Obituari Mikhail Gorbachev: Refleksi Pemikiran dan Pengaruhnya bagi Dunia Kontemporer

Mr. Gorbachev, open this gate. Mr. Gorbachev, tear down this wall”

Ronald Reagan, Berlin Barat, 12 Juni 1987

Kabar duka datang dari Moskow pada 30 Agustus 2022. Pemimpin terakhir Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, meninggal dunia pada usia 91 tahun di RS Pusat Moskow akibat komplikasi penyakit ginjal, diabetes, dan usia tua. Kepergian Gorbachev terjadi di tengah pemburukan hubungan Rusia dan dunia Barat seiring invasi Rusia ke Ukraina dan pembicaraan tentang “Perang Dingin baru” menyusul Perang Dingin sebelumnya yang diakhiri Gorbachev. Banyak penilaian tentang Gorbachev semasa hidupnya, khususnya sebagai pemimpin Uni Soviet tahun 1985-1991. Di Barat, Gorbachev dipuja sebagai sosok yang menghancurkan tirani komunisme Soviet dan mengakhiri Perang Dingin secara damai. Jerman mengenang Gorbachev sebagai figur kunci dalam mempersatukan kembali Jerman dan meruntuhkan Tembok Berlin. 

Sementara, di Rusia, Gorbachev dianggap sebagai pembawa kekacauan di Rusia imbas runtuhnya Soviet dan berkurangnya pengaruh Rusia serta krisis ekonomi dan sosial yang menyusul runtuhnya Soviet, sehingga tak sedikit yang menyebutnya sebagai “pengkhianat”. Lantas, siapa sebenarnya Gorbachev? Dalam tulisan ini, penulis menghadirkan analisa singkat tentang pemikiran Gorbachev dan refleksinya bagi dunia.

Pemikiran Gorbachev

Gorbachev menunangkan pemikirannya dalam berbagai karya, baik selama memimpin Soviet maupun setelahnya. Sebuah pandangan kontemporer tentang dunia ditawarkan Gorbachev di bukunya, Posle Kremlya (2014) yang diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai The New Russia. Banyak orang Rusia maupun aktivis kiri modern mengira bahwa Gorbachev adalah kapitalis yang menyusup ke dalam sistem komunis. Padahal, sesungguhnya tidak demikian.

Gorbachev mengimani ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme, terutama tidak lepas dari pengalaman masa kecilnya di Stavropol melihat hidup petani yang penuh kesulitan dan perjuangan. Menurut Gorbachev, masyarakat Rusia terjebak dalam ilusi “kestabilan” dan konservatisme yang menghambat inovasi dan kreativitas, yang pada akhirnya akan meletus sendiri dalam revolusi. Gorbachev melihat keberanian Lenin dan revolusinya sebagai bukti bahwa perubahan harus dijalankan untuk memperbaiki Rusia.

Agar bisa mendorong perubahan, masyarakat harus diberikan ruang lebih luas untuk beropini dan menyampaikan apa adanya keadaan yang terjadi. Keterbukaan (glasnost) diharapkan akan membuka jalan bagi reformasi struktur pemerintah dan masyarakat (perestroika) yang ditandai dengan demokratisasi proses politik (demokratizatsiya). Gorbachev melihat hal ini lebih baik dilakukan dalam masyarakat Rusia yang memiliki kecenderungan konformitas dan tidak memiliki budaya politik yang partisipan, efek hidup berabad-abad di bawah rezim feudal dan otoriter, baik di era Tsaris maupun komunis. Gorbachev melihat dengan reformasi poltiik, maka Uni Soviet akan dapat mereformasi struktur ekonominya dan membuka jalan bagi Uni Soviet untuk mengejar ketertinggalan ekonomi dan teknologinya dengan dunia Barat. Gorbachev juga melihat keberanian Khrushchev yang mengutuk warisan Stalin yang totaliter sebagai contoh bahwa perubahan dapat dilakukan.

Oleh karena itu, Gorbachev melihat Uni Soviet perlu mengembangkan hubungan yang lebih bersahabat dengan Barat dan menghindari langkah konfrontatif yang akhirnya akan merugikan Uni Soviet sendiri, seperti perang di Afganistan yang saat itu sudah berjalan lama maupun modernisasi militer Soviet yang sangat membebani anggaran Uni Soviet. Gorbachev melihat perlunya kontak yang lebih baik dengan Barat sebagai refleksi atas kunjungannya ke Eropa Barat yang dijalankannya sebagai petinggi Partai Komunis Soviet. Gorbachev melihat pentingnya membangun “rumah Eropa bersama” untuk menangani masalah-masalah internasional bersama dalam damai dan kemakmuran.

Pemikiran Gorbachev dalam Praktik

Ketika Gorbachev mempraktikkan teorinya, kenyataan di lapangan tidak berjalan mulus. Fokus pada kebebasan politik ketika situasi ekonomi sedang sulit membuat sistem politik Uni Soviet mulai tidak stabil. Kerusuhan etnis membera di Kaukasus dan gerakan separatis bermunculan, hingga akhirnya Gorbachev harus mengeluarkan kekuatan bersenjata untuk melawan demonstran di Georgia, Azerbaijan dan Lithuania. Sementara, situasi ekonomi di dalam negeri kacau dengan inflasi dan kelangkaan produk-produk pokok.

Dalam hal ini, penulis berargumen bahwa pemikiran Gorbachev tentang reformasi mengalami kegagalan karena menempatkan politik ketimbang ekonomi lebih dulu. Lain halnya dengan pemikiran Deng Xiaoping di Tiongkok yang memfokuskan reformasi ekonomi sehingga tata kelola masyarakat bisa lebih terjamin.

Melihat tantangan yang semakin besar, Gorbachev menghadapi musuh dari dua front berbeda. Pertama, kelompok konservatif garis keras yang didominasi militer dan KGB yang khawatir Gorbachev bisa meruntuhkan Uni Soviet. Kedua, kelompok liberal garis keras pimpinan Boris Yeltsin yang ingin reformasi ekonomi secara cepat menuju ekonomi pasar. Di tengah ketidakstabilan, Gorbachev mengadakan jajak pendapat pada Maret 1991 untuk mereformasi Uni Soviet menjadi konfederasi yang lebih longgar, di mana mayoritas sepakat dengan proposal ini. Gorbachev berencana menandatangani perjanjian tentang reformasi Uni Soviet pada 20 Agustus. Gorbachev melihat hal ini sebagai langkah terbaik untuk mempertahankan Uni Soviet dan mencegah konflik yang lebih besar.

Namun, sehari sebelum penandatanganan, ketika Gorbachev sedang berlibur di Krimea, kelompok konservatif militer mengambil kekuasaan dan mendeklarasikan komite penyelamatan nasional. Kelompok garis keras ini tidak didukung masyarakat. Yeltsin muncul sebagai “pahlawan” dan menggagalkan kudeta ini. Gorbachev bisa kembali ke Moskow, namun Yeltsin sudah terlanjur muncul sebagai superhero dan Gorbachev mulai mengalami kelemahan politik. Akhirnya, Gorbachev “ditaklukkan” Yeltsin dan gerakan nasionalis semakin kuat di republik eks-Soviet lainnya yang mendeklarasikan kemerdekaan. Uni Soviet pun runtuh seiring pengunduran diri Gorbachev pada 25 Desember 1991.

Kegagalan Gorbachev di dalam negeri dirasa berbeda di luar negeri, khususnya dunia Barat. Gorbachev meninggalkan doktrin lama Soviet era Brezhnev yang memberi hak khusus bagi militer Soviet untuk meredam demonstrasi di negara komunis. Gorbachev membiarkan negara-negara Eropa Tengah dan Timur untuk memilih jalannya sendiri, dan rezim komunis di sana berhasil ditumbangkan sepanjang 1989-90. Gorbachev juga bertekad memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat melalui pertemuan rutin dengan Presiden Reagan dan Bush untuk mengurangi senjata nuklir dan menjaga stabilitas strategis global. Atas dasar ini, Gorbachev memenangkan Nobel Perdamaian pada 1990. Gorbachev dipandang sebagai sosok yang membawa perdamaian dan mengakhiri Perang Dingin yang sudah berlangsung lebih dari empat dekade. Salah satu simbolnya adalah lagu grup musik Scorpions menciptakan lagu “Wind of Change” untuk menggambarkan angin perubahan yang dibawa Gorbachev.

Refleksi Kontemporer

Lebih dari dua dekade setelah perginya Gorbachev dari Kremlin, hubungan Barat dan Rusia memburuk. Setelah upaya pendekatan di tahun 1990-an, konfrontasi kembali muncul seiring anggapan Rusia tentang unilateralisme Barat, ekspansi NATO, krisis ekonomi Rusia, dan munculnya pemerintah Vladimir Putin yang bercorak otoriter dan ingin mengembalikan kejayaan lama Rusia. Dalam memoarnya, Gorbachev menyayangkan pembalikan konfrontasi ini. Gorbachev mengkritik kedua pihak: di satu sisi, mengkritik rezim Putin yang mengarah ke otoritarianisme dan menghantam kebebasan berpendapat, dan di sisi lain juga dunia Barat karena berjalan dalam triumfalisme dan tidak menghormati kepentingan Rusia, dengan Rusia dipisahkan dari Barat sedangkan Rusia rela memberi banyak konsesi bagi Barat, terutama penarikan pasukannya dari Eropa Tengah dan Timur sedangkan NATO semakin mendekat ke perbatasan Rusia.

Mungkin hal paling menyedihkan dari kepergian Gorbachev adalah ia meninggal di tengah konfrontasi yang semakin memanas seiring invasi Rusia ke Ukraina. Rusia kembali menggunakan kekuatan bersenjata untuk “menertibkan” tetangganya agar tetap berada dalam lingkaran Rusia, seiring dengan represi yang semakin kuat di dalam negeri. Sebaliknya, alih-alih diplomasi, Barat justru melakukan cancel culture secara besar-besaran terhadap Rusia dengan sanksi tidak hanya terhadap rezim Rusia, tapi juga terhadap atlet, wisatawan, dan bahkan ikon budaya Rusia, meruntuhkan ide tentang “rumah Eropa bersama” yang dibawa Gorbachev.  Kekhawatiran tentang konflik nuklir kembali muncul, setelah sebelumnya dianggap sebagai peninggalan Perang Dingin. Angin perubahan yang dibawa Gorbachev seakan mati bersamanya. Meskipun reformasinya gagal di dalam negeri, namun pelajaran Gorbachev untuk dunia tak boleh dilupakan dan harus disadari. Semoga saja, momen kepergian Gorbachev bisa digunakan para pemimpin Barat, Rusia, dan seluruh dunia bahwa pernah ada upaya untuk menangani masalah internasional secara damai.

“I follow the Moskva, down to Gorky Park

Listening to the wind of change

Take me to the magic of the moment

On a glory night

Where the children of tomorrow dream away

In the wind of change”

*Petikan lagu Wind of Change karya Scorpions

Jonathan Jordan adalah alumni Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang memiliki minat pada kajian politik dan kebijakan luar negeri Rusia. Dapat ditemui di Instragram dengan nama pengguna @yurichernousov    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *