Mie Instan: Lahir dari Upaya Mengatasi Keterbatasan Pangan Pasca Perang Dunia Kedua!

Ilustrasi Mie Ramen. Foto: pixabay.com.

Di lingkungan masyarakat tempat saya tinggal, ada satu kepercayaan unik yang tetap saya anut hingga hari ini, yakni: makan mie instan seminggu sekali. Lebih dari itu, faktor kesehatan dianggap menjadi taruhannya. Kepercayaan ini pun dibumbui dengan dasar saintifik, yang menyebutkan bahwa mie instan lama diproses dalam pencernaan.

Karena penasaran, saya berselancar di internet. Benar saja, banyak sekali artikel yang mendukung kepercayaan saya tersebut. Satu artikel yang paling menurut saya meyakinkan adalah sebuah artikel dari Halodoc, yang isinya memperingatkan bahwa makan mie instan dapat memberikan gangguan metabolik, dan hanya boleh dikonsumsi paling banyak seminggu sekali.

Namun, di balik semua tantangan kesehatan tersebut, kemudahan memasak mie instan membuatnya tetap menjadi pilihan utama, khususnya di tengah situasi genting. Hampir di setiap liputan bencana, kita akan menemukan tumpukan boks mie instan. Sebuah ritual yang ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. World Instant Noodles Association (WINA) mencatat bahwa dalam satu dekade ke belakang, ada jutaan bungkus mie instan telah dikirim sebagai bantuan untuk korban bencana di Tiongkok, Filipina, India, Haiti, Meksiko, Guatemala, Amerika Serikat, dan Ekuador. 

Posisi mie instan pun semakin kuat sebagai makanan yang identik dengan masa genting, jika kita melihat fakta bahwa ternyata, mie instan dicetuskan di Jepang selang beberapa tahun pasca Perang Dunia Kedua, ketika masa kelaparan dan keterbatasan makanan masih menjadi tantangan di sana.

Mie Instan: Mimpi Momofuku Ando Mengentaskan Kelaparan

Mie instan pertama kali beredar di pasaran pada tahun 1958. Momofuku Ando, seorang warga Jepang keturunan Taiwan, menjadi pencetusnya. Sebuah artikel New York Times mencatat bahwa ide mie instan lahir dari kegusaran Ando melihat situasi Jepang di tahun 1950-an. Ia gusar karena adanya antrean panjang warga Osaka yang kelaparan untuk semangkuk ramen. Sedangkan Pemerintah Jepang, yang mengetahui bahwa pedagang ramen tak akan mampu memenuhi permintaan, justru meminta warganya untuk mengonsumsi roti, hasil olahan gandum dari donasi Amerika Serikat. Sebuah solusi yang jelas tak memenuhi permintaan.

Perjalanan lahirnya mie instan tak mengalami proses yang instan. Karen Leibowitz menceritakan bahwa sampai tahun 1957, Ando masih hidup nyaman sebagai seorang presiden bank. Namun, di tahun yang sama, bank yang ia pimpin mengalami kegagalan, dan ia pun memilih untuk menuntaskan rasa gusarnya. Ia bereksperimen mencari ramuan terbaik untuk mie instan, dengan kemampuan pengawetan yang tahan lama. Satu yang menghambatnya dalam bereksperimen adalah mencari cara untuk menciptakan mie instan yang memiliki tekstur baik sekaligus cepat matang ketika dibuat. Eksperimennya berhasil ketika ia menceburkan mie instan ke minyak tempura. Ia melihat bahwa tak hanya mencapai proses dehidrasi yang baik, tetapi juga ada proses perforasi yang membuat produknya dapat lebih cepat matang. Mie instan, dengan nama Chikin Ramen, lahir ke dunia.

Chikin Ramen mulai masuk ke rak toko makanan di Jepang pada tahun 1958. Ketika pertama kali diedarkan, mie instan sebenarnya masuk ke dalam kategori makanan yang tak murah. Bahkan, harganya masih lebih mahal jika dibanding dengan ramen kedai di masa itu. Namun, perlahan-lahan, mie instan mendapat tempat di hati masyarakat Jepang dengan alasan kemudahan dan kecepatan proses memasaknya. Masa industrialisasi Jepang tahun 1960-an membuat produk ini semakin laku, dan para kompetitor pun mulai bermunculan satu per satu.

Setelah kemunculan kompetitor, Chikin Ramen mulai berinovasi dengan membuat mie instan gelas di tahun 1971. WINA menganggap terobosan ini berhasil menjadi sensasi yang mengatasi situasi jenuhnya pasar mie instan di Jepang. Butuh waktu yang tak sebentar bagi Ando melakukan inovasi ini. Pengembangan styrofoam sebagai wadah mie instan dibutuhkan lima tahun hingga benar-benar layak edar di pasaran.

Globalisasi Mie Instan

Serupa dengan langkah industri otomotif Jepang yang mulai membuka operasional pabrik dan penjualan di beberapa negara Asia Tenggara pada tahun 1970-an, mie instan asal Jepang turut merambah negara-negara Asia. Hal ini mendorong beberapa negara bahkan turut memproduksi produk mie instannya sendiri. Di Indonesia, kita mengenal produk Indomie, yang mulai dipasarkan di tahun 1972 oleh Indofood. Sedangkan Korea Selatan memiliki produk Shin Ramyun, yang mulai diedarkan oleh Nongshim pada tahun 1986.

Menjamurnya perusahaan mie instan lokal di beberapa negara Asia justru membuat globalisasi mie instan kian pesat. Di Asia Timur dan Tenggara, Nongshim, Nissin, Indofood, dan produsen mie instan lainnya telah berjibaku untuk menguasai pasar mie instan sejak tahun 1980-an. 

Memasuki tahun 1990-an, Indomie telah berhasil menjadi pemimpin di pasar mie instan Afrika, dengan produksi utama di Nigeria. Bahkan di Nigeria, tak sedikit dari warganya yang mengira bahwa Indomie adalah produk asli Nigeria dan bukan dari Indonesia.

Di tahun 2000-an, konsumsi mie instan juga meningkat di wilayah Timur Tengah, dengan Indomie yang lagi-lagi turut berperan atas meningkatnya konsumsi mie instan di sana. Dan kini, masyarakat Amerika Serikat dan Eropa turut mengonsumsi mie instan sebagai bagian dari kehidupannya. 

Menjadi Bagian dari Budaya Pop, Hingga Sebagai Alat Transaksi Seks!

Dengan raison d’etre yang sebenarnya sederhana, yakni mengentaskan kelaparan di Jepang, mie instan kini telah menjadi bagian dari budaya pop yang tak terelakkan lagi. Shin Ramyun, produk paling laku Nongshim, sudah tak terhitung berapa kali muncul di serial k-drama. Bahkan saya juga mengenal Shin Ramyun dari serial k-drama.

Juga sangatlah mudah mencari konten berbasis mie instan yang tayang di YouTube dan platform media sosial lainnya. Mulai dari konten mencoba ragam mie instan dari seluruh penjuru dunia, konten mukbang mie instan yang porsinya setara dengan makan seminggu, hingga konten yang menurut saya menantang, yakni uji ketahanan makan mie instan pedas samyang

Namun ternyata, ada dua hal yang lebih gila dari integrasi mie instan dengan budaya pop. Pertama, penggunaan mie instan sebagai alat kampanye politik. Di Nigeria, seorang politisi bernama Babagana Kingibe meletakkan wajahnya dalam kemasan mie instan. Tidak sampai di situ, mie instan tersebut bahkan dijual lebih murah dari harga pasaran! Terlepas dari faktor etis, saya sejujurnya cukup salut dengan langkah politisi ini.

Kedua, ini yang lebih gila dan mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengarnya. Di Ghana, Indomie menjadi salah satu produk yang ditukar dengan seks! Hal ini diungkap oleh Bashiratu Kamal, seorang pakar gender dan ketenagakerjaan di sana, dalam sebuah dialog nasional tentang kekerasan seksual dan berbasis gender dalam pandemi COVID-19.

Momofuku Ando, ketika mencetuskan ide mie instan, mungkin tak pernah membayangkan bahwa produk yang ia gagas akan memiliki dampak yang begitu masif, hingga mampu mengubah lanskap lemari dapur di hampir setiap rumah di seluruh penjuru dunia.

Hafizh Mulia adalah Pemimpin Redaksi Kontekstual. Dapat ditemui di Twitter dan Instagram dengan username @moelija.

Leave a Reply

Your email address will not be published.