Minsk Agreement: The Chessboard of Chancellor and Président 

Ilustrasi dari FPCI UMY

Konflik antara Rusia dan Ukraina tampaknya semakin hari semakin memanas. Baru-baru ini berita internasional kembali memberitakan bahwa kedua negara saling mengirim pasukan tentara di wilayah perbatasan negara. Lalu pada Kamis 24 Februari 2022, Rusia telah mengirimkan serangan ke titik penting di Ukraina yang ditargetkan ke barak militer. Selain itu serangkaian bom, pesawat tempur, dan pasukan tentara juga dilancarkan oleh militan Rusia sejak Kamis pagi. Negara-negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Jerman, Inggris, Belarusia, dan Turki mengecam keras gerak serangan militer Rusia di Ukraina (Putin, 2022).

Sejatinya permasalahan wilayah antara Ukraina dan Rusia ini sudah terjadi sejak tahun 2014 lalu. Selama hampir delapan tahun setelah pertama kali terjadinya pengiriman pasukan tentara dari masing-masing negara itu, kondisi kedua negara selalu diliputi suasana perang terutama di wilayah perbatasan dan wilayah Donbas serta Luhansk. Permulaan permasalahan dipicu oleh penggulingan Presiden Ukraina dan disusul oleh pemberontakan separatis yang didukung oleh Rusia. Lalu kedua negara secara terus menerus mengalami bentrok terutama di wilayah yang bermasalah. Akibatnya ketegangan keamanan antara Ukraina dan Rusia terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran dari dunia internasional terutama negara-negara tetangga mereka.

Penyusunan Perjanjian Minsk dilakukan sebagai langkah untuk mencapai jalan tengah bagi perdamaian bagi kedua negara. Resolusi melalui perjanjian ini dihadiri pertama kali oleh perwakilan Ukraina, Rusia, separatis wilayah Timur Ukraina, dan Organisation for Security and Cooperation in Europe (OSCE) pada 5 September 2014 (BBC, 2014). Berdasarkan pada kesepakatan dalam Perjanjian Minsk ini, Ukraina, Rusia, dan pihak separatis menyetujui memorandum sikap damai di wilayah Timur Ukraina. Pada diskusi yang dilakukan, pihak Ukraina mengklaim bahwa Rusia terus mengirim tentaranya ke wilayah separatis yang langsung disangkal oleh pihak Rusia dengan mengatakan bahwa tentara yang dikirim adalah penduduk yang berperang bersama tentara separatis. Sehingga disepakatilah beberapa poin penting dari diskusi dengan tiga pihak tersebut, diantaranya adalah: menarik senjata tingkat tinggi (heavy weapons) sejauh 15 km dari titik luar tiap wilayah sehingga tercipta 30 km zona aman, melarang serangan, melarang penerbangan pesawat perang di zona aman, membangun misi monitoring OSCE, dan menarik semua tentara asing dari zona konflik (BBC, 2014). 

Namun, tidak begitu lama dari inisiasi perjanjian damai antara Ukraina dan Rusia disepakati, kedua pihak kembali melakukan perang bahkan sampai pada pengiriman 100.000 tentara Rusia ke perbatasan Ukraina dan peluncuran bom roket oleh Ukraina ke Rusia. Akibatnya, Perjanjian Minsk gagal dalam menyediakan jalan damai bagi Ukraina dan Rusia. Lalu pada 12 Februari 2015, Kanselir Jerman dan Presiden Prancis mengadakan pertemuan dengan Pemimpin Ukraina dan Rusia untuk kembali bernegosiasi demi mencapai kesepakatan damai dalam Perjanjian Minsk II. Terdapat tiga belas poin utama yang disetujui dari pertemuan ini yaitu: gencatan senjata di wilayah Donetsk dan Luhansk, penarikan senjata tingkat tinggi (heavy weapons) dari wilayah perbatasan hingga zona aman sejauh 50 km, kontrol monitoring gencatan senjata oleh OSCE, wilayah Donetsk dan Luhansk sementara menjalankan pemerintahan special regime, jaminan keselamatan bagi kerabat penduduk Donetsk dan Luhansk yang bertempat di Ukraina, jaminan pembebasan orang yang ditahan di masing-masing pihak, jaminan akses aman dan kemanusiaan, jaminan hubungan sosial-ekonomi, pengembalian hak kontrol perbatasan dari Ukraina ke wilayah berkonflik, penarikan semua jenis tentara asing dari Ukraina, menerima konstitusi Ukraina terhadap posisi Donetsk dan Luhansk, pemilihan di Donetsk dan Luhansk akan dilakukan dengan pengawasan OSCE, dan pelaksanaan Perjanjian Minsk secara lebih detail (The Financial Times, 2015).

Akan tetapi, Rusia dan Ukraina masih saja terlibat perang senjata dan saling mengirimkan pasukan tentara setelah perjanjian disepakati. Perjanjian Minsk I maupun II sulit terealisasi secara nyata karena terdapat perbedaan interpretasi dari pihak Rusia dan Ukraina yang membuat kesepakatan menjadi mustahil untuk diimplementasikan. Kedua memiliki pandangan dan nilai masing-masing terkait keputusan yang ada dalam Perjanjian Minsk. Ukraina memandang bahwa Perjanjian Minsk ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh untuk memberikan posisi kuat di pihak Ukraina agar wilayah yang berkonflik yaitu Donetsk dan Luhansk bisa dikelola oleh Ukraina terutama pada batas wilayahnya. Menurut pandangan Rusia sendiri, negara tersebut memiliki tujuan untuk mendapatkan akses terutama pada aspek konstitusi di Donbas dan Luhansk.

Pihak Jerman yang menengahi konflik Rusia dan Ukraina disinyalir berupaya untuk mengimbangi kekuatan Rusia. Jerman sebagai salah satu negara besar di kawasan Eropa memiliki pengaruh yang besar bagi penyelesaian invasi Rusia di Ukraina sehingga keterlibatan Jerman menjadi penting untuk mewujudkan perdamaian antara dua negara tersebut. Adanya keikutsertaan Jerman pada upaya penyelesaian konflik Ukraina dan Rusia ini tidak lepas dari kepentingan negara tersebut pada aspek stabilisasi kondisi politik di kawasan Eropa. Banyak negara Barat seperti AS dan sebagian negara di wilayah Eropa Timur menganggap bahwa Jerman adalah sekutu yang dapat diandalkan sehingga sikap dan respon Jerman terhadap krisis yang terjadi terutama di kawasan Eropa menjadi hal yang sangat diperhatikan (von Hein, 2022). Akibatnya peran Jerman dalam menengahi permasalahan Ukraina dan Rusia yang dilaksanakan dalam Perjanjian Minsk diharapkan dapat membawa angin segar bagi pemulihan ketegangan keamanan di dua negara tersebut. 

Jerman yang telah membangun kekuatan negaranya sebagai penguasa ekonomi dan pemilik populasi terbesar di Eropa membuat negara tersebut memiliki kesempatan besar dalam memimpin penanganan krisis Ukraina-Rusia. Selain itu posisi wilayah Jerman yang berada di tengah kawasan Eropa Timur menjadi penting baginya untuk ikut melakukan stabilisasi geopolitik di wilayah tersebut (Speck, 2015). Pada kondisi terkini Olaf Scholz, Kanselir Jerman yang baru pun mengatakan bahwa ia secara penuh mendukung Ukraina dan mengancam akan melakukan pembatalan proyek tambang gas antara Jerman dan Rusia serta mengirimkan bantuan bahan makanan dan kesehatan di wilayah terdampak konflik ke Ukraina (CNBC Indonesia, 2022). 

Sementara Prancis yang juga merupakan penengah dalam penyelesaian konflik Rusia dan Ukraina mempunyai tujuan menjaga hubungan dengan AS yang secara terbuka menolak kehadiran tentara Rusia di perbatasan Ukraina. Adanya akuisisi oleh Rusia atas Crimea pada 2014 memunculkan kekhawatiran Prancis sehingga posisi Prancis sebagai penengah antara Rusia dan Ukraina bisa membawa Prancis untuk menekan dominasi Rusia di Eropa. Selain itu, Prancis adalah rekan penting Jerman dalam usaha meredam konflik keamanan antara Ukraina dan Rusia yang juga tergabung dalam Perjanjian Minsk. Prancis yang juga memiliki posisi vital di kawasan geopolitik Eropa Timur akan membantu Jerman membangun koalisi dalam Uni Eropa untuk ikut mendukung keputusan kedua negara dalam mencari jalan tengah konflik Ukraina dan Rusia. Apabila kedua negara menunjukkan suara yang sama maka kemungkinan besar mampu menarik suara negara anggota lain di Uni Eropa untuk bersama menemukan solusi terbaik bagi Ukraina dan Rusia. Pada aspek lain, dikatakan bahwa Prancis merupakan representasi negara-negara kecil di wilayah Eropa Selatan yang kebanyakan menghindari konfrontasi dengan Rusia sehingga hadirnya Prancis diharapkan bisa membangun kepercayaan bagi negara-negara di Eropa untuk bersama-sama membantu menjaga stabilitas geopolitik Eropa (Speck, 2015).

Keterlibatan Jerman dan Prancis pada proses negosiasi kedua negara didorong karena adanya kekuatan common trust yang dipercaya bisa dibangun oleh Jerman dan Prancis di kawasan Eropa. Jerman sebagai negara terbesar di Uni Eropa sekaligus memiliki posisi vital serta Prancis sebagai perwakilan dari negara kecil diharapkan bisa meredakan tensi Ukraina dan Rusia. Namun, pada kenyataannya Perjanjian Minsk baik I dan II tidak bisa berhasil menangani konflik antara Ukraina dan Rusia. Interpretasi yang berlainan terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan wilayah dan kependudukan antara Rusia dan Ukraina membuat kedua negara sulit untuk sulit menemukan kesepakatan bersama. Serangan militer Rusia yang dilancarkan pada Kamis 24 Februari kemarin menandakan bahwa pihak Rusia tidak mengindahkan isi Perjanjian Minsk sekaligus bentuk peringatan bahwa akan ada konsekuensi serius bagi pihak manapun yang mencoba untuk menghalangi atau terlibat dalam intervensi Rusia.

References:

BBC. (2014, September 20). Ukraine deal with pro-Russian rebels at Minsk talks. BBC. Retrieved February 25, 2022, from https://www.bbc.com/news/world-europe-29290246

CNBC Indonesia. (2022, February 8). Jerman Dukung Penuh Ukraina. CNBC Indonesia. Retrieved February 25, 2022, from https://www.cnbcindonesia.com/news/20220208122905-8-313742/jerman-dukung-penuh-ukraina

EURACITIV. (2015, April 13). Germany calls for 2nd phase of Minsk agreement. EURACTIV.com. Retrieved February 25, 2022, from https://www.euractiv.com/section/global-europe/news/germany-calls-for-2nd-phase-of-minsk-agreement/

The Financial Times. (2015, February 12). Full text of the Minsk agreement. Financial Times. Retrieved February 25, 2022, from https://www.ft.com/content/21b8f98e-b2a5-11e4-b234-00144feab7de

Gadzo, M., Child, D., & Najjar, F. (2022, February 24). Latest Russia-Ukraine updates: Tens of thousands flee their homes. Al Jazeera. Retrieved February 25, 2022, from https://www.aljazeera.com/news/2022/2/23/ukraine-declares-state-of-emergency-amid-fears-of-invasion-liveblog

Mackinnon, A. (2022, February 17). Ukraine and Russia’s Minsk Agreement Is a Problematic Peace Plan. Foreign Policy. Retrieved February 25, 2022, from https://foreignpolicy.com/2022/02/17/minsk-agreement-ukraine-russia-peace/

Putin, V. (2022, February 24). World reacts to Russia’s attack on Ukraine | Russia-Ukraine crisis News. Al Jazeera. Retrieved February 24, 2022, from https://www.aljazeera.com/news/2022/2/24/world-reaction-putin-orders-military-operation-in-ukraine

Speck, U. (2015, March 26). German Power and the Ukraine Conflict. Carnegie Europe. Retrieved February 25, 2022, from https://carnegieeurope.eu/2015/03/26/german-power-and-ukraine-conflict-pub-59501

von Hein, M. (2022, February 2). German government under fire over Russia and Ukraine. DW. Retrieved February 25, 2022, from https://www.dw.com/en/german-government-under-fire-over-russia-and-ukraine/a-60628101

Fawwas Sabrina Rochmawati adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Staff Research and Analysis FPCI Chapter UMY. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @fasabrinar

Leave a Reply

Your email address will not be published.