Negosiasi Rusia-Ukraina Tak Capai Kesepakatan, Kedua Pihak Bermanuver

Delegasi Rusia diikuti delegasi Ukraina sampai di tempat negosiasi di perbatasan Belarusia-Ukraina pada 28 Februari. Foto: Alexancer Kryazhev, Sputnik/AP.

Di tengah pertempuran yang berlangsung, Ukraina dan Russia sepakat untuk bertemu dalam sebuah negosiasi perdamaian yang dilaksanakan di kediaman Rumyantsev-Paskevich, Gomel, perbatasan Ukraina-Belarusia pada Senin (28/02). 

Perundingan tersebut pada awalnya direncanakan untuk bertempat di Minsk, ibu kota Belarusia, tempat beberapa diplomat Rusia telah mendarat pada Senin (28/02) pagi. Rencana ini segera ditolak oleh Kiev yang menyatakan bahwa setiap negosiasi harus dilakukan di tempat lain, sebab Belarusia tidak netral karena menjadi tempat berangkat tentara Rusia untuk menyerang Ukraina. 

Namun, mengingat potensi peningkatan agresivitas Rusia ditambah dengan gertakan Putin untuk meningkatkan kesiagaan senjata nuklirnya, negosiasi menjadi semakin penting untuk diadakan. Presiden Zelenskyy kemudian menyetujui tawaran untuk melakukan perundingan di perbatasan Ukraina-Belarusia setelah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Alexander Lukashenko, Presiden Belarusia.

Berbeda Pendapat, Gencatan Senjata Gagal Dicapai

Dalam negosiasi tersebut, delegasi Ukraina–Menteri Pertahanan Oleksii Reznikov dan penasihat presiden Mykhailo Podolyak–menegaskan bahwa tuntutan utama mereka adalah gencatan senjata dan penarikan pasukan Rusia dalam waktu dekat dari Ukraina.

Dengan semangat yang sama, pimpinan delegasi Russia, Vladimir Medinsky, juga menyatakan ketertarikan Rusia akan tercapainya kesepakatan perdamaian sesegera mungkin. “Namun, kesepakatan tersebut harus menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ucapnya.

Seiring berjalannya perundingan, delegasi dari Ukraina dan Rusia diketahui telah mengidentifikasi sejumlah poin utama terkait perang yang berlangsung. Poin-poin tersebut mencakup tuntutan Rusia untuk mendemilitarisasi dan mendenazifikasi Ukraina, dieksklusinya Ukraina dari keanggotaan NATO, serta pengakuan Krimea sebagai bagian dari Rusia.

Di sisi lain, di samping permintaan akan genjatan senjata, delegasi Ukraina yang dipimpin oleh Podolyak dan Reznikov masih belum dapat menerima larangan Ukraina untuk bergabung dengan NATO.

Perbedaan tuntutan ini berujung pada belum dapat tercapainya kesepakatan oleh kedua pihak setelah lima jam perundingan yang alot. Akhirnya, diputuskan bahwa delegasi dari kedua negara akan kembali ke ibukota masing-masing untuk mengonsultasikan poin-poin tersebut dan kemungkinan implementasinya. 

Dilansir dari ABC News, sementara ini, putaran kedua negosiasi dijadwalkan akan dilaksanakan dalam beberapa hari kedepan. Sebelum putaran lanjutan dilaksanakan, Presiden Zelenskyy mendesak tentara-tentara Rusia untuk meredakan serangannya.

Ukraina Minta Gabung Uni Eropa, Konvoi Lapis Baja Rusia Dekati Kiev

Menyusul kegagalan negosiasi pertama tersebut, kedua belah pihak kemudian melakukan manuver baru. Tidak lama setelah negosiasi usai, Presiden Zeleskyy menandatangani aplikasi untuk aksesi Ukraina ke EU. 

Permintaan Ukraina atas status keanggotaan Uni Eropa di bawah prosedur khusus tersebut terus gencar disampaikan oleh Presiden Zelenskyy dalam sebuah video resmi Pemerintah Ukraina. Dalam video tersebut, Zelenskyy mengatakan bahwa keanggotaan Uni Eropa akan sangat membantu Ukraina dalam melindungi diri dan rakyatnya dari invasi oleh Rusia.

“Tujuan kami adalah untuk membersamai dan dibersamai oleh seluruh masyarakat Eropa dan, yang paling penting, adalah untuk menjadi setara. Saya yakin itu adil. Saya yakin kami (Ukraina) pantas mendapatkannya,” tegasnya. Sebagai bagian dari upayanya, Zelenskyy kemudian menandatangani dan mengirim surat permintaan keanggotaan kepada Brussel pada Senin (28/02) sore. 

Sementara itu, Rusia kedapatan mencoba cara-cara baru untuk memasuki Kiev yang  masih gagal ditembus. Pada Selasa (01/03) siang waktu setempat, terlihat konvoi kendaraan lapis baja Rusia yang membentang sepanjang 40 mil telah telah bergerak menuju Kiev membawa berbagai macam senjata. Sirine pun sekali lagi terdengar di ibukota Ukraina tersebut akibat kembali adanya laporan serangan Rusia di pinggiran Kiev, bahkan setelah semalaman kota itu digempur oleh serangan udara. 

Dilaporkan oleh Kementerian Dalam Negeri Ukraina bahwa setidaknya 10 orang penduduk sipil telah meninggal dalam serangan rudal yang diluncurkan Rusia di Kharkhiv pada Senin (28/10). Hingga hari ini, tercatat 210 rakyat Ukraina telah menjadi korban dari perang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini.

Dengan gagalnya negosiasi pertama Rusia-Ukraina, dapat disimpulkan pertempuran di Ukraina berpotensi besar akan berlanjut. Meski wacana untuk negosiasi putaran kedua telah dicetuskan, namun kejelasan mengenai tempat dan tanggalnya masih belum dipastikan. Kedua pihak mungkin akan segera bertemu kembali jika kebuntuan terus terjadi di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.