Pentingnya Investasi dan Standardisasi Industri Kesehatan ASEAN

Ilustrasi bioteknologi. Foto: Pixabay

Pandemi COVID-19 telah membuat kapasitas pemerintah-pemerintah di dunia untuk menjamin kesehatan bagi warganya benar-benar diuji, tidak terkecuali negara-negara di Asia Tenggara. Meskipun wilayah ini telah melakukan upaya penanganan yang relatif cukup baik dalam menahan penyebaran infeksi dan memastikan angka kematian tetap rendah dibandingkan wilayah lain, dampak ekonomi dari COVID-19 beserta kebijakan lockdown yang menyertainya cukup merusak aktivitas ekonomi yang ada, dengan kontraksi ekonomi rata-rata mencapai 4% hingga 7% di antara negara-negara ASEAN. Mengingat banyak perekonomian di negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada ekspor komoditas dan pariwisata, ada harapan agar pandemi dapat segera berlalu, meskipun akses terhadap vaksinasi dan ketimpangan kemampuan tiap negara ASEAN dalam menangani penyebaran virus menjadi tantangan tersendiri (Caballero-Anthony, 2021). 

Namun di saat yang sama, pandemi ini juga menunjukkan adanya sektor ekonomi negara-negara Asia Tenggara yang selama ini kurang mendapatkan perhatian lebih jauh, yakni industri kesehatan. Beberapa negara seperti Singapura mungkin memiliki kapabilitas dan kapital yang mencukupi untuk secara serius menunjang industri kesehatan nasional mereka, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas negara Asia Tenggara masih harus berjuang dalam menghadapi kurangnya kemampuan teknis dan penguasaan teknologi kesehatan, sistem healthcare yang tidak siap menangani lonjakan permintaan, serta komitmen pemerintah dan kesadaran publik yang rendah (Siahaan, 2021). Oleh karena itu, pandemi COVID-19 seharusnya menjadi titik awal bagi pemerintah negara-negara ASEAN untuk memikirkan kembali prioritas industri kesehatan regional, terutama dalam menjamin kesiapan menghadapi dinamika sosial masyarakat Asia Tenggara, dan kemampuan untuk memenuhi permintaan masa depan, terutamanya dari perubahan demografi yang akan terjadi dalam beberapa dekade lagi.

Angka urbanisasi dan industrialisasi di ASEAN yang meningkat tentunya akan membuat orang-orang yang selama ini pindah dari pedesaan ke perkotaan dan mengintegrasikan diri dengan perekonomian modern untuk beradaptasi terhadap gaya hidup baru mereka, termasuk variasi nutrisi, paparan terhadap polusi, dan perhatian terhadap kesehatan. Dinamika sosial ini menunjukkan generasi middle-class baru orang-orang Asia Tenggara yang jauh lebih menyadari pentingnya kesehatan dalam hidup mereka. Beberapa prediksi menunjukkan bahwa jumlah pengeluaran kesehatan di Asia Tenggara akan meningkat dari 420 miliar dolar AS pada tahun 2017 menjadi 740 miliar dolar di tahun 2025 (Didron, 2020). Dan pandemi kali ini akan semakin meningkatkan perhatian mereka dalam menjaga kesehatan yang ditunjukkan dengan naiknya tingkat konsumsi suplemen dan obat-obatan over-the-counter (Shen, 2020). Maka, investasi lebih banyak dibutuhkan untuk menyesuaikan kebutuhan pasar dari konsumen yang kian meyakini pentingnya gaya hidup dan pola makan sehat. 

Selain itu dua hal tersebut, terdapat satu bagian penting lain yang berhubungan dengan dinamika sosial masyarakat Asia Tenggara, yakni pergerakan manusia. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi COVID-19 memang menurunkan aktivitas keluar-masuk antara negara-negara ASEAN, terdapat insentif untuk segera menormalisasikan situasi dan mempermudah akses manusia untuk pergi bekerja atau sekadar berlibur ke negara-negara ASEAN. Karakteristik generasi yang lebih mobile ini pada akhirnya juga menuntut pelayanan kesehatan yang memadai, dan di sinilah pentingnya sebuah standardisasi teknis kesehatan di negara-negara ASEAN. Saat ini, jika seseorang berkebangsaan Indonesia sedang bekerja di Thailand, dan tiba-tiba jatuh sakit, alur birokrasi kesehatan yang perlu diproses untuk mendapatkan data pasien yang sedang dirawat di Thailand dari rumah sakit Indonesia masih sulit, dan kapabilitas tenaga medis atau alat-alatnya pun belum tentu seragam (Lalenoh, 2018). Untuk mengatasi hal ini, ASEAN mungkin dapat mengikuti contoh dari Uni Eropa yang mengadopsi kerangka kerja ‘harmonised standard’ dan inisiatif seperti eHealth Action Plan 2012-2020 yang berusaha menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan interoperabilitas layanan kesehatan ke semua negara anggota (“Interoperability & Standardisation,” 2020).

Hal lain yang juga perlu disiapkan dari sekarang adalah permintaan akan layanan kesehatan di masa depan yang pasti akan terjadi saat populasi pekerja di ASEAN mulai menua. Di waktu dekat, ASEAN mungkin akan masih menikmati bonus demografi dari populasi muda mereka yang mulai masuk ke dunia kerja dan menghasilkan kapital. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jika infrastruktur layanan kesehatan ASEAN saat ini masih belum mampu mencukupi kebutuhan yang ada, maka di masa depan ketika bonus demografi atau excess population ini menua, negara-negara ASEAN berisiko menghadapi krisis kesehatan ketika kapabilitas regional tidak mampu memenuhi tuntutan yang kian membludak. Oleh karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai meningkatkan investasi dalam industri dan layanan kesehatan. Kita bisa menengok ke kawasan Asia Timur dan negara-negara Barat yang sudah melewati masa bonus demografi mereka, dan sekarang berada dalam fase di mana populasi pekerja mereka menua dengan cepat (Kujis, 2017). Dengan banyaknya kapital dan investasi yang mereka gelontorkan sekarang pun, kapasitas industri dan layanan kesehatan di negara-negara tersebut masih menghadapi tantangan terhadap prospek masa depan, yang mana hal ini juga berpotensi menjadi perdebatan politik yang sengit di pemerintahan mengenai bagaimana anggaran negara dan perekonomian harus diarahkan agar memenuhi tuntutan kesehatan warga negaranya. Untuk menjamin akses layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau di masa depan bagi semua orang, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai membangun kapasitas baik di sektor pemerintah maupun swasta.

Inisiatif seperti ASEAN Medical Device Directives (AMDD) yang berusaha menyamakan regulasi dan mendorong produsen alat-alat medis untuk mendaftarkan perangkat mereka di negara ASEAN yang menjadi tempat produksi merupakan langkah awal yang cukup baik, namun fakta bahwa hanya Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang bisa memenuhi anjuran tersebut menunjukkan bahwa ASEAN sebagai sebuah kawasan masih tertinggal dengan regional bloc lainnya dalam bidang kesehatan (Medina, 2020). Yang pasti adalah, terdapat kebutuhan nyata untuk usaha lebih dalam membangun kerangka kerja atau rezim kesehatan bersama yang tidak hanya penting untuk memastikan perawatan kesehatan yang layak dan dapat diakses, tetapi juga untuk membuka peluang ekspansi bisnis dan investasi kesehatan secara keseluruhan di wilayah Asia Tenggara.

Daftar Pustaka

Caballero-Anthony, M., 2021. COVID-19 in Southeast Asia: Regional pandemic preparedness matters. Brookings. URL https://www.brookings.edu/blog/order-from-chaos/2021/01/14/covid-19-in-southeast-asia-regional-pandemic-preparedness-matters/ (accessed 5.18.21).

Didron, J., 2020. Southeast Asia’s digital health future. Bangk. Post.

Interoperability & Standardisation: Connecting eHealth Services [WWW Document], 2020. . Eur. Comm. URL https://ec.europa.eu/digital-single-market/en/interoperability-standardisation-connecting-ehealth-services (accessed 6.1.21).

Kujis, L., 2017. ASEAN’s Impending Demographic Troubles [WWW Document]. BRINK – News Insights Glob. Risk. URL https://www.brinknews.com/aseans-impending-demographic-troubles/ (accessed 6.3.21).

Lalenoh, L.A.P., 2018. Global Health Challenges in ASEAN Economic Community Era [WWW Document]. KnowledgeE Soc. Sci. URL https://knepublishing.com/index.php/KnE-Social/article/view/2343/5180 (accessed 6.1.21).

Medina, A.F., 2020. Investing in ASEAN’s Healthcare Sector: New Opportunities After COVID-19 [WWW Document]. ASEAN Brief. URL https://www.aseanbriefing.com/news/investing-in-aseans-healthcare-sector-new-opportunities-after-covid-19/ (accessed 6.3.21).

Shen, S., 2020. Consumer Health in Southeast Asia: Strong Growth Beyond Coronavirus [WWW Document]. Euromonitor Int. URL https://blog.euromonitor.com/consumer-health-in-southeast-asia-strong-growth-beyond-coronavirus/ (accessed 6.1.21).

Siahaan, G.N., 2021. Southeast Asia’s Responses to the COVID-19 Pandemic. Aust. Inst. Int. Aff. URL https://www.internationalaffairs.org.au/australianoutlook/southeast-asias-responses-to-the-covid-19-pandemic/ (accessed 5.18.21).

M. Damar Shafy R. adalah seorang mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Dapat ditemui di Instagram dengan nama pengguna @mdamarsr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *