Orang Tua Gugat Amazon atas Penggunaan Nama “Alexa”

Ilustrasi perundungan akibat nama "Alexa". Foto: Business Insider

Para orang tua dari anak bernama Alexa di Inggris berusaha menggugat perusahaan ternama Amazon atas penggunaan Alexa sebagai nama panggilan alat asisten virtual buatan mereka, Amazon Echo.

Dikutip dari BBC, orang tua tersebut menyebut bahwa anaknya dirundung oleh teman-teman dan bahkan gurunya di sekolah karena memiliki nama yang sama dengan nama panggilan Amazon Echo.

Alat asisten virtual tersebut memang perlu dipanggil “Alexa” terlebih dahulu sebelum diberikan perintah oleh penggunanya. Namun, hal tersebut mengundang candaan dari orang-orang kepada mereka yang bernama Alexa, menjadikan mereka seakan-akan sebagai alat tersebut.

Karena alat tersebut semakin viral, otomatis candaan tersebut semakin membesar sehingga para Alexa mengalami candaan yang berlebihan hingga mencapai titik perundungan.

“Anak-anak yang lebih tua biasanya akan mengatakan hal seperti ‘Alexa, mainkan disko’ dan diikuti oleh anak-anak lainnya. Kami pernah berada di taman dan setiap anak laki-laki melontarkan candaan serupa,” kata Charlotte (bukan nama asli), salah satu orang tua dari anak bernama Alexa.

“Saya pikir itu memengaruhi kepercayaan dirinya. Alexa bahkan berkata kepada saya ‘kuharap orang-orang tidak tahu namaku’,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami Heather (bukan nama asli), orang tua dari anak lainnya yang bernama Alexa juga. “Dia tidak mau memperkenalkan dirinya lagi di sekolah akibat candaan yang berlebihan tersebut. Dia masih berusia anak-anak, tetapi orang dewasa pun merasa tidak keberatan merundungnya,” kata Heather.

“Itu menyakitkan, sekolah malah tidak menolong sama sekali dan bahkan malah menyuruh Alexa untuk ‘meningkatkan ketahanannya’ sendiri,” lanjutnya.

Sejumlah orang tua bahkan mengubah nama anak mereka karena tidak tahan dirundung dengan candaan “Alexa”, Heather termasuk salah satu yang melakukan hal tersebut.

Dampak dari penggunaan nama tersebut sangat signifikan secara luas. Saat Amazon Echo diperkenalkan di Inggris pada 2016, Alexa adalah nama terpopuler ke-167. Namun, tiga tahun kemudian popularitas nama Alexa turun drastis menjadi posisi ke-920.

Perundungan bagi para Alexa juga terjadi di belahan dunia lainnya, seperti AS dan Jerman.

Nantinya, dampak perundungan tersebut memicu gerakan “Alexa is a Human” yang dipelopori oleh Lauren Johnson dari AS. Kemunculan gerakan tersebut dipicu oleh perundungan tanpa henti yang juga dialami oleh putrinya, Alexa.

“(Penggunaan nama Alexa di Amazon Echo) adalah penghilangan identitas. Karena alat itu, kata “Alexa menjadi lekat dengan identitas pelayan atau bahkan budak sehingga memberi kesan orang-orang dapat memperlakukan Alexa dengan rendah,” kara Lauren.

Pihak Amazon sudah merespons fenomena tersebut dengan menyatakan rasa keprihatinan mereka dan mengecam perundungan yang terjadi. Namun, bagi para orang tua hal tersebut tidak cukup menghentikan semuanya.

“Mereka tidak menyebut bahwa panggilan ‘Alexa’ bisa diubah,” kata Charlotte.

Fenomena perundungan Alexa tersebut memperlihatkan dampak teknologi bagi manusia yang dapat mengubah identitas manusia itu sendiri. Ditambah prasangka dan ego manusia, teknologi tersebut menciptakan masalah perundungan bagi manusia.

“Kupikir sangat tidak etis jika suatu merek dapat membajak nama manusia dan mengubah makna dari nama itu secara total,” kata seorang Jerman bernama Alexa. “Saya mengajak para Alexa di dunia untuk berjuang demi nama mereka.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *