Peracunan Navalny: Awal Remuknya Hubungan Jerman-Rusia?

Ilustrasi Alexei Navalny. Foto: FPCI UPH.

Rusia sekarang berada di bawah kecaman komunitas global dan ancaman sanksi setelah seorang oposisi paling kuat Kremlin, Alexei Navalny, sekarang terbaring di tempat tidur di salah satu rumah sakit di Jerman. Navalny dilaporkan jatuh sakit dalam sebuah penerbangan domestik dan Kremlin dicurigai terlibat dalam insiden tersebut.

Penyebab jatuh sakitnya Navalny disebabkan oleh penggunaan racun Novichok, seperti yang dinyatakan oleh Pemerintah Jerman sebagai bukti yang tidak bisa lagi diragukan kebenarannya. Sifat latar belakang politik Navalny yang merupakan politikus oposisi Rusia, ditambah adanya penggunaan racun yang khas era Soviet, tentu kian menimbulkan kecurigaan terhadap keterlibatan Rusia dalam hal ini.

Jerman memberi penjelasan soal penggunaan Novichok ini kepada mitra negara G-7 tentang temuan klinis dan toksikologi mereka, dan dalam pernyataan bersama negara-negara tersebut mengatakan “serangan terhadap pemimpin oposisi Navalny ini merupakan pukulan telak atas demokrasi dan pluralitas politik di Rusia.”

Tidak hanya itu mereka juga menuntut Rusia untuk menemukan dan menegakkan transparansi tentang para tersangka yang melakukan peracunan dan membawa mereka ke pengadilan.

Jerman, sebagai simbol Uni Eropa saat ini, turut mengutuk penggunaan senjata kimia dan memperingatkan Rusia bahwa jika Kremlin tidak memberikan penjelasan mengenai peracunan Navalny, mereka akan menanggapi dengan “tindakan yang sesuai, termasuk menerapkan pembatasan hubungan dengan Rusia.”

Menanggapi hal ini, Rusia memanggil Duta Besar Jerman untuk mengajukan keberatan atas tuduhan mereka. Kementerian Luar Negeri Rusia memprotes “tuduhan tidak berdasar dan ultimatum terhadap Rusia” oleh otoritas Jerman, dan selanjutnya menuduh “Berlin menggunakan situasi tersebut untuk merendahkan Rusia di arena internasional.”

Menlu Rusia tersebut juga meminta tanggapan substantif terkait data medis Navalny dan hasil pemeriksaan, dan jika mereka gagal untuk memberikannya, tindakan tersebut akan dilihat sebagai sebuah provokasi dan kemungkinan besar akan mengakibatkan komplikasi dalam hubungan mereka dan situasi internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *