa besar ini kemudian dinarasikan oleh bangsa Barat melalui media massa untuk menggiring opini masyarakat apabila bangsa Timur kejam, fanatik terhadap agama, dan barbar. Tidak hanya melalui media massa, industri Hollywood pun menjadi sumbangsih yang hebat dalam menarasikan bangsa Timur sebagai bangsa yang barbar. Oleh karena itu, hal ini pun secara gamblang memberi legitimasi kepada bangsa Barat untuk menaklukkan bangsa yang kejam tersebut. Begitulah konsep orientalisme yang ingin dijelaskan secara luas oleh Said kepada dunia. 

Merujuk pada konsep orientalisme yang ditawarkan oleh Edward Said, fenomena pelabelan yang terjadi di Indonesia terpolarisasi menjadi “Us” yang merujuk pada sekelompok orang yang mendukung atau pro terhadap pemerintah dan “They or Those” yang merujuk pada mereka yang anti terhadap pemerintah dan memanfaatkan agama Islam dalam agenda politiknya. Implikasi dari hadirnya pelabelan ini akan memberikan stigma negatif pada “mereka” yang belum tentu memanfaatkan Islam, barangkali mereka hanya ingin memberikan kritik ataupun masukan terhadap pemerintah atas segala kebijakan yang dikeluarkan. Maka dari itu, hal yang perlu digarisbawahi dalam merespon fenomena pelabelan ‘kadrun’ adalah perlunya himbauan agar masyarakat tidak terbawa arus dalam melakukan pelabelan. Hal ini karena dengan mendukung tindakan pelabelan tersebut, secara tidak langsung kita ikut andil dalam memberi legitimasi untuk mengatasi mereka yang anti pemerintah dengan membungkam suara atau pendapatnya, selain itu hal ini juga akan memperkuat polarisasi di masyarakat Indonesia. 

Referensi

Ngazis, A. Nur. (Juni, 2020). Awal mula populernya istilah Kadrun versi Denny Siregar. https://www.hops.id/awal-mula-populernya-istilah-kadrun-versi-denny-siregar/

Said, W. Edward. (2003). Orientalism. Penguin Books: London.

Shaheen, G. Jack. (Juli, 2003). Reel Bad Arabs: How Hollywood Vilifies a People. The Annals of the American Academy of Political and Social Science. Islam: Enduring Myths and Changing Realities. Vol. 588. (171-193)

Tazri, Muhammad. ‘Cebong’ dan ‘Kampret’ dalam perspektif Komunikasi Politik. Jurnal PIKMA Publikasi Ilmu Komunikasi Media dan Cinema http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1260877&val=14171&title=Cebong%20dan%20Kampret%20dalam%20Pespektif%20Komunikasi%20Politik

Keni Yulianita Dinansyah adalah mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia. Dapat ditemui di Instagram melalui nama pengguna @kenyyulianita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *