Menyatukan Kekuatan untuk Bertahan Hidup

Ilustrasi negara-negara bersatu melawan pandemi. Foto: FPCI UPH.

Urgensi mengenai solidaritas global tidak pernah lebih mengkhawatirkan daripada saat ini, yakni pertempuran melawan virus yang tidak mengenal batas, dengan situasi puncak yang masih belum dapat diprediksi. Mengakui bahwa tantangan itu datang dari kurangnya tanggapan yang memadai, kepraktisan informasi, dan persediaan medis, frasa “no man is an island” (yang berarti tidak ada manusia yang mampu hidup sendirian) jelas harus lebih ditanamkan dalam diri daripada frasa “every nation for itself” (yang memiliki makna semua harus berjuang masing-masing). Resolusi PBB yang baru saja disetujui menyerukan kerjasama internasional yang lebih kuat dalam menanggapi dampak pandemi, sekaligus menekankan bahwa kelompok miskin dan rentan adalah yang paling terdampak dari pandemi ini.

Dengan resesi global yang sedang terjadi, menyelamatkan ekonomi adalah permasalahan lain yang harus dihadapi. Mantan Perdana Menteri Britania Raya, Gordon Brown, yang memimpin selama krisis keuangan dunia tahun 2008, angkat bicara. Ia mengatakan bahwa “kita membutuhkan para pemimpin untuk berkumpul dan mengatakan kerja sama internasional penting untuk menangani apa yang merupakan masalah medis dan ekonomi global.” Namun, ketidakpastian situasi pandemi telah menarik fokus dan energi negara ke dalam jurang frustrasi. Dengan situasi seperti ini, IMF sudah siap dengan pinjaman USD 1 triliun untuk negara-negara yang paling rentan secara ekonomi.

Penggalangan dana WHO telah mencapai sekitar USD 400 juta, yang berasal dari negara-negara di seluruh dunia. Beberapa negara telah secara aktif mengirimkan bantuan medis secara global. Italia telah menerima peralatan medis dari Rusia dan Cina, dan juga 52 dokter dan perawat terlatih dari Kuba. Korea Selatan telah mengekspor alat uji ke sejumlah besar negara termasuk Indonesia. Cina terus mengirim bantuan medis dan memberikan bantuan secara global, terutama membantu negara-negara di Afrika untuk bertahan dari serangan Covid-19.

Ribut-ribut antara Amerika Serikat dan Cina pada masa awal penyebaran Covid-19 tidak membawa apa pun selain keterlambatan koordinasi, belum lagi penundaan dalam tindakan berarti keterlambatan dalam penanganan medis yang berakibat fatal. Namun, sinyal positif mulai muncul ketika Cina, dan juga Rusia, mengirim pasokan medis ke Amerika Serikat, yang mana membantu meringankan kekurangan peralatan perlindungan pribadi.

Hal lain yang perlu disoroti adalah situasi damai yang sedang terjadi dalam konflik Israel-Palestina, karena kedua pihak ini mau tidak mau harus bermitra secara tidak resmi dalam bertarung melawan musuh yang sama, Covid-19.

Persaingan dan perang sedang diredam untuk melawan satu musuh yang sama, kali ini melawan ‘apa’ dan bukan ‘siapa’. Kepentingan global ini telah menjadikan kita semua satu keluarga epidemiologis. Tentunya, pandemi ini selayaknya menjadi sebuah panggilan untuk kerjasama internasional yang lebih erat di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *