Neutralize The Monster: Bagaimana Amerikanisasi Godzilla Melanggengkan Kolonialisasi Amerika Serikat atas Jepang

Ilustrasi Film Godzilla. Foto: Pixabay

Pendahuluan

Paradigma pascakolonialisme dalam ilmu Hubungan Internasional merupakan sebuah paradigma yang menganalisis dan mengidentifikasi upaya-upaya terstruktur yang dilakukan negara koloni untuk melanggengkan relasi kuasanya atas negara yang dikolonialisasi. Oleh karena itu, paradigma ini menentang eurosentrisme dalam hubungan internasional. Asumsi-asumsi parokialis dan sepihak dari bangsa kolonial dianggap sebagai sebuah cara yang digunakan untuk melanggengkan kolonialisme. Salah satu hal yang dapat memperkuat keberlangsungan asumsi tersebut adalah keberadaan chauvinisme budaya bangsa kolonial yang amat parokialis dan cenderung menggambarkan bangsa koloninya sebagai the other. Dalam penggambaran sebagai the other, para kolonis menanamkan superioritas bangsa mereka sendiri dalam penggambaran kelompok lain sebagai kelompok “irasional dan tidak maju” (Said, 2019).

Salah satu cara bangsa kolonis dapat melanggengkan penanaman superioritasnya di dunia adalah menggunakan media budaya populer, terutama film. Jumlah penonton film yang internasional dan sangat luas memberikan kemampuan bagi bangsa kolonis untuk menjadikannya media propagandis yang mempropagasikan persepsi bahwa negara koloninya hanyalah kelompok other ke dunia internasional. Memanfaatkan sifat film yang biasanya mereplikasikan kenyataan sosial dalam rangka mencapai relatabilitas dengan penonton (Nabi & Riddle, 2008), bangsa kolonis menyisipkan pengetahuan dan penggambaran yang stereotipikal terhadap bangsa koloninya. Konstruksi bias dan propagasi rasisme melalui media ini dilakukan oleh bangsa barat untuk melanggengkan relasi kuasa antara bangsa kolonis dan bangsa yang dikolonisasi sehingga tercipta sistem terstruktur yang melemahkan kekuatan budaya bangsa non-kolonis.

Salah satu bentuk kolonialisme tersebut terjadi dalam proses Amerikanisasi Godzilla (1954) menjadi Godzilla, King of the Monsters (1956). Godzilla (1954) adalah film karya Ishiro Honda yang mengisahkan tentang bangkitnya sebuah monster yang bernama Godzilla (Gojira) dari daerah Bikini Atoll. Monster tersebut bangkit karena reaksi nuklir yang dihasilkan dari pemboman percobaan yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk mengetes kemampuan bom hidrogen terkemuk (Ryfle, 1998). Film ini berhasil mencapai kesuksesan yang tinggi, teknologi efek khusus dan teknik suitmation untuk memberikan rasa apokaliptik yang lebih realistik akhirnya menciptakan sebuah genre film baru bernama tokusatsu (film efek) (Allison, 2006). Selain itu, film ini menjadi film dengan pendapatan terbesar kedelapan pada tahun 1954 dan telah melahirkan puluhan film spin off lainnya di masa depan  (Nippon Kino, 2021).

Kesuksesan tersebut tentunya mendorong Hollywood, sebagai pasar terbesar film internasional, untuk menayangkan film Godzilla. Akan tetapi, Hollywood memilih untuk menunda penayangan selama dua tahun untuk membuat versi Amerikanisasi mereka sendiri. Versi Amerikanisasi yang rilis pada tahun 1956 itupun dinamai Godzilla, King of the Monsters (1956) yang masih mengisahkan tentang serangan Godzilla ke Jepang (Ryfle, 1998). Beberapa perubahan signifikan adalah adanya pergantian karakter utama film tersebut dari Daisuke Serizawa, sang ilmuwan Jepang anti militer menjadi Steve Martin, seorang jurnalis AS; penghapusan segala penyebutan kata “nuklir” dalam film; penyulihan suara dan bahasa yang digunakan di film menjadi bahasa Inggris, walau ada beberapa bagian yang hanya menggunakan subtitle untuk menerjemahkan kata-kata yang digunakan.

Amerikanisasi seringkali digunakan untuk menciptakan sebuah media yang lebih dapat dimengerti dan dikonsumsi oleh pihak AS. Praktik ini sering muncul dalam bentuk pengubahan sesuatu yang telah menjadi kebiasaan kultur Jepang menjadi sesuatu yang dapat dimengerti oleh orang AS. Contoh praktik ini adalah penggantian elemen seperti makanan cemilan dalam serial Pokemon yang berupa onigiri menjadi donat isi jeli untuk menyesuaikan konten tersebut agar lebih dimengerti oleh pihak AS. Perlu diketahui bahwa Amerikanisasi tidak terjadi hanya dalam kultur Jepang saja, tetapi terjadi juga terhadap kultur lain yang mungkin sulit dimengerti oleh AS. Amerikanisasi juga dilakukan dengan melakukan translasi dan penyulihan bahasa dari bahasa asli ke bahasa Inggris agar dapat dipahami warga AS.

Suatu konsekuensi dari Amerikanisasi adalah pada akhirnya produk yang tadinya diamerikanisasi untuk AS malah menjadi produk yang diterima oleh dunia. Masifnya penggunaan bahasa Inggris dan luasnya kemampuan penyebaran media AS seperti Hollywood yang internasional berkontribusi dalam menyebarkan hasil Amerikanisasi jauh lebih banyak dari produk original (Sedgwick & Pokorny, 2007). Distribusi media Amerikanisasi ini dapat dilihat sebagai sebuah bentuk chauvinisme budaya yang dijalankan oleh AS sebagai hegemoni demi melanggengkan kekuasaan AS atas Jepang. Sifat Amerikanisasi yang dianggap sebagai sebuah “koreksi” atas film dalam perihal Godzilla seolah menekankan bahwa film dan naratif konstruksi Jepang tidak sempurna dibandingkan naratif konstruksi AS sehingga AS memiliki white men’s burden untuk membenarkan kesalahan persepsi budaya dalam film tersebut. Hal ini juga ditandai dari fakta bahwa alterasi di film tersebut tidak mendapatkan izin dari Ishiro Honda yang hanya memberikan lampu hijau untuk penyebaran film Godzilla (1954) di AS, namun tidak diberitahukan mengenai alterasi dan Amerikanisasi yang begitu kuat (Kalat, 2017).

Perilaku korektif yang dilakukan AS pada film Godzilla tidaklah sesederhana penyesuaian agar hal di dalam film dapat ditangkap oleh masyarakat internasional. Pasalnya, AS dan seluruh negara di dunia internasional telah mengetahui konteks pemboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia II, sehingga pesan seperti itu harusnya tidak perlu disesuaikan. Apalagi AS juga meresonansi dampak buruk bom nuklir seperti ketika pemimpin negara AS, Harry S. Truman, memilih untuk tidak menggunakan bom nuklir dalam peperangan konvensional di Tiongkok dalam Perang Korea (Stein, 2000). Atas dasar itulah, penulis ingin menganalisis bagaimana keberadaan Amerikanisasi ini pada akhirnya menjadi senjata sistemik yang digunakan oleh AS untuk melanggengkan chauvinisme budaya dan kolonialismenya terhadap budaya Jepang.

Berdasarkan fenomena yang dijelaskan di atas, tulisan ini akan berusaha menganalisis dan memaknai gerakan Amerikanisasi AS. Dalam tulisan ini, akan ditekankan konteks-konteks historis dan konteks-konteks perfilman untuk menjelaskan relasi kuasa yang ada di antara Jepang dan AS dalam dunia perfilman melalui praktik Amerikanisasi. Penulis menganggap bahwa praktik Amerikanisasi menyebabkan pengaburan makna terhadap poin kritis. Oleh karena itu, penulis mengusung pertanyaan penelitian: Bagaimana Amerikanisasi yang dilakukan Amerika Serikat melalui Hollywood terhadap film Godzilla (1954) dengan merilis versi Godzilla, King of the Monsters (1956) menciptakan kolonialisasi budaya yang langgeng dan berkelanjutan? Dalam menjalankan riset ini, penulis akan menggunakan konsep Orientalisme oleh Edward Said dan Politik Kontrol Budaya oleh Vivienne Jabri.

Kerangka Konseptual: Orientalisme dan Politik Kontrol Budaya

Orientalisme

Orientalisme adalah sebuah konsep yang dijelaskan oleh Edward Said dalam bukunya berjudul orientalism (1978). Orientalisme adalah konsep yang digunakan untuk menjelaskan tendensi dari bangsa Barat untuk menggambarkan budaya Timur menurut kerangka dan keinginan mereka. Orientalisme menekankan bahwa struktur kuasa yang ada di dalam dunia yang mengakibatkan adanya perbedaan budaya, pendidikan, politik, sosial, dan ideologi yang dipandang lebih kurang dari yang lainnya. Hegemoni yang dimiliki oleh bangsa Barat telah memberi mereka kemampuan untuk mengkonstruksi budaya Timur demi menciptakan superioritas budaya Barat. Hal ini dapat dilakukan melalui gambar, representasi literatur, seni, media visual, dilm, dan aspek budaya lainnya (Bullock et al., 2000).

Dalam orientalisme, bangsa Barat membentuk segregasi dan segmentasi mengenai kebudayaan dunia menjadi dikotomi. Hal ini menciptakan adanya biner yang seolah-olah menampilkan kenyataan bahwa bangsa Barat dan Timur tidak akan pernah bisa memiliki kesamaan tertentu. Selain melakukan segmentasi, orientalisme menekankan adanya superioritas dan inferioritas suatu budaya tertentu terhadap yang lainnya. Dalam kondisi kali ini, bangsa Barat digambarkan sebagai lebih superior dibandingkan bangsa Timur yang lebih inferior. Stigmatisasi bangsa Timur yang dinilai sebagai lebih inferior adalah bentuk kolonialisasi tersendiri. Kolonialisasi dilakukan dalam bentuk dominasi dalam penggambaran budaya Timur oleh Barat tanpa melibatkan kesaksian dari orang Timur untuk menyampaikan budayanya secara lebih autentik (Burney, 2012).

Politik Kontrol Budaya

Politik Kontrol Budaya adalah sebuah konsep yang dinyatakan oleh Vivienne Jabri dalam bukunya The Postcolonial Subject: Claiming Politics/Governing Others in Late Modernity. Konsepsi ini dinyatakan oleh Vivienne Jabri sebagai sebuah bentuk adanya dominasi hegemoni tertentu terhadap keberadaan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Vivienne Jabri menyatakan bahwa negara Barat cenderung melakukan simplifikasi kompleksitas sebuah budaya menjadi sekadar sebuah kebiasaan yang diterima hanya di sebagian daerah tertentu. Negara kolonial secara parokialis menekankan stigmatisasi bahwa budaya negara koloni dan negara yang dikolonialisasi memiliki perbedaan yang sangat radikal. Hal ini mereka nyatakan untuk menggambarkan bahwa unsur kritis yang ditampilkan dalam media non barat itu tidak akan pernah bisa diterima dalam konteks budaya barat akibat perbedaan yang amat masif. Hal ini dilakukan untuk menetralisir dan membuang seluruh pemaknaan karya budaya negara koloni dalam rangka “mendiamkan dan menjinakkan” mereka sehingga persepsi mereka terhadap beberapa isu di dunia tidak dapat didengar dan membuat suara mereka hanya sekadar suara the other yang tidak memiliki signifikansi dalam dunia Eurosentris (Jabri, 2013). 

Oleh karena itu, bangsa Barat merespons keberadaan budaya yang dinilai “begitu berbeda dan radikal” bukan dengan menghancurkannya, tetapi “menjinakkannya”. Hal ini dilakukan agar muncul white men’s burden dalam diri para negara kolonis untuk “meluruskan dan menyesuaikan” unsur budaya tertentu. Dengan melakukan hal tersebut, negara koloni memberikan persepsi bagi dunia internasional bahwa mereka merupakan negara yang bertoleransi terhadap budaya negara koloni dan posisi mereka sebagai pemegang kontrol akan budaya kolonial akan terlanggengkan. Kontrol ini diperlukan untuk mengatur produksi budaya negara koloni sehingga budaya mereka pada akhirnya akan distandarisasi oleh standar barat. Dengan menekankan homogenisasi dan standarisasi budaya, negara koloni pada akhirnya menciptakan sistem yang mana budaya barat menjadi poros akan seluruh budaya internasional sehingga budaya non-barat harus selalu berusaha menyesuaikan dengan budaya barat, menciptakan kolonialisme budaya berkepanjangan (Jabri, 2013). Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan kondisi yang mana budaya other akan selalu dipandang sebagai budaya yang non universal, sehingga akan lebih sulit diterima dan dipahami dunia internasional.

Dalam melakukan analisis dan pemaknaan mengenai kasus Amerikanisasi film Godzilla (1954), tulisan ini akan menggunakan pendekatan pascakolonialisme. Paradigma ini ditujukan untuk menganalisis keberadaan ketergantungan yang diciptakan oleh usaha-usaha sistemis yang dilakukan oleh negara koloni dalam rangka menciptakan relasi kuasa yang dominatif oleh kelompok koloni terhadap negara bekas koloninya yang terus langgeng bahkan setelah negara tersebut tidak “dikolonisasi” secara langsung. Salah satu caranya adalah membentuk ulang pemahaman dan pemaknaan sebuah film kepada dunia internasional dalam rangka menanamkan keinginan tertentu. Dengan demikian, fenomena ini dapat dilihat menggunakan konsep orientalisme dan politik kontrol budaya. Melalui orientalisme, kita dapat melihat bagaimana Amerikanisasi Hollywood memberikan penggambaran stigmatis terhadap rakyat Jepang dalam film Godzilla (1954) dalam versi Amerikanisasi Godzilla, King of the Monsters (1956). Selain itu, konsep politik kontrol budaya juga penting untuk menunjukkan implikasi dari penggambaran makna sebuah budaya yang sangat radikalis dan biner. Konsep tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana AS menginvalidasi budaya Jepang dan keterhubungannya dengan dunia internasional, serta menunjukkan bagaimana AS membentuk sistem yang terus-terusan melanggengkan kuasa mereka akan budaya Jepang.

Pembahasan

Amerikanisasi Sebagai Fenomena Kolonialisme Budaya

Keberadaan konsep Amerikanisasi dalam dunia media AS adalah konsep yang mendasari adanya usaha AS melakukan kolonialisasi terhadap budaya Asia. Melalui Amerikanisasi, AS dapat melakukan perubahan sepihak terhadap produk budaya Asia. Sebuah karya budaya yang memiliki makna tertentu dapat dikaburkan dengan alasan “penyesuaian”. Hal ini kemudian berbahaya ketika AS melanggengkan penyebarluasan karya distorsinya tersebut secara internasional dan selamanya mengubah persepsi dunia internasional. Fenomena ini menciptakan pemikiran dikotomis seolah budaya Asia tidak dapat dimengerti oleh masyarakat Barat jika tidak mengalami proses Amerikanisasi. Penyebaran yang lebih masif pada versi Amerikanisasi pun memberi kesan seolah budaya Barat adalah budaya yang superior dan kondisi tersebut makin memperkuat posisi AS sebagai hegemoni media. 

Ketika AS melakukan alterasi terhadap sebuah film yang dilakukan secara sepihak, AS telah menafikan kepemilikan akan sebuah budaya. Dengan menghiraukan pendapat orang Asia dalam proses Amerikanisasi, AS telah menganggap posisi bangsa Asia sebagai the other yang menjadikan penafsiran media menjadi produk orientalis dari AS. Ketika telah muncul normalisasi Amerikanisasi dalam kebiasaan konsumsi media barat, maka akan terpatri pemikiran stigmatis yang menganggap bahwa budaya di luar budaya barat amat berbeda dan tidak sesuai dengan budaya barat sehingga perlu diubah. Pemikiran seperti itu kemudian memberikan kebebasan bagi AS untuk terus mengaburkan makna media asing di AS dengan justifikasi perbedaan budaya yang begitu kental, bahkan terlalu kental hingga perubahan tidak bisa dibicarakan terlebih dahulu dengan penciptanya.

Amerikanisasi yang terjadi dalam film Godzilla (1954) merupakan sebuah proses adaptasi film yang revolusioner dalam sejarah Hollywood. Pasalnya, ini adalah kala pertama film Jepang diadaptasi lebih dari sekadar pemberian subtitles dalam rilis internasionalnya. Sehingga walaupun Godzilla bukanlah film Jepang pertama yang dirilis secara internasional, Godzilla adalah film pertama yang mengalami Amerikanisasi yang mencakup alterasi dan pembentukan film yang berbeda dengan rilis asli (Ryfle, 1998). Hal ini membuat Godzilla (1954) menjadi film yang membuka gerbang amerikanisasi alterasi aliran baru. Film Jepang pada era sebelum ini memasuki Hollywood dengan hanya menggunakan media subtitles untuk menyesuaikan dengan audiens AS.  Film tersebut contohnya film Rashomon (1950) garapan Akira Kurosawa (Galbraith & Hayes, 2007).

Amerikanisasi Alteratif: Strategi yang Sukses?

Menjalani metode alterasi yang revolusioner berhasil membuat Godzilla, King of the Monsters (1956) mencapai kesuksesan finansial. Film tersebut meraup lebih dari satu juta dolar AS dalam perilisannya di AS dan menjadikannya film Jepang pertama yang berhasil mencapai pencapaian tersebut. Akan tetapi, film tersebut menerima ulasan yang tidak bagus dikarenakan film tersebut dinilai kosong dan hanya sekadar film monster biasa di hadapan publik AS (Kalat, 2012). Hal tersebut amat berbeda dengan film Amerikanisasi yang rilis pada sekitar waktu yang sama berjudul Seven Samurai (1954) milik Akira Kurosawa yang baru rilis di AS pada 1956. Film Kurosawa mendapatkan ulasan yang sangat baik dari para kritikus film, akan tetapi film tersebut tidak sukses secara finansial (Sharp, 2014). 

Kesuksesan tersebut pada akhirnya membuat nama Godzilla lebih tersohor sebagai pionir film Jepang yang berhasil sukses di AS. Ambivalensi tingkat kesuksesan kedua film Jepang yang tersohor di negaranya sendiri tampaknya menguatkan pemikiran rasis pada warga AS bahwa sebuah ciptaan negara koloni AS tentu tidak dapat mengalahkan hasil produksi AS. Melakukan alterasi pada Godzilla (1954) menjadi Godzilla, King of the Monsters (1956) pada akhirnya menjadi sejenis white men’s burden yang dijalankan AS untuk “membenarkan” konten film Godzilla (1954). Perubahan ini dinilai diperlukan untuk menciptakan kesuksesan bagi film-film Jepang yang hadir di bioskop AS. Penulis berargumen bahwa hal itu dipengaruhi oleh sifat Hollywood sebagai ruang industri film itu yang Eurosentris dan kapitalis. Oleh karen itu, penyebaran secara internasional yang diberlakukan AS pada dasarnya adalah rasis karena menampilkan dua nilai budaya Barat secara sepihak pada budaya Jepang.

Sifat Hollywood yang Eurosentris dan Kapitalis

Hollywood sebagai rumah produksi merupakan cerminan dari budaya yang Eurosentris dan kapitalis. Eurosentrisme Hollywood tampak dari tema-tema film rilisan yang menggunakan tema-tema Barat dan menampilkan budaya serta nilai-nilai Barat. Hal ini pun didasari oleh konteks historis dibentuknya Hollywood yang terjadi pada masa imperialisme Eropa. Budaya superioritas yang ada dalam Hollywood adalah cerminan dari budaya Eropa yang imperialis dan menunjukkan superioritas tersebut. Kesuksesan dari film lawas yang membawa tema rasis seperti Rastus In the Zululand (1910) dan Tony the Greaser (1914) membuat ada insentif untuk menghadirkan tema Eurosentris dalam menempuh kesuksesan di Hollywood (Stam & Spence, 1983).

Menurut Stuart Hall, kondisi Hollywood merupakan hasil dari perpaduan kondisi ekonomi, sosial, dan politik struktural dalam penciptaannya. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa perubahan sistem Hollywood akan amat sulit tercapai jika tidak membongkar ketiga bentuk kondisi tersebut. Hal ini juga menjelaskan bertahannya tema-tema eurosentris dalam film bahkan setelah sistem imperialisme telah jatuh dan terjadi dekolonisasi. Kebiasaan perfilman Hollywood telah menciptakan kondisi yang mana kebudayaan dari luar Barat tidak akan bisa digambarkan secara tidak Eurosentris. Sejarah dan kondisi sosial Hollywood yang begitu Eurosentris menyebabkan segala cara berinteraksi dengan budaya non-Barat menjadi suatu hal yang aneh dan perlu diatasi dengan solusi yang biasanya bersifat Barat agar dapat dimengerti oleh konsumen pasar Hollywood (Molina-Guzmán, 2018).

Sifat Eurosentrisme ini yang mendorong chauvinisme budaya untuk terus menjadi sebuah hal yang pervalen dalam film Hollywood. Godzilla, King of the Monsters berhasil mendapatkan audiensi yang tinggi dari masyarakat AS dibandingkan Seven Samurai akibat pemasarannya yang menempatkan tokoh peranan Raymond Burr sebagai tokoh utama. Ahli film Richard Kay pun menyatakan bahwa publik AS tak akan bisa menerima cerita Godzilla jika film diperankan oleh aktor dan aktris Jepang sepenuhnya. Ia menilai bahwa relatabilitas tidak akan sampai ke dalam penonton jika film tersebut tidak diberikan sudut pandang AS-nya (Ryfle, 1998). Hal tersebut yang pada akhirnya mendorong masyarakat AS untuk lebih banyak menonton Godzilla, King of the Monsters (1956) dibandingkan Seven Samurai. Penonton AS tidak nyaman dengan adanya narasi dominan dari pihak Jepang dalam film-film tersebut.

Sifat Hollywood yang Eurosentris juga didasari oleh sifatnya yang kapitalis. Kompetisi yang berjalan dalam Hollywood menciptakan lingkungan yang berusaha mengungguli satu dan lainnya. Kesuksesan sebuah konsep dalam Hollywood akan menghasilkan banyak repetisi dan eksploitasi konsep sejenis oleh pesaing dalam rangka meraup keuntungan serupa. Ketika sebuah konsep atau teknik berhasil mencapai titik kesuksesan, maka hal itu akan diulangi secara repetitif hingga hal yang “spesial” tersebut hilang. Kompleksitas artistik dalam Hollywood ditahan oleh adanya perhatian konsumen dan produksi film harus didasari oleh tren yang menghasilkan banyak kapital. Oleh sebab itu, penggunaan dan repetisi yang membunuh kreativitas dalam bisnis film bukanlah sesuatu yang jarang terjadi karena adanya sifat yang kapitalis. Menurut Earl dan Potts, sifat kapitalis konservatif Hollywood ini muncul dari adanya dasar keinginan kapitalisasi pasar dari keinginan penonton yang diutamakan lebih dari kekreatifan artistik (McMahon, 2017).

Kapitalisme yang amat kental tersebut membuat Hollywood berusaha memasarkan film sebagai sebuah komoditas yang sekadar dikonsumsi oleh masyarakat, daripada memasarkannya sebagai karya seni kritis seperti film-film Kurosawa. Hal tersebut berarti salah satu faktor kesuksesan Godzilla, King of the Monsters (1956) adalah karena film tersebut telah digambarkan sebagai sebuah film monster biasa. Komodifikasi tersebut diberlakukan untuk menciptakan kondisi yang membuat film tersebut nyaman untuk ditonton dan dipahami oleh sebanyak mungkin pihak. Hal tersebut berarti kesuksesan Godzilla dapat diatribusikan oleh hilangnya segala hal kritis yang membuatnya unik dan Godzilla sukses karena menjual keunikan konsep serangan monster pada zamannya.

Implikasi Kolonialisme dalam Kesuksesan Amerikanisasi Alteratif

Kesuksesan Amerikanisasi alteratif di AS hanya terjadi karena sifat industri budaya mereka yang Eurosentris dan kapitalis. Hal tersebut menandakan bahwa tidak selamanya film Jepang memerlukan alterasi yang sangat berat jika film Jepang tersebut ingin sukses di skala internasional. Memang benar keberhasilan Amerikanisasi Godzilla (1954) dapat diakui sebagai sebuah strategi bisnis yang jitu untuk menjual film Jepang tersebut di bioskop AS. Hal ini menandakan bahwa untuk membuat film Jepang sukses di AS, diperlukan alterasi yang lebih kapitalis dan Eurosentrik. Jika permasalahan hanya sampai disitu, tulisan ini mungkin belum dapat dikatakan menekankan kolonialisme AS, sebatas hanya menampilkan chauvinisme budaya AS secara sekilas.

Implikasi kolonial muncul ketika AS pada akhirnya melakukan distribusi film Jepang hasil Amerikanisasi tersebut ke dunia internasional. Hal ini menampilkan sebuah chauvinisme budaya yang amat kental, seolah AS menyatakan ke dunia bahwa hanya film-film yang melewati Amerikanisasi inilah yang layak untuk disebar secara internasional. Penulis menganggap bahwa penyebaran sebuah karya budaya secara sepihak dari AS ini merupakan usaha dari Hollywood untuk memastikan kelanggengan kuasa mereka terhadap industri film Jepang. Dengan mendistribusikan versi Amerikanisasi ini terlebih dahulu ke dunia internasional, AS telah mematikan kemungkinan dunia internasional untuk mengakses versi asli sebuah budaya populer melalui distribusi resmi dalam waktu yang signifikan. 

Ketika AS kemudian memilih untuk menyebarkan film Amerikanisasi mereka ke tahap internasional secara sepihak, mereka telah menciptakan kondisi sistemis yang mencegah Jepang untuk dapat menyebarkan karya budaya mereka secara bebas ke dunia internasional. Hal tersebut dikarenakan kemungkinan sebuah film Jepang untuk diterima di dunia internasional makin kecil akibat gerakan AS yang melakukan penyebaran versi Amerikanisasi tersebut. Bioskop internasional akan lebih terbiasa dengan karya-karya versi Amerikanisasi dan menormalisasi sifat sinema Jepang dengan penggambaran sepihak yang dilakukan oleh AS dalam versi Amerikanisasi-nya. Mereka akan lebih menerima karya yang sebelumnya telah mengalami proses Amerikanisasi terlebih dahulu karena keberadaan bahasa Inggris yang lebih prevalen dalam penggunaan dan pengartian tentunya menjadi alasan yang membuat mereka jauh lebih memilih menunggu versi Amerikanisasi dibanding menggunakan versi asli Jepang. Hal ini menciptakan sebuah sistem aliran yang statis berkaitan dengan alur persebaran film Jepang ke dunia internasional, yang mana film Jepang harus mencapai validasi AS terlebih dahulu melalui keberadaan Amerikanisasi, dan film yang berusaha melawan arus ini tidak akan mencapai popularitas yang prevalen.

Hal ini menciptakan kondisi yang mana perusahaan film Jepang kini harus menciptakan film yang harus dapat dipasarkan ke masyarakat AS untuk mencapai kesuksesan. Untuk menjalankan hal tersebut, film Jepang harus bisa mereplikasi budaya film AS yang tentunya tidak dapat mereka lakukan dengan sempurna karena sederhananya mereka adalah hasil budaya Jepang. Akan tetapi, kondisi distribusi sistemis yang diciptakan oleh adanya inovasi untuk melakukan Amerikanisasi alteratif ini pada akhirnya menutup kesempatan bagi orang Jepang untuk menyebarkan film-film produksi mereka ke dunia internasional. Sesuatu yang sebenarnya tidak menjadi kesulitan ketika Jepang dapat mengirimkan 3 perwakilan film di tahun 1951,1954, dan 1955 pada Academy Awards dan berhasil memenangkan penghargaan honorer. Namun, setelah munculnya Amerikanisasi Godzilla pada tahun 1956, tidak ada lagi karya Jepang yang mampu memenangkan Academy Awards.

Sistem yang diciptakan tersebut membuat seolah-olah film yang dipersepsikan “berkualitas” haruslah melewati proses Amerikanisasi terlebih dahulu. Pandangan ini seolah menampilkan persepsi AS sebagai negara kolonial sebagai sebuah “know-it-all” dalam bidang budaya. Hal ini juga menunjukkan bahwa AS menempatkan posisi budayanya sebagai budaya yang “paling universal” dibandingkan budaya Jepang. Dengan demikian, sekarang pendapat dan naratif yang ingin dibangun oleh masyarakat Jepang melalui media filmnya menjadi sesuatu yang tidak relevan jika hal tersebut tidak disertakan dengan dukungan AS di belakang naratif tersebut. Menciptakan sebuah dominasi yang mana AS kini memiliki kebebasan untuk menanamkan pesan-pesan parokialis mengenai budaya Jepang tanpa adanya kritik Jepang yang terdengar secara internasional akibat sistem distribusi yang kolonial seperti ini.

Pengaruh Sistem Distribusi dalam Penciptaan Kontrol Budaya

Dapat dipahami bahwa AS sekarang memegang peranan yang amat besar dalam kesuksesan komersial film Jepang di dunia internasional. Dimulai dari kesuksesan Godzilla, King of the Monsters (1956) hingga Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Mugen Train (2020), keberadaan AS di sisi distribusi selalu menjadi kontributor terbesar dalam kesuksesan film-film Jepang modern yang rilis secara internasional. AS memulai Amerikanisasi ini dengan menciptakan versi alterasi berat pada film Godzilla (1954) yang disebabkan kompleksitas konten film Godzilla itu sendiri hingga hanya melakukan subtitling di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Mugen Train (2020). 

Orang-orang mungkin akan berpendapat bahwa menurunnya usaha Amerikanisasi yang radikal ini adalah tanda bahwa kolonialisme dalam budaya Jepang telah memudar, penulis berargumen bahwa hal ini menunjukkan hal sebaliknya. Jika sebelumnya diperlukan alterasi yang berat dikarenakan film-film Jepang memiliki nilai yang sangat berbeda dari budaya Eropa yang Eurosentris, maka kenyataan bahwa dibutuhkannya sedikit alterasi pada film Jepang masa modern menandakan adanya konformitas jepang terhadap standarisasi yang ditetapkan oleh AS tersebut. Konten film AS pada tahun 2021 saja dipenuhi oleh produksi Anime, gaya animasi Jepang yang dikomodifikasikan secara kuat oleh AS sehingga memuat sangat sedikit nilai Jepang yang murni di dalamnya.

Secara sederhana, kondisi konformitas budaya sinema Jepang ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya kontrol terhadap budaya yang berhasil dilanggengkan oleh AS terlebih dahulu. Konfigurasi yang dilakukan AS secara berdekade-dekade yang diawali dengan Amerikanisasi film Godzilla (1954) berhasil membuat melanggengkan chauvinisme kultural mereka sekaligus memberikan impresi white men’s burden yang dilimpahkan ke AS untuk “menyederhanakan” isi film tersebut demi mencapai kesuksesan. Fakta bahwa konten film Jepang telah jauh lebih “jinak” dibandingkan persepsi film sebelumnya menandakan bahwa AS telah sukses untuk menanamkan kontrolnya ke budaya Jepang dengan standar yang diawali pada Godzilla, King of the Monsters (1956). Penulis berargumen bahwa prevalensi anime sebagai produk sinema Jepang pada masa kontemporer dihasilkan dari konformitas Jepang yang menyisihkan bagian penting budayanya dalam rangka mencapai “kesuksesan” di dunia internasional. Penulis berargumen bahwa AS membentuk kontrol budaya yang amat kuat, bahkan Jepang sendiri yang akhirnya menyelenggarakan kontrol secara independen.

Tentunya, kontrol budaya ini tidak berarti bahwa AS sepenuhnya dapat mencegah produksi sebuah film dari Jepang. Masih banyak film bertemakan protes seperti Godzilla dalam bentuk genre tokusatsu era showa (1966-1992) [Kalat, 2017] hingga film kontemporer seperti Fukushima 50 (2020) [Shackleton, 2019]. Akan tetapi, keberadaan film ini sudah tidak menjadi permasalahan sebesar Godzilla (1954) sehingga perlu diamerikanisasi, perihal AS sudah berhasil menciptakan sebuah sistem yang tidak akan menciptakan kesuksesan signifikan pada produk tersebut tanpa otorisasi AS. Banyaknya film yang diamerikanisasi atau diadaptasi ke sinema Hollywood setiap tahunnya pun jauh lebih besar dibandingkan film-film yang dinilai pada akhirnya menjadi bukti kelanggengan sistem distribusi yang diciptakan AS. Walau hal ini ditutupi dengan narasi-narasi bahwa “film Jepang telah berevolusi hingga makin sukses secara internasional”, kenyataan yang terjadi adalah AS sendiri lah yang mengatur kondisi yang memungkinkan adanya produksi film-film konformis yang sesuai dengan keinginan pasar AS dan menjadikan Jepang sebagai pasar film oriental yang mengisi papan daftar film asing di Hollywood tiap tahunnya.

Kontrol yang dimiliki AS akan budaya Jepang pada akhirnya menciptakan sebuah tendensi untuk menjadi validator individu dalam menentukan kemungkinan sebuah film untuk sukses secara internasional. Penulis berargumen bahwa kontrol yang begitu besar akan budaya adalah yang menciptakan kondisi yang melanggengkan AS untuk melakukan perubahan radikal dan alterasi pada produk budaya Jepang. AS tidak akan segan-segan melakukan alterasi dalam rangka menetralisir keberadaan kritik dalam sebuah budaya jika budaya itu dinilai mengancam hegemoni AS. Kebebasan penuh untuk mengendalikan bagaimana sebuah negara memproduksi budayanya inilah yang dinilai penulis sebagai adanya propagasi relasi kuasa berkelanjutan yang membuktikan keberadaan kolonialisme berkelanjutan yang terbentuk dari Amerikanisasi Godzilla (1954) menjadi Godzilla, King of the Monsters (1956).

Apropriasi, Perubahan Imej, dan Penggambaran Jepang dalam Media

Dalam film Jepang tradisional, setidaknya Jepang berusaha menampilkan budaya dan nilai-nilai Jepang yang tradisional berkaitan dengan identitas Jepang yakni nihonjinron. nihonjinron ini sendiri adalah sebuah pemikiran yang menyimbolkan nasionalisme dan keunikan Jepang dari bangsa lainnya. Poin-poin ini selalu hadir dalam Jepang, baik dari pembuatan keputusan pemerintahan, prevalensi dalam media, dan bahkan sebagai filosofi hidup. Jepang mengadopsi identitas ini untuk menciptakan sebuah identitas yang mampu menciptakan kesatuan bagi warga Jepang dengan mengikat mereka pada keunikan yang ditentukan oleh afiliasi mereka kepada Jepang. Adapun lima inti karakteristik nihonjinron meliputi:

  1. Orang Jepang adalah ras yang unik dan tidak memiliki keterkaitan dengan ras lain (Watanabe, 1974).
  2. Sifat kepulauan Jepang yang isolatif telah membuat Jepang memiliki kesempatan untuk tidak terlibat dengan dunia luar sehingga mereka dapat menciptakan pola yang sesuai dengan empat musim yang mereka alami (Dale, 1995).
  3. Penggunaan bahasa Jepang bukan sekadar menggunakannya dengan benar dalam artian struktur kalimat saja, tetapi menggunakannya dalam konteks dan makna yang benar. Membuat bahasa Jepang bahasa yang kompleks dibandingkan bahasa lain. (Suzuki, 1992).
  4. Sistem kebahasaan Jepang didasari atas keinginan terhadap sesama menciptakan kondisi yang membuat batas antara manusia menjadi amat pudar, sehingga tidak ada keberadaan ego yang berbeda jauh dengan apa yang ditunjukkan (Dale, 1995).
  5. Struktur sosial Jepang membentuk asosiasi sebagai model grup, sehingga seluruh orang Jepang tidak akan pernah bisa menjadi seorang individual karena adanya pemikiran yang kuat mengenai grupisme (Dale, 1995).

Sesuai dengan poin nihonjinron yang kedua, Jepang memiliki afinitas akan tradisionalisme karena mereka percaya bahwa identitas mereka tersebut dibentuk oleh budaya yang diatur oleh kesesuain akan empat musim. Akan tetapi, kita sering melihat Jepang yang modern digambarkan sebagai utopia teknologi oleh negara barat. Hal itu salah satunya disebabkan oleh penanaman mentalitas perkembangan yang dilanggengkan oleh AS dalam melakukan Amerikanisasi. Pendekatan AS yang melihat film Jepang hanya sebatas sebagai komoditas oriental telah menciptakan kaburnya budaya-budaya tradisionalis dalam film Jepang. Dalam waktu yang sama, AS mengembangkan industri Jepang pada masa periode economic boom yang membuat warga Jepang menjadi lebih terbiasa dengan modernitas bentukan AS. Hal ini yang kemudian membuat Jepang digambarkan dalam media sebagai utopia modernitas, padahal identitas tersebut merupakan hasil tanaman AS dan bukan identitas asli Jepang.

Selain itu, dalam melakukan Amerikanisasi yang Eurosentris, AS seringkali menanamkan struktur cerita yang herois dan bertemakan white-saviorism. Hal itu amat bertentangan dengan poin nihonjinron kelima yang menyatakan bahwa orang Jepang tidak hidup secara individu. Akan tetapi, narasi Jepang pada era modern adalah bagaimana orang Jepang adalah orang yang sangat individualistik, dari berdesak-desakan di kereta hingga mengacuhkan orang di jalanan. Hal tersebut juga tentunya bertentangan dengan poin nihonjinron keempat yang menekankan bahwa jarak setiap orang Jepang harusnya pudar dan tidak jelas. Akan tetapi, prevalensi tema heroisme AS yang biasanya diikuti dengan sifat pahlawan yang ceritanya digambarkan individualistik dan berjuang sendiri menciptakan perubahan tren di media Jepang. Konformitas pada poin heroisme AS ini juga akhirnya mengaburkan identitas Jepang di dunia internasional dan mengubah persepsi terhadap identitas Jepang dalam ranah internasional.

Dalam membiarkan banyaknya kemunculan orang Barat dan penyulihan bahasa dalam film Jepang pun, AS melanggengkan kolonialisme mereka dengan melanggar poin nihonjinron pertama dan ketiga. Walau poin pertama memang menunjukkan chauvinisme Jepang akan budayanya sendiri, hal itu seharusnya diterima sebagai sifat Jepang yang selalu menulis budaya atas keinginan rasnya sendiri dan bukan atas dorongan atau kemauan ras lain. Simplifikasi penggunaan bahasa dalam media pun pada akhirnya menghilangkan keunikan bahasa Jepang yang dalam penggunaannya bisa membawa artian terselubung dari cara pakai dan cara bicara yang berbeda. Sekarang Jepang seolah digambarkan sebagai “ras rekan” dan “sahabat” di Asia Timur oleh dunia Barat dan bahasa mereka telah diapropriasi sehingga bahasa mereka tidak dianggap memiliki makna yang sangat kompleks. Penggunaan kata “Konnichiwa” yang prevalen oleh orang barat padahal kata tersebut adalah sapaan resmi dan tidak menyimbolkan kedekatan intim antara kedua pihak pun adalah salah satu contoh apropriasi bahasa tersebut.

Sederhananya, penulis ingin menampilkan bentuk-bentuk perubahan imej dan persepsi internasional yang lahir dari kelanggengan unsur-unsur kolonialisme dalam media yang diakibatkan oleh kondisi Amerikanisasi alterasi yang terjadi setelah Amerikanisasi alterasi pertama dilakukan dalam bentuk Amerikanisasi Godzilla (1954) menjadi Godzilla, King of the Monsters (1956). Konformitas yang dilakukan oleh Jepang dalam konstruksi budaya populernya pada akhirnya membuat Jepang melupakan poin-poin identitas nihonjinron-nya dalam media. Hal tersebut tentunya makin mendorong adanya propagasi stereotipikal yang hadir dari dunia internasional yang belum tentu sesuai dengan kondisi identitas Jepang.

Penggambaran Jepang sebagai negara yang sangat maju dan modern dalam berbagai media barat telah menciptakan stereotip bahwa seseorang yang tinggal di Jepang pasti merasakan modernitas yang kuat dan mengalaminya setiap hari. Sedangkan, persepsi individualistik Jepang menggambarkan Jepang sebagai negara yang tidak peduli akan orang asing dalam kehidupan sehari-hari dan tidak akan menghabiskan waktu menolong orang yang tidak membawa keuntungan bagi mereka. Penggambaran eurosentris pun seolah menggambarkan bahwa Jepang menerima keberadaan bangsa Barat sebagai rekannya secara ideologis. Sementara itu, Bahasa Jepang makin lama digunakan sebagai sekadar bahasa yang tidak memiliki kaidah dan makna penggunaan seperti yang sebenarnya, sehingga bahasa tersebut amat diapropriasi penggunaannya.

Imej yang diproyeksikan Jepang dalam media-media yang menekankan nilai-nilai nihonjinron pada akhirnya hilang akibat kontrol yang lepas terhadap industri budaya mereka setelah mereka membiarkan film Godzilla (1954) untuk diamerikanisasi. AS merekonstruksi Jepang menjadi negara hiperkapitalis berisi sekumpulan orang individualis yang berusaha membentuk utopia modernitas di masa depan demi keuntungan individu di masa depan, hal ini tentunya tidak lepas dari segala kerja sama dengan AS, terutama dalam ideologi kapitalisme dan perdagangan bebas. Kenyataannya, imej tersebut hanya muncul dalam media Jepang akibat usaha mereka untuk menemukan tema yang dapat memenuhi target pasar AS. 

Kontrol AS terhadap budaya Jepang telah menciptakan sebuah kondisi sistemis yang mana media harus melalui proses di AS sebelum media tersebut dapat disebarluaskan secara nasional. Hal tersebut memberikan AS kemampuan untuk menstandarisasi dan mengkonstruksi media Jepang menurut imej yang mereka inginkan sehingga dunia internasional akan menganggap bahwa AS dan Jepang memiliki hubungan yang baik dan keberadaan AS diterima di Jepang. Kenyataannya adalah, penggambaran dalam media tersebut hanya dihasilkan dari chauvinisme budaya AS yang mengontrol produksi media Jepang secara parokialis melalui sebuah sistem distribusi yang memastikan kelanggengan kuasa mereka. Hal ini semua tercipta ketika Jewell Enterprises berinovasi untuk melakukan Amerikanisasi alteratif pada tahun 1954 setelah melihat Godzilla

Sistem produksi dan distribusi yang terinstitusionalisasi dalam Hollywood membuat karya-karya Jepang kritis seperti Godzilla (1954) dan film-film kedepannya menjadi ladang cerita mispersepsi kelompok orient. Keberadaan industri yang terinstitusionalisasi ini menjadi suatu tantangan yang dihadapi negara orient untuk bercerita dan memberikan pengalaman mereka secara intim. Seluruh media yang mereka rilis pada akhirnya hanya menjadi senjata kolonial untuk memanifestasikan orientalisme atau menceritakan mitos-mitos mengenai bangsa orient (Kabbani, 2009). Hal ini menjadi permasalahan ketika dunia internasional dan bahkan orang Jepang sendiri mulai mempercayai penggambaran parokial dan subjektif tersebut sebagai sebuah “kebenaran” dan menormalisasi diskursus bentukan kolonial tersebut (McLeod, 2000). Hilangnya identitas Jepang yang ditukar dengan identitas bentukan media yang sangat dipengaruhi oleh asumsi-asumsi rasis eurosentrik adalah titik kolonialisme yang masih dialami oleh Jepang dari Amerikanisasi alteratif yang dilanggengkan AS.

Kesimpulan

Menggunakan perspektif pascakolonialisme, terbukti bahwa Amerikanisasi yang dilakukan oleh AS terhadap film Godzilla  (1954) dalam perilisan Godzilla, King of the Monsters (1956) dapat dimaknai sebagai sebuah tindakan kolonialisme. Kolonialisme tersebut ditandai dari adanya rekonstruksi kenyataan sosial sepihak yang dilakukan oleh AS. AS melakukan Amerikanisasi terhadap produk media budaya Jepang yang kritis untuk melanggengkan kekuasaan mereka atas kebudayaan Jepang. Hal tersebut tidak dilakukan dengan melarang penyebaran budaya, melainkan dengan menjinakkan budaya Jepang. Hal ini dilakukan untuk membentuk persepsi yang diinginkan terhadap suatu budaya terlebih dahulu sehingga budaya kritis di masa depan akan kehilangan kemampuan kritisnya.

Perspektif pascakolonialisme disini berhasil menunjukkan usaha-usaha sepihak yang dijalankan pihak kolonial untuk menanamkan “kebenaran” dalam skala internasional. Menggunakan dua konsep pascakolonialisme dalam tulisan ini secara bersamaan mampu menciptakan hasil analisa yang lebih komprehensif dikarenakan kasus yang cukup tidak ortodoks dalam pembahasan ranah Ilmu Hubungan Internasional. Walau begitu, penulis merasa bahwa pendekatan pascakolonialisme dalam media budaya ini mampu memperlihatkan signifikansi dari budaya populer dalam ilmu HI, seperti terpatri dalam pengaruh film Godzilla (1954) dalam menciptakan manipulasi dan resistensi antara pihak kolonial dan koloninya dalam hal AS-Jepang.

Referensi:

Allison, A. (2006). Millennial monsters: Japanese toys and the Global Imagination. University of California Press.

Bullock, A., Trombley, S., & Lawrie, A. (2000). The new Fontana Dictionary of Modern thought. HarperCollins.

Burney, S. (2012). CHAPTER ONE: Orientalism: The Making of the Other. Counterpoints , 417, 23–39.

Dale, P. N. (1995). The myth of Japanese uniqueness. Routledge and Nissan Institute for Japanese Studies, University of Oxford.

Galbraith, S., & Hayes, R. M. (2007). Japanese science fiction, fantasy and horror films: A critical analysis of 103 features released in the United States, 1950-1992. McFarland & Co.

Jabri, V. (2013). The postcolonial subject: Claiming politics/governing others in late modernity. Routledge.

Kabbani, R. (2009). Imperial Fictions: Europe’s myths of Orient. Saqi Books.

Kalat, D. (2017). A critical history and Filmography of Toho’s Godzilla series. McFarland & Co.

Kalat, D. (Sutradara). (2012). Godzilla, King of the Monsters! Audio Commentary (Film). Criterion Collection.

McLeod, J. (2000). Beginning postcolonialism. Manchester University Press.

McMahon, J. A. (2017). What Makes Hollywood Run? Capitalist Power, Risk and the Control of Social Creativity. York University’s Thesis.

Molina-Guzmán, I. (2018). #oscarssowhite: How Stuart Hall explains why nothing changes in Hollywood and everything is changing. Stuart Hall Lives: Cultural Studies in an Age of Digital Media, 86–102. https://doi.org/10.4324/9781315158549-9

Nabi, R. L., & Riddle, K. (2008). Personality traits, television viewing, and the cultivation effect. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 52(3), 327–348. https://doi.org/10.1080/08838150802205181

Nippon Kino. (2021). Die Größten Japanischen Kassenerfolge der 1950er jahre. Nippon Kino. Retrieved November 18, 2021, from https://www.nippon-kino.net/die-groumlszligten-japanischen-kassenerfolge-der-1950er-jahre.html

Ryfle, S. (1998). Godzilla: The unauthorized biography. ECW Press.

Said, E. W. (2019). Orientalism. Penguin Books.

Sedgwick, J., & Pokorny, M. (2007). An economic history of film. Routledge.

Shackleton, L. (2019, May 14). Japan 2011 earthquake, tsunami drama ‘fukushima 50’ leads Kadokawa Slate (exclusive). Screen. Retrieved November 18, 2021, from https://www.screendaily.com/news/japan-2011-earthquake-tsunami-drama-fukushima-50-leads-kadokawa-slate-exclusive/5139322.article

Sharp, J. (2014, April 15). Seven samurai: The Rocky Road to classic status of Akira Kurosawa’s action masterpiece. BFI. Retrieved November 18, 2021, from https://www.bfi.org.uk/features/seven-samurai-akira-kurosawa-classic-status

Stam, R., & Spence, L. (1983). Colonialism, racism and representation. Screen, 24(2), 2–20. https://doi.org/10.1093/screen/24.2.2

Stein, R. C. (2000). The Korean War: “The forgotten war”. Enslow.

Suzuki, T. (1992). Kotoba no Ningengaku. Shinchōsha.

Watanabe Shōichi. (1974). Nihongo no Kokoro. Kōdansha. 

Albert Julio merupakan seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Dapat ditemui di Instagram dengan nama pengguna @im.the.aj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *