Perkuat Hubungan dengan Israel, Kosovo Akan Dirikan Kedutaan di Yerusalem

Ilustrasi penandatanganan pernyataan bersama dari Kosovo dan Israel. Foto: Menahem Kahana/AFP

Kabar mengejutkan datang dari kawasan Balkan setelah Kosovo mengumumkan bahwa mereka akan memperkuat hubungan diplomatis dengan Israel. Sentimen tersebut kemudian diperkuat dengan adanya perencanaan pembangunan kantor kedutaan besar Kosovo di Israel. Hal yang dinilai cukup mengejutkan dan kontroversial adalah lokasi kedutaan besar yang direncanakan, yakni di Yerusalem.

Yerusalem, seperti yang kita ketahui, adalah teritori utama yang dipermasalahkan dalam konflik Palestina-Israel. Kota ini merupakan kota yang seringkali direbut oleh kedua sisi penganut agama Abrahamik karena kepentingan sejarah dan religinya yang cukup signifikan dalam kedua agama. Ketidakjelasan status dari kota Yerusalem inilah yang membuat banyak negara di dunia enggan membangun gedung kedutaan negaranya di kota ini.

Pemindahan kantor kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem yang dilakukan Presiden Trump pada bulan Mei 2018 dinilai sebagai sebuah gerakan yang kontroversial. Selain AS, kini hanya Guatemala yang memiliki kedutaan besar di sana. Kemunculan kedutaan besar Kosovo di Yerusalem jika sesuai rencana akan menjadikannya negara ketiga yang mambangun kedutaan besar di kota itu. Hal tersebut akan membuat Kosovo sebagai negara mayoritas muslim pertama dengan gedung kedutaan yang terletak di Yerusalem.

Pembangunan kedutaan besar di Yerusalem menandakan besarnya pengakuan yang diberikan Kosovo kepada Israel. Hal ini menjadi penting karena beberapa negara yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel sekalipun hanya membangun kedutaan di Tel Aviv dan bukan Yerusalem. Gerakan ini tentunya disambut dengan baik oleh Israel, terutama oleh Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi yang menandatangani surat persetujuan pembangunan sendiri via Zoom. Gerakan normalisasi ini tentunya akan meninggalkan kepahitan tersendiri bagi negara berorientasi muslim lainnya.

Tindakan tersebut dapat dimengerti karena Kosovo sendiri merupakan negara yang masih berjuang mendapatkan pengakuan internasional. Kosovo yang merdeka pada tahun 2008 silam baru mendapat 51% pengakuan dari negara-negara anggota PBB, bahkan Indonesia sendiri masih belum mengakui kemerdekaan Kosovo. Oleh karena itu, Kosovo melihat adanya urgensi untuk mencari pengakuan dari banyak negara lain—tidak terkecuali Israel. Krisis pengakuan yang sama juga terjadi di Israel dan kepentingan kedua negara pada akhirnya membuat perasaan senasib dalam dinamika hubungan internasional. Kedua negara telah setuju untuk mengakui satu sama lain sejak 4 September 2020 dan rencana pembangunan ini adalah bentuk legitimasi hubungan tersebut.

Respon dunia terhadap manuver Kosovo ini belum banyak terlihat, tetapi Israel sendiri telah menunjukkan kesan positif terhadap “teman” mereka yang baru. Manuver Kosovo yang cukup kontroversial ini dianggap beberapa pihak sebagai katalis bagi pembangunan kedutaan besar lainnya di Yerusalem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *