Militer AS Tinggalkan Bandara Terbesar Afghanistan Tanpa Pemberitahuan

Ilustrasi kepergian AS dari Afghanistan. Foto: Reuters

Pada Jumat (2/7) lalu, pasukan militer AS yang ditempatkan di Bandar Udara Bagram dikabarkan telah meninggalkan Bandara Bagram secara keseluruhan, menyebabkan kekosongan penjagaan Bandara terbesar di Afghanistan tersebut.

Kepergian itu menjadi sebuah kejutan bagi pemerintahan Afghanistan. Pasalnya, mereka meninggalkan Bagram dengan memutuskan aliran listrik dan pergi tanpa memberikan pemberitahuan.

Menurut Komandan baru Bandara Bagram, Jenderal Mir Asadullah Kohistani, pihak Afghanistan sendiri baru menyadari kepergian AS sekitar dua jam setelah mereka meninggalkan Bagram sepenuhnya

Kompleks yang dulunya diramaikan oleh restoran fast food, mal, dan pernak-pernik AS itu pun sekarang kosong dan sedang dialihfungsikan menjadi markas militer terbaru oleh Kohistani. Beberapa prajurit Afghanistan menganggap kepergian AS “tidak sopan” karena seperti “meninggalkan teman lama tanpa berucap sampai jumpa”.

Akibat kepergian tidak terduga AS menyebabkan banyak barak di komplek militer Bagram yang sempat dijarah oleh kelompok bandit lokal. Akan tetapi, mereka telah dihentikan oleh kedatangan kontingen Kohistani.

Pangkalan militer kosong itu akan dialih kendalikan ke Jenderal Kohistani yang yakin dengan kekuatan pangkalan militer Bagram walau Taliban sedang mencetak banyak kemenangan di daerah sekitarnya.

Militer AS meninggalkan banyak perlengkapan yang meliputi 700 kendaraan, sisa-sisa makanan, dan perkakas. Afghanistan diperkirakan akan mengambil sisa perlengkapan ini untuk perlindungan melawan serangan Taliban.

Kolonel Sonny Leggett, juru bicara AS mengenai Afghanistan, menyatakan bahwa kepergian pasukan AS dari Bagram hanyalah sebagian langkah realisasi rencana penarikan mundur yang dinyatakan Presiden Joe Biden.

Pentagon sendiri menyatakan bahwa kepergian AS dari Bagram bukanlah tanda berakhir Resolute Support Mission NATO di Afghanistan, walau NATO juga telah menjanjikan kepergian mereka dari bulan April kemarin.

Ancaman Taliban masih memanas setelah kemenangan mereka di Badakhshan dan Kandahar. Taliban kini sedang melancarkan serangan ke Ghazni yang menjadi penghubung dari Kabul ke daerah Kandahar di Selatan.

Kondisi yang tidak stabil pun membuat pedagang di lingkungan sekitar Bagram menjadi tidak tenang dan beroperasi dengan berhati-hati. Mereka menilai ancaman Taliban sebagai suatu hal yang menghambat mereka untuk berbisnis.

Kepergian AS yang dinilai terlalu terburu-buru menjadi sebuah indikator yang menunjukkan rencana AS untuk keluar dari Afghanistan yang terburu-buru dan kurang terarah. Markas di Bagram kini akan diserahkan kepada pemerintahan Afghanistan tanpa berbagai prosesi. Dengan tenggat akhir kepergian AS yang semakin dekat, pemerintah Afghanistan kini harus menghadapi sendiri ancaman Taliban yang semakin jelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *