Peru, Chile, dan Bolivia: Far-Left dan Moderasi dalam Dekade Baru Pink Tide

Ilustrasi pemimpin baru di Amerika Latin. Foto: olahan penulis dari berbagai sumber

Setelah mengalami dekade yang buruk, partai-partai beraliran kiri di Amerika Latin mulai kembali mendapat momentum di awal tahun 2020. Setelah kemenangan di Meksiko pada 2018 dan Argentina pada 2019, partai kiri berturut-turut merebut kembali pemerintahan di Bolivia, Peru, dan Chile. Chile secara khusus mengalami sebuah perubahan besar secara konstitusional, setelah sekian lama tidak memiliki pemerintahan beraliran kiri.

Fenomena resurgence atau kebangkitan partai-partai kiri ini, yang sering kali menjadi fenomena regional Amerika Latin, diistilahkan sebagai Pink Tide. Sebaliknya, arus pemerintahan yang lebih beraliran kanan atau konservatif disebut sebagai Blue Tide. Fenomena pink tide yang kali ini terjadi disebut-sebut disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan kemiskinan yang meningkat. Namun, fokus artikel ini bukanlah untuk membahas sebab kebangkitan partai-partai beraliran kiri, melainkan untuk menilai dinamika pemerintahan kiri setelah terpilih.

Pink tide kali ini menjadi lebih menarik lagi untuk dianalisis, sebab setidaknya di tiga negara terbaru (Bolivia, Peru, dan Chile), telah terpilih presiden-presiden yang beraliran farleft ketimbang center-left. Bolivia telah memilih Luis Arce, Peru memilih Pedro Castillo, dan Chile memilih Gabriel Boric. Meski sama-sama didaulat sebagai kandidat far-left, tetapi masing-masing tampak mengambil jalan yang berbeda dalam memerintah, terutama dalam aspek moderasi.

Luis Arce dan Tantangan Ekonomi Sosialis Bolivia

Bolivia adalah negara yang hampir sepenuhnya beraliran kiri selama abad ke-21 ini, kalah hanya dari Kuba dan Venezuela. Bolivia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu tempat “eksperimen sosialisme” bisa benar-benar berjalan. Semua ini merujuk kepada pemerintahan Evo Morales yang berkuasa selama hampir 14 tahun, hingga pengunduran dirinya pada November 2019 sebagai buntut dari kecurangan Pemilu dan ambisinya untuk menjabat untuk periode keempat yang inkonstitusional.

Semenjak itu pemerintahan sementara dipimpin oleh Jeanine Áñez, seorang senator koservatif, hingga Pemilu berikutnya diadakan pada 2020. Sebelumnya, partai Morales Movement for Socialism (Movimento al Socialismo/MAS) sempat dinilai kekurangan dukungan akibat perginya Morales, tetapi ternyata dapat memenangkan Luis Arce pada Pemilu 2020 dengan 55% suara.

Terpilihnya Arce, yang dahulu menjadi Menteri Ekonomi Bolivia, kemudian memunculkan pertanyaan terkait kontinuitas sosialisme di Bolivia, dan juga bayang-bayang pengaruh Evo Morales.

Luis Arce, by and far, is his own politician. Arce memiliki gaya berpolitiknya sendiri yang berbeda, yang relatif lebih low-key, tanpa terlalu banyak pidato yang konfrontatif dan ikut campur dalam urusan daerah. Arce juga berusaha menjaga jarak dengan Morales dengan tidak memberikannya peran apapun selain pimpinan MAS. Arce juga memiliki latar belakang yang berbeda dengan Morales, yakni sebagai satu dari sedikit teknokrat dalam MAS (Reuters, 2020b).

Meskipun begitu, secara politik Arce masih sangat segaris dengan Morales, bahkan menyebut dirinya terinspirasi oleh Marx sejak berumur 14 tahun hingga kini. Bagaimanapun juga, Arce adalah menteri ekonomi andalan Morales yang kemudian dianggap menjadi mastermind dari keajaiban pertumbuhan ekonomi Bolivia yang relatif tinggi dibandingkan negara lain di Amerika Latin dengan rata-rata sekitar 4.6% (Reuters, 2020a).

Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh commodity boom yang diikuti oleh peningkatan terutama migas dan barang tambang Bolivia. Ekspor ini sendiri difasilitasi oleh nasionalisasi dari berbagai perusahaan asing yang beroperasi di Bolivia, mulai dari Petrobras hingga Total, yang tentu saja mengundang amarah dari pebisnis dan negara terkait. Meskipun beberapa meragukan “seberapa sosialis” program ekonomi tersebut, tetapi program rancangan Arce tersebut terbukti populer dan mampu menopang pemerintahan Morales (Bjork-James, 2020a).

Kini, seiring dengan naiknya Arce menjadi presiden, MAS juga berhasil mengamankan mayoritas besar di parlemen bikameral Bolivia. Mayoritas ini akan menjadi sentral untuk memuluskan agenda ekonomi apapun yang diinginkan Arce. Hal ini juga terlihat dari susunan kabinet Arce yang semuanya diisi oleh anggota MAS. Secara politik, tidak ada insentif bagi Arce untuk melakukan moderasi.

Namun, hal yang akan menjadi lebih menantang bagi pemerintahan Arce adalah permasalahan ekonomi itu sendiri. Bahkan, di periode terakhir pemerintahan Morales, model ekonomi Arce yang membuahkan “keajaiban” tersebut sudah tidak lagi dapat dilakukan karena berakhirnya commodity boom pada 2014. Terlebih lagi, Bolivia kini terjembab dalam resesi yang sangat dalam hingga -8.8% karena pandemi (Word Bank, n.d.).

Model ekonomi Arce telah membekali Bolivia dengan beberapa modal penting dalam menghadapi krisis ini, yakni cadangan valas dan bond rating yang baik. Sebelumnya, Arce juga selalu menjaga defisit sangat kecil, sehingga menghasilkan suatu model fiscally responsible left-populism (Bjork-James, 2020a).

Arce sadar bahwa dengan batasan terhadap model ekonominya, opsi yang tersedia sekarang adalah mencari modal dari luar, baik dalam bentuk investasi atau pinjaman (Bjork-James, 2020b). Kebijakan ini, yang sebelumnya juga telah dilakukan secara terbatas di masa Morales, berkebalikan dengan posisi ekstrim yang sebelumnya anti-kapitalisme, anti-neoliberalisme, bahkan pro-nasionalisasi, menjadi jalan moderasi yang harus diambil oleh Arce. Sebagai seorang beraliran kiri, Arce masih harus menjaga janjinya untuk tidak akan memotong pengeluaran, meski dengan cara-cara yang tidak sosialis, atau harus merelakan defisit yang besar dan cadangan valas yang menipis.

Pedro Castillo dan Moderasi Sang Marxis

Peru baru saja pulih dari Pemilu yang sangat sengit antara kekuatan sayap kanan dan kiri di perpolitikan Peru. Pemilu tersebut memilih Pedro Castillo, seorang mantan guru yang selalu menggunakan topi jerami, sebagai presiden Peru. Sebagai calon dari sayap kiri kekuatan politik Peru, Castillo menang sangat tipis dari Keiko Fujimori, calon far-right dan anak dari diktator Alberto Fujimori, hanya dengan 50.13% suara.

Kemenangan Castillo ini difasilitasi oleh populisme kiri yang dipromosikan olehnya. Dengan ketimpangan ekonomi hingga abandonment terhadap penduduk di wilayah rural oleh pemerintah pusat di masa pandemi, Castillo berhasil membangun basis dukungan yang kuat di daerah rural (Reuters, 2021). Ia menjanjikan berbagai program kesejahteraan serta menjanjikan peningkatan drastis terutama di bidang kesehatan hingga 10% dari PDB Peru.

Naiknya Castillo ke panggung perpolitikan nasional dimungkinkan oleh persatuan gerakan kiri dalam mendukungnya, terlebih lagi setelah dia meraih 18% suara di putaran pertama Pemilu. Castillo sendiri secara resmi merupakan calon presiden dari partai Free Peru(Peru Libre) yang beraliran marxis. Meski begitu, Castillo justru mengklarifikasi bahwa dia “bukan seorang Marxis, bukan seorang Chavista, dan bukan ekstrimis,” (Reuters, 2021).

Bagi Castillo yang tidak pernah memegang jabatan publik sebelumnya, menjadi Presiden Peru adalah sebuah tantangan besar, terlebih lagi karena dia tidak menguasai Kongres unikameral Peru. Free Peru, sekalipun menjadi partai terbesar dengan 37 kursi, gagal membangun blok yang cukup besar untuk memiliki mayoritas dengan total aliansi pemerintahan hanya memiliki 44 dari 130 kursi. Terlebih lagi, setidaknya setengah dari legislator Free Peru sangat loyal kepada Vladimir Cerron, sang pendiri partai yang dilarang maju karena tuduhan korupsi, yang merupakan seorang marxis garis keras dan terhadapnya Castillo mencoba menjaga jarak.

Pemerintahan Castillo juga gagal menarik partai-partai sentris seperti Popular Action dan Purple Party-Citizen Force yang secara total memiliki 19 kursi, sehingga mereka kini mereka berada diluar pemerintahan. Oposisi kini mendominasi satu-satunya parlemen di Peru dengan 86 kursi.

Realita politik ini kemudian memaksa Presiden Castillo untuk melakukan moderasi, yang terutama paling terlihat dari susunan kabinetnya. Kabinet pertamanya dipimpin oleh Guido Bellido dari Free Peru, dengan mayoritas posisi kabinet juga diisi oleh orang-orang Free Peru. Meski begitu, juga terdapat sosok moderat seperti Pedro Francke yang menjadi Menteri Ekonomi. Francke memegang peran sentral dalam membangun rencana ekonomi moderat-kiri (seperti meningkatkan pengeluaran tanpa nasionalisasi) dan menjaga hubungan dengan World Bank dan IMF (The Economist, 2021a).

Formasi ini dikecam banyak orang karena pasti tidak akan disetujui oleh Kongres, dan dinilai akan memicu krisis politik seperti yang sebelumnya terjadi pada 2019, ketika terjadi pembubaran Kongres sebagai buntut dari tidak disetujuinya kabinet. Tak ayal, pada 6 Oktober 2021 Presiden Castillo mengumumkan pengunduran diri Kabinet Bellido.

Selanjutnya, Castillo membentuk kabinet baru dipimpin oleh Mirtha Vásquez, eks-anggota Broad Front, dan mengisinya dengan mayoritas independen. Kabinet ini berhasil mendapatkan persetujuan lebih mudah dari Kongres. Sialnya bagi Castillo, Ia justru dikecam oleh partainya sendiri, yang menganggap susunan Kabinet Vásquez sebagai “pengkhianatan terhadap mayoritas.” Kabinet Vásquez pun kemudian dirundung kontroversi yang lebih banyak dari Kabinet Bellido, bahkan terjadi upaya pemakzulan yang hampir saja berhasil di Kongres. Kabinet Vásquez kemudian ternyata juga tidak berumur panjang dengan pembubarannya pada 31 Januari 2022. Kini, kabarnya sedang digodok kabinet baru yang dipimpin Héctor Valer.

Dengan posisi Castillo yang cukup konservatif di isu sosial, ekonomi menjadi agena utama yang diperjuangkannya, dan yang membuatnya menjadi orang “kiri”. Castillo jelas melakukan moderasi, tetapi bahkan moderasi itu sendiri ternyata tidak mudah, terlebih lagi dengan mandat yang terbilang lemah. Tantangan tentunya masih akan terus berdatangan dan menguji pemerintahan Castillo yang belia.

Gabriel Boric dan Lembaran Baru Chile

Menyusul demonstrasi berkepanjangan sejak Oktober 2019 hingga Oktober 2020, Chile mengalami perubahan lanskap politik secara besar-besaran. Berawal dari kenaikan tarif transportasi publik, demonstrasi dengan korban jiwa hingga 36 orang tersebut berujung pada referendum, yang memutuskan akan mengadakan amandemen konstitusi, yang setelahnya diikuti oleh Pemilu rutin.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa konstitusi Chile selama ini dibuat pada 1980 oleh Kediktatoran Militer Pinochet. Meski juga dibuat dengan referendum, tetapi terdapat represi yang meluas dan tersistematis dari rezim Pinochet. Akhirnya, terbentuklah konstitusi yang dinilai sangat neoliberal, pro-bisnis, dan menguntungkan kekuatan politik sayap kanan. Inilah salah satu faktor yang turut membentuk Chile selama hampir 40 tahun ini, yakni pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Amerika Latin dengan rata-rata sekitar 8% pada 1991-1997, tetapi di waktu yang sama juga memiliki rasio gini hingga 0.56 pada 1995, menjadi salah satu yang paling timpang di benua itu.

Maka, tidak mengherankan ketika kenaikan harga transportasi publik memicu ledakan ketidakpuasan yang dipendam rakyat Chile selama puluhan tahun lamanya. Rakyat Chile melalui perwakilannya—yang menggeser partai-partai politik tradisional, terutama partai-partai konservatif, dengan banyaknya calon independen yang terpilih menjadi anggota Konvensi Konstitusional—kemudian menyusun konstitusi baru yang lebih berfokus kepada kesejahteraan, hak-hak orang pribumi, hingga perubahan iklim. Cocok dengan agenda-agenda yang lebih “kiri”.

Pemilu yang berlangsung setelahnya kemudian menjadi kesempatan besar bagi kekuatan politik kiri, yang itupun beragam di Chile, untuk merebut kepresidenan dari dominasi politik sayap kanan. Dalam dua putaran Pemilu yang berlangsung hingga Desember 2021, rakyat Chile akhirnya memilih Gabriel Boric dari far-left dengan 55.87% suara, mengalahkan Jose A. Kast dari far-right. Calon-calon yang dinilai lebih moderat atau center-leaning semuanya gugur di putaran pertama.

Beberapa pihak memperdebatkan “seberapa kiri kah” Boric, sebab Boric pernah menyebutkan bahwa Ia terinspirasi oleh Marx, tetapi bukan seorang komunis, dan pernah berkompromi dengan kekuatan politik kanan. Namun, dalam kampanyenya Boric menggaungkan nilai-nilai dan kebijakan-kebijakan yang sangat kiri, baik di isu ekonomi maupun sosial. Diantara janji-janjinya adalah mengakhiri privatisasi sistem pensions dan social safety net secara umum, melarang pembukaan tambang baru, dan menlindungi hak-hak minoritas seperti orang pribumi dan LGBT. Bahkan, salah satu janji paling terkenalnya adalah bahwa dia akan “mengubur neoliberalisme di Chile,” sebuah janji yang sangat besar, dan sangat kiri (Saavedra, 2021).

Boric sendiri memang tumbuh di lingkungan politik yang lebih progresif. Dia terkenal karena pernah menjabat sebagai semacam Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Chile pada 2011. Pada 2011 itu juga, sedang terjadi demonstrasi mahasiswa, dan dia menjadi salah satu juru bicara terkemuka dari kalangan mahasiswa.

Usai menjadi mahasiwa, Boric melanjutkan aktivisme politiknya di level nasional. Bersama beberapa teman aktivis mahasiswanya, seperti Camilla Vallejo, Giorgio Jakson, dan Karol Cariola, Boric bersiang di Pemilu legislatif Chile 2013 dan menang. Saat disumpah menjadi anggota Chamber of Deputies (lower house) Chile pada 11 Maret 2014, Boric mengukir sejarah sebagai salah satu anggota dewan termuda dan terpilih secara independen, tidak melalui partai.

Menuju Pemilu 2017, Boric dan kawan-kawannya mengorganisasikan gerakan politik baru, yakni koalisi Broad Front yang menyatukan lima partai kiri non-traisional, yang ternyata berhasil menjadi blok terbesar ketiga dalam Pemilu 2017. Boric sendiri masih maju sebagai calon independen, tetapi dengan dukungan Partai Humanis, dan terpilih kembali sebagai anggota dewan. Setelah terpilih, barulah Boric berlabuh di Social Convergence (Convergencia Social) sebagai partainya, dan turut membentuk koalisi Apruebo Dignidad (AD) yang kelak mengantarkannya menjadi Presiden Chile.

Sekarang, Boric masih berstatus sebagai presiden terpilih, dan baru akan resmi menjabat pada 11 Maret nanti. Namun bahkan sebelum resmi menjabat, terdapat beberapa dinamika politik yang cukup mengisyaratkan arah pemerintahan Boric kedepannya.

Sebelumnya, kekuatan politik kiri secara keseluruhan memang mengalami peningkatan drastis di parlemen bikameral Chile, tetapi kenaikan tersebut tidak mencapai tingkat mayoritas mutlak. Di Chamber of Deputies, partai-partai kiri secara total (koalisi AD, DA, NPS, dan Green Ecologist Party) meraih 79 dari 155 kursi, sebuah mayoritas yang tipis. Sementara itu, di Senat mereka hanya mendapat 23 dari 50 kursi. Sekalipun begitu, hal tersebut belum menjamin semua partai kiri tersebut selalu satu suara di semua isu.

Dengan realita politik tersebut, salah satu manuver politik yang baru saja dilakukan Boric adalah pengumuman susunan kabinetnya, yang nanti akan memerlukan konfirmasi oleh Senat. Pos-pos di Kabinet Boric paling banyak diisi oleh mereka dengan latar belakang independen, bahkan lebih banyak dari partainya sendiri yang hanya mengisi empat pos (termasuk Boric). Kabinet Boric juga mengukir sejarah dengan mayoritas anggota perempuan, yakni 14 dari 24 anggota kabinet (Bloomberg, 2022).

Satu nama yang banyak diperbincangkan, dan menjadi tanda moderasi Boric, adalah pemilihan Mario Marcel sebagai menteri keuangan. Marcel adalah seorang ahli ekonomi dengan pengalaman yang sangat luas di level nasional dan internasinal. Sebelumnya, Marcel telah memegang posisi strategis empat pemerintahan sebelumnya, yakni di masa Presiden Patricio Aylwin, Eduardo Frei, Ricardo Lagos, dan Michelle Bachelet. Marcel juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Chile. Selain itu, di level internasional Marcel pernah berperan di Inter-American Development Bank (IDB), OECD, dan World Bank, serta memiliki kedekatan dengan IMF hingga Menteri Keuangan AS Janet Yellen.

Marcel merupakan pilihan cerdas Boric. Menyusul pengumuman kabinetnya, terdapat respon yang positif dari pasar dan para pelaku bisnis, Peso Chile bahkan menguat, setelah pelemahan konstan sejak akhir 2019. Marcel juga menjamin akses ke Washington dan institusi keuangan internasional, seandainya bantuan dibutuhkan, sebab krisis ekonomi masih belum berakhir (Saavedra, 2022). Pemilihan Marcel juga menjadi jaminan bahwa Chile akan menjadi pemerintahan kiri yang fiscally responsible (Bloomberg, 2022).

Senada, Boric juga menegaskan bahwa pemerintahannya akan membangun “jembatan” dengan oposisi sayap kanan dan aktif berdiskusi dengan para pelaku bisnis. Boric juga mulai mengambil talking points yang cenderung kanan dan tidak banyak Ia singgung sebelumnya, seperti di aspek keamanan dan imigrasi. Dengan begitu, tampaknya Boric tidak akan benar-benar “mengubur neoliberalisme.” Namun begitu, pemerintahan Boric tetap menunjukkan komitmennya untuk kesejahteraan, dan mungkin dapat lebih progresif lagi di isu-isu sosial yang juga sangat diperjuangkannya.

Pink Tide, Amerika Latin, dan Keharusan Moderasi

Dari komparasi ketiga negara yang baru saja mengalami Pink Tide tersebut, ditemukan bahwa semuanya melakukan moderasi begitu terpilih dan memerintah. Meskipun cap far-left terhadap masing-masing presiden tersebut diperdebatkan, tetapi identifikasi yang luas dan janji-janjinya, setidaknya selama kampanye, cukup merefleksikan hal tersebut. Namun, realita politik dan/atau ekonomi mengharuskan mereka untuk melakukan moderasi, terutama di aspek ekonomi, ketika menjabat.

Lebih jauh lagi, perlu dipahami juga konteks Amerika Latin, yang kurang banyak dibahas sebelumnya karena fokus ke masing-masing negara. Amerika Latin sejak dulu merupakan kawasan yang terbilang cukup dependen terhadap modal asing, terlihat misanya dari krisis utang 1980an. Per 2020, rata-rata utang negara di Amerika Latin adalah 77%, menjadikannya kawasan yang paling banyak berhutang di dunia (El Pais, 2021). Selain utang, sumber modal lainnya yang juga penting bagi negara-negara Amerika Latin adalah investasi asing. Menyusul pandemi COVID-19, pertumbuhan ekonomi Amerika Latin yang rendah menjadi semakin parah dan mengalami resesi yang dalam.

Oleh karena itu, sebab stabilitas dan pemulihan ekonomi pasti dibutuhkan oleh suatu pemerintahan agar dapat berjalan, terdapat sedikit pilihan selain mengamankan pendanaan internasional. Selain itu, pengambilan posisi ekonomi kiri yang ekstrim, seperti nasionalisasi, apalagi dengan tendensi otoriter, dapat menyebabkan negaranya menjadi international pariah seperti Venezuela. Meskipun begitu, “tidak dikuburnya” neoliberalisme tidak menegasikan peningkatan kesejahteraan dan pengurangan ketimpangan. Hal-hal tersebut masih sangat dapat diwujudkan oleh pemerintahan-pemerintahan kiri tersebut dengan cerdik. Selain itu, isu sosial, sipil, dan politik yang tidak memiliki kaitan internasional sebesar ekonomi, juga lebih dapat diperjuangkan secara optimal.

Referensi:

Bloomberg. 2022. “Chile’s Boric Picks Central Bank Head Marcel as Finance Boss,” diakses melalui https://www.bloomberg.com/news/articles/2022-01-21/chile-s-boric-picks-central-bank-head-marcel-as-finance-chief

Bjork-James, Carwil. 2020a. “Left Populism in the Heart of South America: From Plurinational Promise to a Renewed Extractive Nationalism,” dalam Beyond Populism Angry Politics and the Twilight of Neoliberalism, Jeff Maskovsky dan Sophie Bjork-James (eds.). Morgantown, WV: West Virginia University Press.

Bjork-James, Carwil. 2020b. “President Luis Arce’s economic model (and its limits),” diakses melalui https://woborders.blog/2020/11/08/luis-arce-economic-model/

El Pais. “Latin America, in the Hands of Wall Street” dikses melalui https://english.elpais.com/usa/2021-12-20/latin-america-in-the-hands-of-wall-street.html#:~:text=According%20to%20data%20from%20the,of%20both%20goods%20and%20services.

Reuters. 2020a. “Luis Arce: Bolivia’s new president credited for its socialist growth ‘miracle’,” diakses melaluihttps://www.reuters.com/article/us-bolivia-election-arce-newsmaker-idUSKBN2770GR

Reuters. 2020b. “In Evo’s shadow, Bolivia’s new president Luis Arce promises moderate socialism,” diakses melalui https://www.reuters.com/article/us-bolivia-politics-arce-newsmaker-idUSKBN27M2JM

Reuters. 2021. “Peasant roots to president: the unlikely rise of Peru’s Pedro Castillo,” diakses melalui https://www.reuters.com/world/americas/peasant-roots-president-unlikely-rise-perus-pedro-castillo-2021-07-28/

Saavedra M. “Chilean and international capital praise Boric’s cabinet picks,” diakses melalui https://www.wsws.org/en/articles/2022/02/05/chil-f05.html

The Economist. 2021. “A Gallop into the Unknown,” The Economist. July 31st 2021.

World Bank. n.d. “GDP growth (annual %) – Bolivia,” diakses melalui https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?locations=BO

Ikhlas Tawazun adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia dan Editor-in-Chief Kontekstual. Dapat ditemui di sosial media dengan nama pengguna @tawazunikhlas

Leave a Reply

Your email address will not be published.