Pemilu Kenya Memanas: Dinasti Politik, Etnis, dan Koalisi yang Cair

Ilustrasi baliho kampanye pemilu di Kenya. Foto: Reuters

Jumat (29/07), memasuki periode seminggu sebelum pemilihan umum Kenya yang akan dilaksanakan pada 9 Agustus, kondisi negara Kenya makin mendapat perhatian internasional. Pasalnya, pemilihan umum di Kenya identik dengan adanya pengaturan pemilu dan munculnya aksi kekerasan. Pemilu tahun ini pun juga menunjukkan adanya dinamika yang cukup masam dalam perpolitikan Kenya.

Dua Calon dan Pemerintahan Yang Terpecah

Dua kandidat terkuat pemilu 2022 Kenya adalah Raila Odinga dan William Ruto. Odinga adalah tokoh oposisi kawakan yang telah gagal sebanyak empat kali dalam Pemilu sebelumnya. Sementara itu, Ruto merupakan wakil presiden di dalam pemerintahan Presiden Uhuru Kenyatta.

Ruto menjanjikan adanya “Kenya untuk semuanya”, latar belakangnya sebagai penjual ayam biasa menjanjikan Kenya bahwa semua orang bisa menjadi orang yang berhasil di negara Kenya. Sementara Odinga menekankan dukungan populis yang ia kumpulkan dari kampanye-kampanye pada pemilu sebelumnya untuk mewujudkan “Mimpi Besar Kenya.”

Sementara itu, terdapat dua kandidat lain yang kurang dipertimbangkan adalah George Wajackoyah dan David Mwaure Waihiga.

Di tengah persaingan ini, Presiden Uhuru Kenyatta mengagetkan Kenya dengan menyatakan dukungannya kepada Raila Odinga. Ia bahkan menjadi ketua dari kelompok kampanye Odinga bernama Azimio la Umoja (Keinginan untuk Bersatu). Tindakan ini amat menjadi mengejutkan, mengingat bahwa William Ruto adalah wakil presiden Kenyatta sendiri. 

Sebelumnya Kenyatta telah menyatakan bahwa Ia akan mendukung wakilnya semasa jabatannya berakhir, akan tetapi hal tersebut kelihatannya menjadi janji kosong belaka.

William Ruto sendiri telah membentuk koalisi bernama Kenya Kwanza (Kenya First) dan berhasil menarik pemimpin dari sisi Kenyatta dan publik dengan kisah inspiratifnya.

Pemilu 2022 Kenya tidak kekurangan interaksi dan perseteruan antara dua kandidat terbesarnya. William Ruto menyebut Raila Odinga sebagai “kakek tua” yang tidak punya rencana, sebab kampanyenya yang dinilai tidak substantif. Menurutnya, Odinga lebih memanfaatkan nama besarnya sebagai anak Jaraminga Oginga, Wakil Presiden pertama Kenya, ditambah lagi dengan dukungan Uhuru Kenyatta, anak Presiden pertama Kenya, Jomo Kenyatta. Dengan demikian, Odinga disebut mengandalkan kekuatan “Dinasti”.

Odinga membalas dengan menyatakan bahwa pemerintahan Ruto dilanda dengan banyaknya korupsi. Namun, tuduhan ini menjadi sedikit janggal mengingat dirinya yang didukung oleh Kenyatta, yang berada dalam pemerintahan yang sama. 

Ruto menyatakan bahwa kinerja pemerintahannya diganggu dengan banyaknya oposisi dari sisi Odinga. Sedangkan Odinga bersikeras bahwa Ruto tidak mengerti apa-apa tentang pemerintahannya sendiri. Kedua kandidat harus amat berhati-hati dalam kampanyenya karena kedekatan kedua pihak terhadap pemerintahan Uhuru Kenyatta. Kedua pihak kemudian cenderung menghindari mengkritisi pemerintahan sebelumnya.

Koalisi yang Terus Berubah dan Peran Etnis yang Semakin Redup

Peran etnis dalam Pemilu Kenya secara historis menjadi sesuatu yang penting. Melihat konflik dan kekerasan etnis yang terjadi pada tahun 2007, pengawasan seluruh dunia akan berusaha memastikan kekacauan tersebut tidak terjadi lagi.

Walau kandidat Odinga telah membentuk aliansi yang kuat secara etnis dengan Kenyatta dan kelompok suku Kikuyu, kandidat Ruto menyatakan bahwa konflik yang terjadi bukanlah masalah etnis. Ruto menyatakan bahwa kondisi yang terjadi sekarang adalah konflik mengenai dinasti melawan para pekerja keras.

Hal ini sesuai dengan permasalahan sosioekonomi yang meliputi Pemilu Kenya 2022, ketimbang ketegangan etnis. Walau hal ini dapat membuat dimensi yang lebih luas dalam kebijakan sosial ekonomi, hal ini masih memungkinkan adanya konflik. Dapat dikatakan, pengaruh etnis sepertinya mulai menghilang dalam Pemilu Kenya.

Memang keberadaan suku yang berbeda-beda di Kenya kerap menjadi hal yang memicu perselisihan. Keberadaan suku besar seperti Kikuyu, Luo, Luhya, dan Kalenjin biasanya mengundang pertikaian dalam perebutan kekuasaan secara nasional.

Namun, Odinga dan Ruto sendiri pada 2007 dahulu sebenarnya pernah beraliansi, yang menunjukkan bahwa pola persekutuan antar suku lebih merupakan keputusan elit, bukan sesuatu yang kaku. Pola dalam Pemilu-Pemilu selanjutnya kemudian mengonfirmasi temuan ini dengan koalisi yang terus-menerus berubah antar tokoh dari masing-masing suku.

Dalam pemilu ini sendiri, William Ruto adalah seorang suku Kalenjin dan Raila Odinga adalah seorang suku Luo. Melalui dukungan Kenyatta yang orang Kikuyu, masih terlihat usaha Odinga untuk menarik dukungan etnis terbesar di Kenya tersebut.

Pemilu akan dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2022 selama 12 jam dimulai dari pukul 6 pagi pukul setempat. Pada pukul 5 sore, pemilu akan ditutup dan suara akan langsung dihitung. Kandidat yang berhasil mendapat lebih dari 50 persen suara pada pengumuman penghitungan suara pada tanggal 15 Agustus 2022 akan menjadi presiden Kenya berikutnya.

Odinga dan Ruto telah menyatakan bahwa mereka akan menerima hasil Pemilu, menang atau kalah. Hal ini dapat diterima secara positif sebagai jaminan tidak adanya ketegangan antar etnis dan transisi kekuasaan secara damai. Namun, semua pihak harus tetap awas terhadap berbagai ketegangan yang mungkin pecah hingga Pemilu pada 9 Agustus mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.