Pertemuan Biden-Putin: Senyuman, Ancaman, dan Harapan

Ilustrasi pertemuan Biden dan Putin pada Rabu (16/6). Foto: VCG

Setelah ditunggu-tunggu selama lima bulan, Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya bertemu secara tatap muka di Jenewa, Swiss pada Rabu (16/06) kemarin.

Berbeda dari kekhawatiran banyak pihak akan potensi ketegangan di antara keduanya, pertemuan tersebut berlangsung dengan hangat dan ramah.

Dikutip dari BBC, Putin memuji Biden sebagai “negarawan yang berpengalaman” dan menyebut bahwa keduanya “berbicara bahasa yang sama.”

Menyambut pujian Putin, Biden mengatakan bahwa dirinya paham upaya Rusia yang tidak ingin ada “Perang Dingin kedua”. Menanggapi pertemuan yang berlangsung selama tiga jam ini, Biden juga menyebut bahwa mereka tidak menghabiskan banyak waktu bicara dan sudah menemukan prospek baik untuk perbaikan hubungan dengan Rusia.

Presiden AS ke-46 tersebut pun juga memberikan Putin sejumlah hadiah berupa kacamata penerbang dan figur bison yang terbuat dari kristal.

Meskipun demikian, masih belum ada titik temu yang pasti di antara keduanya, terutama mengenai isu yang memicu keretakan hubungan di antara kedua belah pihak.

Ketika membahas isu serangan siber, Putin membantah bahwa negaranya bertanggung jawab atas serangan siber yang melanda sejumlah perusahaan penting di AS. Biden menyebut jika Rusia melakukan serangan siber, AS akan segera membalas dengan serangan siber.

Dalam isu HAM, kedua presiden juga berbeda pendapat. Biden mengkritik penahanan Navalny, sementara Putin menyindir serangan Capitol dan aksi anarkis Black Lives Matter yang terjadi di AS.

Kedua belah pihak juga belum menemukan titik temu dalam isu Ukraina yang sudah mengganggu hubungan di antara AS dan Rusia sejak 2014.

Namun, Biden dan Putin sepakat untuk kembali membuka dialog pengendalian senjata nuklir. Keduanya juga setuju untuk mengembalikan duta besar masing-masing negara ke posnya di Washington D.C. dan Moskow setelah keduanya menarik duta besar akibat tuduhan intervensi Pemilu AS 2020 oleh Rusia.

Melihat hasil pertemuan tersebut, AS dan Rusia tampaknya masih jauh dari perbaikan hubungan yang mutlak. Meskipun demikian, pertemuan di antara kedua pemimpin great powers yang ramah dan hangat tersebut diharapkan dapat menurunkan tensi di antara keduanya secara perlahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *