Masuknya Beruang ke Padang Belantara: Meninjau Peran Rusia di Afrika

Sambutan Putin pada gala reception Konferensi Rusia-Afrika di Sochi pada 2019 lalu. Foto: Kantor Kepresidenan Rusia

Peran Rusia di Afrika dapat dikatakan sangat jarang dibahas ketimbang peran kekuatan besar lain di Afrika, seperti Tiongkok atau Uni Eropa. Meskipun begitu, seiring dengan banyaknya kekuatan besar dan regional yang masuk ke Afrika, Rusia juga mulai tergerak untuk menanamkan pengaruhnya di benua Afrika. Pengamat dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan arah perkembangan dinamis dalam hubungan Rusia-Afrika. Mulai dari KTT Rusia-Afrika pertama di Sochi tahun 2019, masuknya kontraktor militer swasta Rusia dalam konflik di beberapa negara Afrika, dan berbagai isu lainnya. Dengan minimnya tulisan yang membahas peranan Rusia di Afrika, terutama dalam pengembangan ilmu HI di Indonesia, maka disini penulis berusaha menghadirkan opini penulis dalam meninjau peran Rusia di Afrika, yang akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) motivasi Rusia untuk aktif lagi di Afrika, (2) bentuk kerjasama Rusia-Afrika kontemporer, dan (3) implikasinya bagi hubungan internasional di Afrika dan secara global.

Terkait motivasi pertama, perlu diketahui bahwa Rusia adalah kekuatan eksternal yang berperan berbeda dengan negara-negara lain, khususnya negara-negara Barat, dalam sejarah Afrika. Jika negara-negara Barat di Afrika masuk ke Afrika sebagai penjajah dan membangun imperiumnya di Afrika, maka Rusia (saat itu Uni Soviet), terutama pada era Perang Dingin, mendukung kemerdekaan negara-negara Afrika dan gerakan nasionalis yang ada di benua ini. Dukungan ini diwujudkan melalui siaran propaganda Soviet yang berkali-kali menyuarakan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Afrika dan menghentikan kolonialisme Barat, dukungan multisektoral bagi pemimpin dan partai nasionalis di Afrika, serta membuka kesempatan bagi ribuan mahasiswa Afrika untuk menimba ilmu di Uni Soviet. Setelah negara-negara Afrika merdeka, Uni Soviet ikut serta dalam membantu mereka seperti melalui bantuan teknis, bantuan militer, maupun dukungan diplomatik.

Motivasi kedua adalah bangkitnya kembali Rusia sebagai salah satu kekuatan global pasca kesulitan yang dihadapinya di tahun 1990-an. Seiring dengan membaiknya kondisi Federasi Rusia secara politik, ekonomi, dan diplomatik, kini Rusia bisa kembali melibatkan diri sebagai salah satu aktor eksternal penting di Afrika. Bagi Rusia yang ingin mengubah hegemoni unipolar Amerika Serikat (AS) menjadi tatanan multipolar dengan peran Rusia yang penting di dalamnya, Afrika adalah salah satu ladang untuk mempraktekkan ini. Hal ini juga diharapkan mengubah persepsi AS, terutama di era Barack Obama yang meremehkan Rusia sebagai “hanya kekuatan regional”.  

Ketiga, motivasi Rusia untuk aktif kembali di Afrika terlihat pada potensi benua Afrika sendiri. Populasi yang muda, meningkat pesat, serta pasar consumer yang sangat besar di benua ini mendorong berbagai negara ingin membangun hubungan ekonomi yang pesat dengan Afrika, tidak terkecuali Rusia. Rusia yang mengalami kesulitan ekonomi akibat sanksi Barat mulai melihat mitra-mitra ekonomi alternatif untuk membantu ekonominya. Dan Afrika adalah salah satu mitra yang dituju Rusia, dengan diadakannya Forum Investasi Rusia-Afrika serta keikutsertaan Rusia dalam beberapa proyek infrastruktur di Afrika, terutama yang terkait dengan energi. Selain itu, Afrika adalah pasar penting bagi Rusia untuk mendapatkan produk-produk agrikultur, terutama produk agrikultur tropis.

Penulis mengidentifikasi tiga dimensi hubungan Rusia-Afrika kontemporer, yaitu (1) politik dan keamanan, (2) ekonomi politik, dan (3) sosial budaya. Dalam bidang politik dan keamanan, Rusia sudah mengintensifkan pertemuan diplomatiknya dengan negara-negara Afrika, terutama melaluI KTT Rusia-Afrika pertama di Sochi tahun 2019. Selain itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, juga sudah beberapa kali “mengadakan tur” ke negara-negara Afrika. Hal ini juga diperkuat hubungan yang baik Presiden Putin dengan beberapa pemimpin Afrika, seperti pemimpin Afrika Selatan, Madagaskar, Zimbabwe, hingga Guinea. Secara militer, Rusia adalah pemasok utama persenjataan ke negara-negara Afrika. Rusia juga memulai kehadiran militernya di Afrika dengan mengirim mercenaries ke Mozambik, Libya, dan Afrika Tengah, serta dengan membangun pangkalan logistik militer di Eritrea, sebagaimana dijelaskan Peter Brookes dalam artikelnya di The Heritage Foundation.

Secara ekonomi, Rusia memang tidak mempunyai leverage ekonomi sebesar Tiongkok sehingga bisa menginvestasikan jutaan dolar untuk proyek-proyek besar seperti infrastruktur jalan raya, bandara, dan lain-lain. Tetapi, Rusia sebagai negara energi mempunyai kesempatan untuk berinvestasi dalam sektor energi dan sumber daya alam di Afrika. Rusia sudah menandatangani kesepakatan pembangunan pembangkit listrik (termasuk PLTN), kilang minyak, dan tambang mineral dengan berbagai negara Afrika seperti Afrika Selatan, Rwanda, Guinea, Uganda, Nigeria, Sudan dan Tanzania. Rusia ingin memposisikan diri sebagai negara yang membantu pembangunan dan kebutuhan energi di Afrika dan membantu kemajuan Afrika, seperti yang menjadi jargonnya di era Uni Soviet.

Terakhir, di bidang sosial budaya, Rusia juga secara aktif meningkatkan soft power-nya di Afrika melalui pembukaan berbagai pusat budaya dan bahasa Rusia di Afrika, serta melanjutkan program era Soviet untuk mengirimkan ribuan mahasiswa Afrika untuk belajar di Rusia. Selain itu, juga ada upaya memperluas pengaruh media Rusia di Afrika (terutama RT), serta kerjasama keagamaan melalui Gereja Ortodoks Rusia dan Gereja Ortodoks Ethiopia, sebagaimana dijelaskan Sergei Sukhankin dalam tulisannya di Jamestown Foundation. Selain itu, di masa pandemi COVID-19, Rusia juga mengirimkan bantuan kemanusiaan ke beberapa negara Afrika, seperti Burkina Faso dan Republik Kongo dan membuka peluang ekspor vaksin COVID-19 buatan Rusia ke beberapa negara Afrika, seperti Mesir dan Afrika Selatan.

Implikasi strategis keaktifan Rusia di Afrika terlihat dalam dua sisi, yaitu peningkatan konfrontasi dengan AS, dan relevansi Rusia dan Afrika dalam hubungan internasional kontemporer. Terkait konfrontasi dengan AS, AS sudah meningkatkan retorika konfrontatif terhadap pengaruh Rusia di Afrika. AS menyebut Rusia membahayakan Afrika melalui perjanjian dengan pemimpin-pemimpin korup di Afrika dengan imbalan diberi akses tambang mineral di Afrika, serta mendorong disinformasi dan instabilitas politik di berbagai negara Afrika seperti Madagaskar, Guinea, dan Mali. Selain itu, laporan Kementerian Luar Negeri Jerman juga menyebutkan Rusia ingin membangun pangkalan militer di enam negara Afrika. Afrika berpotensi menjadi salah satu ladang Perang Dingin baru antara Rusia dan AS, serta tidak menutup kemungkinan akan ada konflik domestik di Afrika yang akhirnya menjadi perang proksi kedua kekuatan besar ini, sebagaimana yang sudah terjadi di Suriah dan Venezuela.

Sementara itu, masuknya Rusia di Afrika juga meningkatkan tensi “scramble for Africa” modern dengan berbagai kekuatan besar ingin mendapatkan keuntungan dari Afrika yang besar dan potensial. Di satu sisi, hal ini membuat Afrika semakin relevan dalam hubungan internasional dan akan semakin banyak kajian-kajian HI dari benua Afrika. Afrika juga diharapkan mendapat kemajuan dan pembangunan ekonomi dari kerjasama dengan negara-negara besar. Tetapi, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan hal ini akan menjadi bentuk kolonialisme dan imperialisme di Afrika, terutama terkait jebakan hutang dan ketergantungan ekonomi terhadap negara-negara besar. Dari sini, peran Rusia di Afrika akan menarik untuk dikaji. Akankah Rusia memperlihatkan dirinya sebagai “pembebas dan pendukung Afrika” sebagaimana jargonnya sejak era Soviet, atau justru Rusia akan membawa kolonialisme dan instabilitas di Afrika. Hal ini akan penting diikuti seiring dengan meningkatnya keterlibatan Rusia di Afrika. Kita lihat saja bagaimana beruang ini masuk ke padang belantara Afrika.

Jonathan Jordan adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Minat kajian Jonathan terutama adalah politik dan kebijakan luar negeri Rusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.