Mismanajemen Pandemi Bolsonaro, Kini Tiga Panglima Angkatan Bersenjata Brazil Mundur

Presiden Brazil Jair Bolsonaro. Foto: Adriano Machado/Reuters.

Pada Rabu (31/03) waktu setempat, tiga panglima Angkatan Bersenjata Brazil (darat, laut, dan udara) mengundurkan diri dari jabatan masing-masing.

Dilansir dari BBC, pengunduran diri tersebut merupakan bentuk protes tentara terhadap keputusan Presiden Brazil Jair Bolsonaro yang memberhentikan Menteri Pertahanan Fernando Azevedo e Silva dari jabatannya.

Pemberhentian itu sendiri disinyalir akibat sikap menteri yang menginginkan agar angkatan bersenjata loyal kepada konstitusi Brazil, bukan kepada presiden secara pribadi.

Sementara itu, dikutip dari CNN, pengunduran diri tersebut mendapatkan perhatian signifikan karena Bolsonaro, mantan kapten angkatan darat, mengklaim memiliki hubungan yang dekat dengan tentara Brazil, seperti memasukkan purnawirawan jenderal ke dalam pemerintahan dan bahkan menyebut pemerintahan diktator militer pada 1964—1985 sebagai hal yang “patut dirayakan”.

Berhubungan dengan Mismanajemen COVID-19

Pengunduran diri tiga pucuk pimpinan tentara tersebut segera dihubungkan dengan penanganan COVID-19 yang sangat buruk di Brazil. Presiden Bolsonaro sebagai pucuk pimpinan Brazil, yang juga menyepelekan COVID-19, menjadi tertuduh utama mismanajemen tersebut.

Dikutip dari BBC, Brazil merupakan negara dengan kasus COVID-19 terbanyak ke-2 di dunia (sebelum AS) sebesar 12,6 juta kasus. Tingkat kematiannya juga merupakan yang tertinggi ke-2 dengan 313 ribu korban jiwa dengan rekor kematian harian mencapai 3.780 jiwa pada Selasa (30/03).

Sistem kesehatan Brazil pun juga berada di ujung tanduk dengan ICU di berbagai rumah sakit di Brazil sudah 90 persen penuh.

Meskipun demikian, Bolsonaro tetap konsisten dalam menyetop upaya pemberlakuan lockdown karena dianggap akan merusak perekonomian Brazil. Ia bahkan memerintahkan tentara untuk tidak membantu penegakkan lockdown daerah yang diberlakukan oleh gubernur negara bagian setempat.

Tak ayal, popularitas presiden sayap kanan tersebut turun secara signifikan. Survei Datapolha memperlihatkan bahwa dari Januari hingga Maret persentase responden “tidak akan percaya” kepada presiden meningkat dari 41% ke 45%. Persentase responden “selalu percaya” kepadanya juga turun dari 19% ke 18%.

Memicu Krisis Politik

Penanganan COVID-19 yang buruk tersebut pada akhirnya mengakibatkan krisis politik yang ditandai dengan pergantian menteri dan protes dari parlemen.

Sejak awal pandemi, Brazil telah memiliki empat menteri kesehatan yang terus di-reshuffle oleh Bolsonaro. Reshuffle terbaru minggu ini bahkan mengganti 6 menteri sekaligus, termasuk menteri kesehatan, menteri luar negeri, dan menteri pertahanan.

Menlu Brazil Ernesto Araujo dipaksa mundur oleh parlemen setelah kebijakan luar negerinya yang buruk kepada Tiongkok, India, dan AS menyebabkan Brazil tidak mendapatkan stok vaksin yang memadai untuk melawan COVID-19.

Selain itu, dikutip dari The Guardian, Perwira senior angkatan bersenjata juga dikabarkan mulai gerah dengan penanganan buruk COVID-19 di Brazil. Kegerahan tersebut diperparah oleh niat Bolsonaro untuk mengarahkan loyalitas angkatan bersenjata kepada dirinya.

Niat buruk tersebut ingin dihentikan oleh Menhan Brazil yang kemudian dipecat olehnya sehingga memicu pengunduran diri para panglima. Pada akhirnya, krisis politik Brazil hari ini menjadi ujian bagi demokrasi modernnya yang baru berusia 36 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.