Pekerja Media Rusia Ramai-Ramai Mundur, Putin Sebut “Bermental Barat”

Ilustrasi Presiden Putin. Foto: Getty Images

Perlawanan terhadap invasi Rusia kepada Ukraina makin terasa di dalam negeri Rusia. Kali ini, perlawanan tersebut terlihat dari gelombang pengunduran diri figur-figur media, salah satu corong suara utama pemerintah Rusia.

Gelombang tersebut terlihat ketika Marina Ovsyannikova, pembaca berita Channel One, melakukan protes di siaran berita secara langsung dengan membentangkan spanduk anti-perang. Protes tersebut menjadi simbol utama dari perlawanan pekerja media Rusia terhadap propaganda pro-perang yang harus mereka bawakan di meja berita.

Hanya beberapa jam setelah protes tersebut, sejumlah pekerja media lain menyatakan pengunduran diri mereka. Di antaranya adalah Zhanna Agalakova, teman Ovsyannikova; Lilia Gildeyeva, pembawa berita NTV sejak tahun 2006; dan Vadim Glusker, pekerja NTV selama hampir 30 tahun.

Tidak hanya pekerja media swasta, berbagai pekerja media nasional yang ada di bawah pemerintah Rusia juga ikut mengundurkan diri. Sejumlah jurnalis melaporkan bahwa terjadi pengunduran diri besar-besaran dari Vesti dan Russia Today (RT), dua media nasional yang sering dicap sebagai “corong propaganda” Rusia.

Dari lini media nasional, sejumlah figur terkenal yang mundur di antaranya adalah Maria Baranova, mantan kepala editor RT; Shadia Edwards-Dashti, koresponden RT di London; dan Frédéric Taddeï, pembawa berita RT di Prancis.

Putin Berang, Ingatkan “Pengkhianat” Rusia di Dalam Negeri

Menghadapi peningkatan protes dalam negeri terhadap invasi, Presiden Rusia Vladimir Putin pun berang dan mengeluarkan pernyataan keras: mereka yang memiliki “kesamaan mental” dengan negara-negara barat merupakan “pengkhianat” yang akan dijadikan barat sebagai musuh dalam selimut.

“Tentu saja mereka (negara-negara barat) akan mendukung musuh dalam selimut dan pengkhianat, (yaitu) mereka yang mencari nafkah di sini, tetapi hidup di sana, dalam artian memiliki pemikiran yang serupa dengan mereka (barat),” ujar Putin dalam pernyataan kepada dewan menteri pada Rabu (16/3).

Putin juga menambahkan bahwa masyarakat Rusia akan mampu membedakan “patriot” dengan “orang hina dan pengkhianat,” dengan ucapan yang amat keras. Baginya, para “pengkhianat” tersebut akan menjadi musuh dalam selimut yang akan membantu barat untuk menghancurkan Rusia.

Pernyataan tersebut sangat mengagetkan publik Rusia, bahkan untuk ukuran Putin sendiri. Sejumlah ahli melihat pernyataan itu sebagai Orwellian. “Ia (Putin) membelah rakyat Rusia ke dalam dikotomi “bersih” dan “tidak bersih”,” tulis Andrei Kolesnikov, analis politik Rusia.

Pernyataan tersebut mencerminkan makin ditutupnya kebebasan bicara di Rusia setelah tiga minggu invasi ke Ukraina. Undang-undang baru yang disahkan pada awal Maret telah melarang adanya upaya “mempermalukan” tentara Rusia, termasuk menyebarkan “informasi palsu mengenai penggunaan Angkatan Bersenjata Rusia.”

Namun, bagaimanapun upaya pemerintah Rusia untuk meningkatkan dukungan terhadap invasi yang mereka lakukan, dari membatasi kebebasan suara hingga memberikan cap pengkhianat kepada oposisi, penolakan masyarakat terhadap invasi tetap tidak terbendung. Hal tersebut pun terlihat dari mundurnya pekerja-pekerja di media yang menjadi ujung tombak propaganda Rusia sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.