Memimpin Dalam Vaksinasi, Israel Berhasil Turunkan Kasus Baru COVID-19

Ilustrasi vaksin COVID-19. Foto: Shutterstock

Israel dilaporkan berhasil menurunkan jumlah infeksi COVID-19 setelah melakukan vaksinasi massal kepada masyarakatnya. Hal tersebut tidak terlepas dari gencarnya vaksinasi di negara tersebut sehingga 5,21 juta penduduk setempat telah menerima vaksin. Dengan populasi sebesar 9 juta penduduk, Israel telah memvaksin lebih dari 60% penduduk negaranya sehingga menjadi negara nomor satu dalam tingkat vaksinasi tertinggi. Jumlah tersebut juga jauh melampaui negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi kedua, Uni Emirat Arab, yang baru mencapai 36 dari 100 penduduk. Keberhasilan vaksinasi Israel tersebut tidak lepas dari usaha Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengampanyekan vaksinasi bahkan melobi pimpinan Pfizer secara pribadi agar mendapatkan pengiriman vaksin lebih dahulu.

Sistem vaksinasi di Israel terbagi atas dua tahap, yaitu penyuntikan dosis pertama yang diikuti penyuntikan dosis kedua maksimal tiga minggu setelah penyuntikan pertama untuk memperkuat keefektifan vaksin tersebut. Meskipun cenderung kaku, sistem tersebut berhasil menurunkan kasus COVID-19 secara signifikan terutama kepada lansia yang divaksinasi lebih dahulu.

Dilaporkan oleh BBC, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa dari hampir 750.000 penerima dosis kedua vaksin yang berusia di atas 60 tahun, hanya 531 orang atau 0,07% saja yang kembali terkonfirmasi positif COVID-19. Tidak berhenti sampai di situ, lembaga tersebut juga menambahkan bahwa dari 531 orang tersebut, hanya terdapat 38 kasus gejala sedang maupun berat dan 3 kasus meninggal dunia. Sebagai perbandingan, sebelum dosis kedua tersebut bereaksi secara efektif, terdapat 7.000 kasus terkonfirmasi positif COVID-19, 700 kasus gejala sedang hingga berat, dan 307 kasus meninggal dunia pada penerima vaksin dengan kategori yang sama.

Hasil efektif vaksinasi massal tersebut juga didukung oleh Eran Segal dari Weizmann Institute of Science. Dikutip dari The Economist, ia menunjukkan bahwa kasus COVID-19 telah menurun drastis sejak pertengahan Januari 2021, beberapa minggu setelah vaksinasi dimulai pada Desember 2020. Selain itu, kasus gejala berat pada penderita usia 60 tahun ke atas menurun 26% sejak puncaknya pada 19 Januari 2021. Sebaliknya, kasus gejala berat tersebut mengalami peningkatan 13% pada penderita usia 40-59.

Meskipun demikian, keberhasilan vaksinasi tersebut tidak lepas dari kritik terhadap distribusi vaksin terhadap warga Palestina. Dikutip dari The New York Times, hampir 2,7 juta warga Palestina yang berada di Tepi Barat masih menunggu suntikan dosis pertama vaksin COVID-19. Lalu mengutip VOA News, Phyllis Bennis dari Institute for Policy Studies mengatakan bahwa Israel, selaku “pihak yang menduduki” Palestina, wajib memberikan akses vaksinasi kepada warga Palestina setara dengan apa yang diberikan kepada warganya. Kritik tersebut dibalas oleh pendukung kebijakan Israel yang menyebut bahwa Palestina bertanggung jawab secara mandiri atas pelayanan kesehatan penduduknya sesuai Perjanjian Oslo tahun 1990-an. Meskipun demikian, Israel akhirnya mulai menyalurkan 10.000 dosis vaksin Sputnik V buatan Rusia untuk 5.000 tenaga kesehatan Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *