Partai Yamina dan Yesh Atid Capai Kesepakatan, Akhiri 12 Tahun Kuasa Netanyahu

Ilustrasi Yair Lapid (kiri) dan Naftali Bennett (kanan). Foto: Uriel Sinai/Getty Images

Setelah 12 tahun berada di tampuk kekuasaan Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan segera melepas kursi perdana menterinya.

Pada Minggu (30/05) waktu setempat, Pemimpin Partai Yamina Naftali Bennett berhasil membuat kompromi dengan Partai Yesh Atid Yair Lapid. Di dalam kompromi tersebut, Bennett akan menjabat sebagai perdana menteri hingga September 2023 dan Lapid akan memegang sisa masa jabatan tersebut hingga November 2025.

Dilansir dari The Jerusalem Post, kesepakatan koalisi akan ditandatagani Senin (31/05) ini dan diajukan ke Knesset, parlemen Israel. Pelantikan dapat dilakukan mulai hari Rabu (02/06), tetapi koalisi Bennett-Lapid harus mendapatkan kepercayaan dari parlemen dalam waktu seminggu sejak mereka memberi tahu upaya pembentukan pemerintahan kepada Presiden Reuven Rivlin.

Nantinya, anggota parlemen dari Yamina yang kontra terhadap pembentukan koalisi pemerintahan baru tersebut akan diminta untuk mundur pada Senin (31/05) hari ini. Hal tersebut dilakukan agar Yamina dapat mengamankan dukungan dari enam anggota parlemennya untuk meraih suara mayoritas.

Jika dibandingkan dengan Netanyahu, Naftali Bennett masih menjadi “orang baru” di dalam perpolitikan Israel.

Dengan latar belakang wirausahawan teknologi, Bennett baru masuk ke dalam ranah politik Israel sejak delapan tahun lalu, berbanding terbalik dengan Netanyahu yang sudah pernah menjadi perdana menteri sejak tahun 1996.

Namun, dikutip dari Aljazeera, krisis politik Israel sejak 2019 dan kondisi pandemi yang sangat parah di Israel semakin menurunkan popularitas “Bibi”—panggilan untuk Netanyahu—dan menaikkan popularitas Bennett.

Hal tersebut terlihat dari hasil Pemilu Israel 2021: Partai Likud pimpinan Netanyahu kehilangan tujuh kursi (total 30) dan hanya merebut kurang dari 25% suara pemilu, tetapi Aliansi Yamina pimpinan Bennett berhasil menambah empat kursi (total tujuh) dan merebut 6% suara pemilu.

Meskipun demikian, secara orientasi politik Bennett cenderung lebih radikal kanan dibanding Netanyahu.

Ia secara tegas meminta Israel untuk menganeksasi dan menempati Tepi Barat yang menjadi sisa-sisa wilayah sah Palestina. Secara internasional, ia juga menginginkan adanya kebijakan luar negeri yang lebih keras terhadap Iran.

Satu-satunya yang membedakan dirinya dengan Netanyahu adalah gaya hidupnya. Ketika Netanyahu lekat dengan kasus korupsi dan memiliki keluarga yang doyan hidup mewah, Bennett lekat dengan citra sebagai politisi jujur dan sederhana yang memerhatikan orang Yahudi di Israel.

Di sisi lain, Yair Lapid adalah seorang sentris sejati. Lapid seringkali mendorong resolusi yang lebih bernuansa “tengah” seperti mendorong kembali dilaksanakannya negosiasi untuk separasi kedua negara, dibandingkan aneksasi penuh. Begitu dipecat dari jabatannya sebagai menteri keuangan oleh Netanyahu pada 2014, Lapid menjadi oposisi yang konsisten mengkritik kebijakan Pemerintahan Netanyahu yang semakin ekstrem.

Pada akhirnya, Israel dapat dipastikan akan mendapat angin segar setelah dua tahun krisis politik. Namun, tidak ada jaminan juga bahwa “angin segar” alias koalisi ini akan bertahan lama. Dengan perbedaan pandangan dari partai beraliran kiri, tengah, dan kanan, perlu kehati-hatian yang luar biasa dalam menjalankan pemerintahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *