Meluasnya Infeksi Covid-19 ke Berbagai Penjuru Dunia

Kekacauan terjadi setelah Covid-19 meluas secara eksponensial ke berbagai negara di dunia, menyebabkan kepanikan global. World Health Organization (WHO) mendeklarasikan Covid-19 sebagai pandemik, setelah meluas ke 166 negara di dunia, menginfeksi lebih dari 240 ribu orang, dan mengakibatkan 10 ribu orang meninggal dunia. Merespons hal ini, berbagai negara di dunia menerapkan kebijakan seperti di Wuhan, yakni menutup diri sepenuhnya, atau yang juga dikenal dengan istilah lockdown.

Negara-negara di seluruh dunia seperti di beberapa negara Afrika, Asia, Uni Eropa, dan Amerika telah mengikuti tindakan lockdown Wuhan, dengan memberlakukan larangan perjalanan yang lebih ketat. Rentang hari-hari tersebut berkisar dari 14-30 hari karantina hingga tak terbatas, seperti yang dilakukan oleh Australia. Amerika Serikat telah memutuskan untuk menutup perbatasannya dengan Kanada melalui keputusan bersama, seperti yang diumumkan di Twitter Donald Trump. “Kami akan, dengan persetujuan bersama, untuk sementara waktu menutup perbatasan utara kami dengan Kanada untuk lalu lintas yang tidak penting, Perdagangan tidak akan terpengaruh.”

Beberapa negara seperti Italia, Spanyol, Prancis, dan Korea Selatan terkena serangan paling parah. Virus ini juga sudah mulai terdeteksi di beberapa negara-negara Afrika. Dalam menangani masalah ini, Italia, dengan tingkat kematian tertinggi kedua, mendeklarasikan penguncian nasional di mana warga dikurung di rumah mereka dengan pengecualian membeli makanan dan pasokan medis. Korea Selatan, di sisi lain, dianggap paling unggul dalam melacak penyebaran virus melalui pengujian massal yang ketat, dan pengawasan digital, mirip dengan langkah-langkah investigasi Singapura.

Meskipun saat ini ketegangan masih cukup tinggi di seluruh dunia, berbagai negara maju kini sedang berlomba untuk menciptakan vaksin yang dapat diandalkan. Fujifilm, di bawah Pemerintah Jepang, telah membuat obat yang tampaknya memiliki hasil yang efektif dalam mengobati pasien dengan gejala yang lebih ringan. Cina dan negara-negara Eropa telah bekerja sama dalam mengembangkan vaksin, dengan uji coba manusia untuk vaksin telah dimulai di Amerika Serikat.

Dengan meredanya situasi infeksi di Tiongkok, negara tersebut telah memposisikan dirinya sebagai pemimpin publik nan dermawan bagi kesehatan masyarakat di negara-negara lain. Beberapa minggu terakhir ini Cina telah menyumbangkan alat uji virus ke Kamboja, mengirim masker dan petugas medis ke daerah-daerah di mana infeksi telah merajalela, seperti Italia dan Prancis. Negara itu telah berjanji untuk membantu negara-negara seperti Spanyol dan Filipina, sekaligus mengerahkan petugas medis untuk membantu di Iran dan Irak. Presiden Cina Xi Jin Ping pun mengatakan “sinar matahari telah datang menggantikan badai”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *