Penembakan Massal Kembali Terjadi di AS, Kali Ini di Subway New York

Foto: John Minchillo/AP

Pada Selasa (12/4) pagi, Amerika Serikat kembali mengalami peristiwa serangan yang menarik perhatian nasional dan internasional: terjadi penembakan di New York Subway, moda transportasi massal terkemuka di negara tersebut.

Penembakan yang terjadi di dalam kereta tersebut dilakukan oleh pria dengan masker gas yang melempar granat gas sebelum melontarkan rentetan timah panas. Penembakan dilakukan ketika kereta mendekati Stasiun 36th Street di Brooklyn, New York City.

Laporan saksi mata menyebut bahwa penumpang tidak menyadari adanya penembakan hingga penumpang dari gerbong tempat terjadinya insiden menggedor pintu penghubung antar gerbong. Dari gerbong tersebut, saksi mata mendengar suara letupan yang keras dan asap.

Ketika kereta mencapai Stasiun 36th Street, pelaku telah kabur dari tempat kejadian, entah di stasiun atau di dalam terowongan Subway. Di stasiun inilah peristiwa penembakan mulai diketahui publik. Penumpang di peron stasiun melihat adanya asap, darah, dan teriakan dari gerbong kejadian yang kemudian segera direkam dan disebarkan di media sosial.

Terjadi di Rush Hour, Sebabkan Kekacauan

Situasi diperparah dengan kekacauan evakuasi kereta. Konduktor Kereta R di platform lain di Stasiun 36th Street meminta penumpang untuk pindah ke keretanya, sementara polisi meminta penumpang untuk keluar dari stasiun Subway ketika kereta mencapai Stasiun 25th Street. Dampaknya, penumpang berhamburan keluar stasiun dalam keadaan panik dan menimbulkan korban cedera yang lebih banyak dari korban penembakan.

Kekacauan evakuasi tidak hanya disebabkan oleh perbedaan perintah di lapangan, tetapi secara tidak langsung juga disebabkan oleh situasi Subway pada waktu terjadinya penembakan. Waktu peristiwa terjadi pada rush hour pagi ketika warga New York City berangkat dari tempat tinggal untuk bekerja dan beraktivitas. Akibatnya, Subway menjadi padat dan koordinasi evakuasi makin sulit.

Tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut, tetapi 29 orang menderita luka-luka. 10 orang menderita luka tembak, lima di antaranya kritis. Sementara itu, 19 orang lainnya menderita luka-luka akibat kekacauan evakuasi kereta.

Pelaku Dikejar, Warga Diminta Simpati

Kepolisian New York (NYPD) menyebut bahwa belum ada pihak yang dijadikan tersangka, tetapi mereka memegang ciri-ciri pelaku, yaitu pria kulit hitam, tinggi 165 cm, berat 79-82 kg, memakai masker gas, seragam MTA, dan seterusnya.

Kepolisian berpendapat bahwa pelaku bertindak sendiri dan melihat ada kaitan antara penembakan dengan U-Haul, perusahaan kargo AS. Dari hasil penelusuran kartu kredit yang digunakan untuk menyewa kendaraan pelaku, kepolisian menyatakan bahwa Frank James, pria 62 tahun, adalah person of interest.

Juru Bicara Walikota New York City Eric Adams meminta warga untuk menjauh dari area penembakan “demi keamanan warga dan kelancaran aparat yang berwenang.” “kami tidak akan membiarkan warga New York City menjadi korban teror bahkan oleh satu orang sekalipun,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur New York Kathy Hochul menyebut pelaku sebagai “berhati dingin” sembari meminta penghentian penembakan massal di New York City.

Simpati warga juga ditekankan setelah adanya kasus peningkatan harga Uber dan Lyft, aplikasi transportasi daring, setelah kejadian penembakan. Uber pun mengumumkan bahwa kenaikan harga di area penembakan akan disetop dan harga di seantero New York City akan dibatasi.

Penembakan New York Subway pun lagu dan lagi mengilustrasikan kerentanan AS akan ancaman dari dalam negeri, terutama dari penembakan massal karena longgarnya regulasi senjata di negara tersebut. Yang terpenting, penembakan ini adalah salah satu ujian bagi pemerintahan Eric Adams yang sebelumnya berjanji akan meningkatkan keamanan di New York City.

Leave a Reply

Your email address will not be published.