Perpisahan Merkel dan Ketidakpastian Politik Luar Negeri Jerman

Ilustrasi Kanselir Jerman Angela Merkel. Foto: Michael Sohn/AP

Setelah 16 tahun menjadi pemimpin Republik Federasi Jerman, Angela Merkel akan segera mengakhiri masa jabatannya sebagai kanselir negara itu pada September 2021.

Akhir karier Merkel sebagai kanselir pun diisi dengan sejumlah kunjungan perpisahan ke berbagai negara di dunia, dari mitra Jerman di kancah global hingga “musuh” Eropa seperti Rusia.

Di balik itu, pensiunnya “Kanselir Abadi” itu juga menandai berakhirnya era terpenting dalam sejarah Jerman kontemporer, yaitu era ketika Jerman dapat melewati berbagai bentuk krisis dari ekonomi hingga pengungsi, menahan peningkatan sentimen ultranasionalisme, dan menjadi pemimpin de facto Uni Eropa.

Namun, pergantian era Jerman tersebut juga menimbulkan tanda tanya: bagaimana nasib Jerman pada masa mendatang tanpa adanya pemimpin seperti Merkel?

Perpisahan pada Kawan dan Lawan

Rangkaian kunjungan perpisahan Merkel dimulai pada 2 Juli lalu ketika ia melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris. Dikutip dari DW, Merkel bertemu Ratu Elizabeth II dan Perdana Menteri Boris Johnson.

Merkel dan Johnson saat itu mendiskusikan berbagai hal, mulai dari pertandingan final Euro 2020, isu COVID-19, Irlandia Utara, hingga formasi hubungan bilateral Inggris-Jerman pasca negara tersebut keluar dari Uni Eropa saat Brexit.

“Kami akan senang jika dapat bekerja sama (dengan Inggris) dalam bentuk perjanjian persahabatan atau kerja sama yang merefleksikan kepentingan dari hubungan ini,” ujar Merkel.

Hubungan Inggris-Jerman sendiri sempat menegang akibat Brexit sehingga pertemuan Merkel-Johnson pun dianggap menjadi awal dari hubungan bilateral yang baru.

Setelah mengunjungi Inggris, Merkel melakukan kunjungan perpisahan ke AS pada 14 Juli. Di Negeri Paman Sam, ia bertemu dengan Presiden Joe Biden  dan membahas berbagai topik seperti COVID-19 dan perubahan iklim.

Namun, terdapat isu yang cukup memanaskan diskusi di antara Biden dengan Merkel yaitu isu Pipa Gas Nord Stream 2 yang mengalirkan gas Rusia ke Eropa. AS menentang hal tersebut karena pipa gas tersebut dapat menyebabkan ketergantungan Eropa kepada Rusia, negara yang menjadi salah satu lawan utama AS di panggung internasional. Namun, Jerman yang menjadi mitra dagang utama Rusia tetap bersikukuh melanjutkan pembangunannya. 

Kunjungan perpisahan yang paling menarik perhatian publik adalah ketika Merkel mengunjungi Rusia pada 20 Agustus lalu. Pasalnya, hubungan Rusia dengan Eropa masih terus berlangsung panas, terutama sejak penahanan aktivis Alexei Navalny pada awal tahun ini.

Dalam kunjungan tersebut, Merkel menyebut bahwa pembicaraan dengan Rusia harus tetap dilanjutkan meskipun terdapat “perbedaan yang mendalam” di antara kedua belah pihak. Merkel juga meminta pembebasan Navalny, meskipun permintaan tersebut langsung ditolak oleh Presiden Vladimir Putin.

Merkel pun mengakhiri rangkaian kunjungan perpisahannya di Ukraina dengan bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelensky. Keduanya membahas upaya melawan separatis pro-Rusia di Ukraina Timur, tetapi berbeda pendapat dalam masalah pipa gas Rusia.

Sebenarnya, Merkel juga bermaksud melakukan kunjungan perpisahan ke Israel. Namun, kejatuhan Kabul ke tangan Taliban menyebabkan ia harus menunda kunjungan ke negara tersebut hingga waktu yang belum ditentukan.

Masa Depan Penuh Tanda Tanya

Berbagai kunjungan yang dilakukan Merkel pada akhir masa kanselirnya memang menciptakan harapan akan peran Jerman yang terus dominan di dalam kancah politik internasional. Namun, mundurnya kanselir berusia 67 tahun itu memunculkan masalah bagi posisi Jerman di antara negara-negara dunia.

Selama masa kepemimpinannya, Merkel dikenal sebagai pemimpin bertangan dingin yang mampu mengendalikan situasi sulit yang dihadapi Jerman menjadi suatu kesempatan yang menguntungkan negara itu. Sebagai contoh, pada masa krisis pengungsi tahun 2015, Merkel bersikukuh untuk tetap menerima masuknya pengungsi dari Suriah ketika negara-negara Uni Eropa lain menolak kehadiran pengungsi di negara mereka.

Meskipun menyebabkan dirinya hampir kehilangan posisi kanselir, kebijakan tersebut berhasil menciptakan tenaga kerja terdidik baru di Jerman sehingga membantu pertumbuhan ekonomi nasional dan penanganan pandemi COVID-19.

Merkel pun juga dikenal berhasil menyeimbangkan posisi Uni Eropa di antara dinamika adidaya di kawasan Eropa, yaitu antara AS dengan Rusia, dengan mencegah Eropa cenderung bergantung kepada salah satu pihak.

Tidak hanya di Eropa, Merkel juga melakukan ekspansi hubungan luar negeri Jerman dengan negara-negara non-Eropa, seperti dengan mencanangkan investasi bisnis Jerman di negara-negara Afrika.

Dengan demikian, mundurnya sang Kanselir Abadi yang dikenal sebagai negarawan ulung pun mengundang tanda tanya besar bagi perjalanan politik luar negeri Jerman ke depannya. Dengan banyaknya tantangan kedepan, mulai dari menjaga persatuan Eropa, menghadapi Rusia, hingga menyesuaikan diri dengan kebangkitan Tiongkok, tugas kanselir setelah Merkel tidak akan mudah.

Hal ini ditambah lagi dengan rekam jejak kebijakan luar negeri Merkel yang mengesankan selama masa jabatannya. Selama ini, kredibilitas Merkel adalah kredibilitas Jerman, yang dipandang tinggi oleh semua negara di dunia. 

Perpisahan Merkel tentunya akan menghadirkan kebijakan luar negeri era baru yang dapat mengubah peran dan posisi Jerman di dunia. Namun, dunia masih dihantui ketidakpastian, sebab hasilnya baru dapat diketahui pasca terpilihnya kanselir baru pada September nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *