Olimpiade Tokyo 2020: Medali dalam Kekacauan

Ilustrasi dari FPCI UPH

Olimpiade Tokyo yang dinanti-nantikan akhirnya berlangsung, setelah sempat tertunda dan menghadapi protes dari masyarakat selama berminggu-minggu di tengah pandemi COVID-19. Dimulai dengan catatan positif, Indonesia telah mengantongi tiga medali sejauh ini dan semuanya di bawah cabang olahraga angkat besi. Windy Cantika Aisah meraih perunggu untuk putri, Eko Yuki Irawan untuk perak putra, dan Rahmat Erwin Abdullah untuk perunggu putra.

Amerika Serikat saat ini memiliki medali terbanyak, dengan total 41 medali, namun, Tiongkok mengantongi jumlah medali emas tertinggi dengan jumlah 18 dari total 38 medali.

Olimpiade tahun ini telah menampilkan gelombang aktivisme atlet baru, dengan banyak atlet yang berlutut untuk mendukung gerakan Black Lives Matter. Meskipun pernah dilarang, Komite Olimpiade Internasional telah memutuskan untuk melonggarkan pembatasan ekspresi atlet untuk menjaga netralitas.

Dengan slogan-nya yang berbunyi ‘United in Emotion’, yang dimaksudkan untuk menyatukan orang-orang melalui emosi bersama dari kenyataan pahit pandemi, Olimpiade 2020 telah menghasilkan beberapa pandangan yang bertentangan, misalnya lonjakan infeksi COVID-19 di ibu kota. Selain itu, terdapat pula beberapa skandal dari personel Olimpiade, seperti pengunduran diri komposer karena tuduhan pelecehan anak, hingga pengunduran diri seorang ketua yang seksis. 

Warga Jepang telah berkumpul di jalan-jalan untuk menyuarakan protes terhadap acara tersebut sejak minggu lalu, dari mengganggu acara kembang api terakhir dan bahkan menyebarkan selebaran anti-Olimpiade dari kereta. Warga merasa tidak adil bahwa pemerintah dan elitnya telah meraup keuntungan dari Olimpiade dan justru menutup mata terhadap dana yang bisa didedikasikan untuk mereka yang menderita akibat COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *