“Pharaohs’ Golden Parade”: Antara Sejarah, Identitas, dan Kepentingan Nasional Mesir

Ilustrasi Pharaohs’ Golden Parade. Foto: AFP/Getty Images

Pada tanggal 3 April 2021, pemerintah Mesir melaksanakan sebuah acara yang bertajuk “Pharaohs’ Golden Parade”. Di acara tersebut, 22 jasad raja dan ratu Mesir Kuno yang sudah diawetkan (atau mumi) dipindahkan dari Egyptian Museum ke National Museum of Egyptian Civilization, dua museum besar yang ada di ibukota Mesir. Proses pemindahan ini menghasilkan sejumlah diskursus penting. Misalnya, apakah perpindahan para mumi, yang kini dianggap sebagai peninggalan bersejarah, harus dikawal sebegitu ketat dan disambut dengan sangat meriah oleh masyarakat dunia? Apakah barang dan warisan bersejarah sebenarnya penting? Dan untuk apa negara berusaha sedemikian rupa demi menjaga dan melindungi objek bersejarah? 

Warisan Budaya dan Peninggalan Bersejarah Mesir

Warisan budaya, atau cultural heritage, merupakan suatu objek peninggalan bersejarah yang memiliki nilai-nilai tertentu seperti kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Menurut Konferensi UNESCO di Paris (Oktober 1972), warisan budaya dapat didefinisikan melalui tiga bentuk atau konsep. Pertama, suatu warisan budaya dapat berwujud monumen, seperti prasasti, arsitektur, patung, lukisan, dan elemen-elemen arkeologis. Kedua, warisan budaya dapat berbentuk kompleks bangunan yang memiliki keunikan tertentu, seperti dari segi konsep, kegunaan, dan arsitektur. Ketiga, suatu warisan budaya dapat berwujud sebagai sebuah situs, yakni kombinasi antara lanskap alam dan karya manusia, seperti situs arkeologi. 

Mesir memiliki hampir semua jenis warisan budaya yang diklasifikasikan oleh UNESCO. Di negara tersebut, terdapat monumen Obelisk dan Sphinx, kompleks piramida (termasuk para mumi) dan kuil-kuil kuno yang tersebar di hampir di seluruh wilayah negara, serta situs arkeologi yang juga tidak terbilang jumlahnya. Bercermin kepada kekayaan tersebut, acara “Pharaohs’ Golden Parade” berusaha menampilkan keragaman warisan budaya yang dimiliki Mesir. Parade dan pergelaran ini dapat dilihat sebagai acara yang sangat penting bagi Mesir dari tiga perspektif utama yaitu ekonomi, identitas, dan soft power.

Peninggalan Bersejarah sebagai Modus Ekonomi

Kelompok terror Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan contoh yang paling sesuai dalam menjelaskan kegunaan ekonomi peninggalan bersejarah. Selama masa kejayaannya, ISIS kian mendapatkan sorotan dunia ketika mereka menghancurkan situs dan peninggalan bersejarah. Di atas kertas, tindakan tersebut dilakukan demi membersihkan wilayah Timur Tengah dari sejarah yang tidak mewakilkan nilai dan ajaran agama Islam (Flood, 2016). Namun, ISIS sebenarnya melakukan penghancuran situs bersejarah demi mendapatkan dana untuk membiayai semua operasi terornya.

Kelompok ISIS mengetahui bahwa proses transaksi barang bersejarah merupakan salah satu model pasar yang kini mampu menghasilkan penjualan mahal dengan cepat. Setiap kali mereka selesai menghancurkan sebuah situs, ISIS akan menjual barang-barang bersejarah yang mereka temukan di pasar gelap. Transaksi inilah yang terus memberikan dana bagi operasi teror ISIS. Menurut laporan dari UNESCO (2015), ISIS mendapatkan US$ 7 miliar hanya dari penjualan barang bersejarah secara langsung di pasar gelap pada tahun 2015. Mereka juga mendapatkan sekitar US$ 4 miliar dari pendapatan pajak terhadap semua penjualan barang jarahan mereka di Irak dan Suriah yang menggunakan jasa pihak ketiga setiap tahunnya (UNESCO, 2017). Pada dasarnya, operasi pendanaan ISIS menunjukkan bahwa setiap barang bersejarah memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi—sesuatu yang patut diperhatikan dan dipergunakan dengan baik oleh negara asalnya.

Salah satu cara agar negara bisa mempergunakan fungsi ekonomis warisan budaya dengan baik adalah dengan memamerkannya dalam sebuah museum dan pameran. Hal inilah yang dilakukan oleh Mesir dalam “Pharaohs’ Golden Parade”, yakni memindahkan objek bersejarah terpenting Mesir ke sebuah museum yang lebih besar dan megah. Sayangnya, pembangunan tempat yang megah merupakan agenda yang sulit bagi Mesir. Menurut Presiden Abdel Fattah el-Sisi, karena jumlah turis yang mengunjungi Mesir kian menurun akibat meningkatnya ancaman terorisme, Kementerian Barang Antik Mesir tidak memiliki dana lagi untuk mengelola institusi kebudayaan Mesir secara efektif (McGivern, 2017). Alhasil, jika pembangunan sebuah museum ingin diperjuangkan, pemerintah Mesir harus yakin bahwa tempat tersebut akan menjadi pemikat turis asing. 

Hal inilah yang mendorong Mesir untuk melakukan “Pharaohs’ Golden Parade”. Tontonan yang disiarkan secara global tersebut dipergunakan untuk menarik perhatian dan mengajak masyarakat dunia untuk melihat para mumi di museum baru Mesir. Dengan menempatkan peninggalan paling bernilai Mesir di National Museum of Egyptian Civilization, Presiden el-Sisi berharap Mesir mampu meraup keuntungan ekonomi yang bisa digunakan untuk membantu proses pengelolaan kebudayaan Mesir, serta kesejahteraan masyarakat Mesir yang kini terancam oleh pandemi COVID-19 (Essam dan Marie, 2021). 

Peninggalan Bersejarah sebagai Sumber Identitas Bangsa

Sama halnya dengan puisi, lagu, dan cerita rakyat, warisan budaya bersejarah yang berbentuk objek dan lokasi juga mampu dijadikan simbol dari sebuah identitas spesifik. Peninggalan bersejarah merupakan sesuatu yang bernilai bagi sekelompok masyarakat di masa lampau. Jika kelompok tersebut mengakui bahwa objek atau wilayah bersejarah tersebut sebagai sesuatu yang penting bagi ritual dan kehidupan sehari-hari mereka, maka objek tersebut bisa menjadi sumber dan simbol identitas mereka (Anderson, 1991). 

Bagi masyarakat modern, sumber identitas tersebut bisa menjadi sumber kesatuan negara. Mengutip pidato Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, dari tahun 2018, dikatakan bahwa penyerangan ISIS terhadap situs-situs bersejarah dunia merupakan bentuk dari iconoclasm yang menyerang masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah negara. Azoulay berani menyatakan bahwa masa depan sebuah negara korban iconoclasm mampu terancam karena, dengan hilangnya sebuah peninggalan bersejarah dan identitas bersama, maka rasa nasionalisme negara tersebut akan goyah. Pada dasarnya, jika bangsa tidak memiliki kesamaan sejarah atau shared history, maka kemungkinan terjadinya perpecahan di dalam bangsa tersebut akan meningkat (Cunliffe & Currini, 2018). 

Di kala pandemi COVID-19 dan masalah domestik, bangsa Mesir membutuhkan sebuah pengingat akan identitas mereka yang hebat. Dengan adanya parade ini, Presiden el-Sisi berusaha untuk membangkitkan semangat rakyatnya. Hal tersebut dilakukan agar mereka tetap percaya akan pemerintahan el-Sisi dan tidak menghasilkan kericuhan. Selain itu, parade ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa pemerintah Mesir di masa lalu dianggap sebagai keturunan langsung dari para dewa. Presiden el-Sisi ingin menanamkan gambaran yang sama agar otoritas moralnya tetap dianggap valid oleh Mesir (Apollo, 2021).

Peninggalan Bersejarah sebagai Soft Power  

Soft power merupakan konsep ilmu Hubungan Internasional yang menjelaskan bagaimana suatu negara berusaha untuk mengubah preferensi maupun pandangan negara lain terhadapnya melalui cara-cara di luar kekerasan ataupun pemaksaan (Nye, 2012). Secara umum, Nye melihat tiga sumber utama dari soft power, yaitu kebudayaan, nilai politik, dan kebijakan luar negeri. Dalam hal ini, perhelatan parade adalah upaya pemerintah Mesir dalam mempengaruhi negara-negara lain menggunakan soft power-nya yang berbasis peninggalan bersejarah dan warisan dunia. Ajang “Pharaohs’ Golden Parade” dapat dikategorikan sebagai salah satu kebudayaan nasional yang dimiliki oleh Mesir dan peradaban masa lampaunya. Namun, peninggalan bersejarah yang dipamerkan parade tersebut juga dapat diinterpretasi sebagai salah satu ikon peradaban terpenting di mata masyarakat dunia. Hal ini dapat dilihat melalui banyaknya penggambaran karakter seperti mumi ataupun Firaun dalam berbagai media maupun cerita fiksi yang populer di negara-negara barat. 

Soft power melalui kebudayaan atau peradaban kuno ini kemudian menjadi penting bagi Mesir apabila berbicara mengenai kepentingan nasional Kairo. Soft power menjadi salah satu tonggak yang dapat menopang kepentingan ekonomi maupun identitas yang ingin dicapai Mesir. Acara yang diadakan secara besar-besaran dan meriah ini turut mempromosikan pariwisata Mesir, terutama yang berkaitan dengan situs-situs sejarahnya. Pemindahan mumi raja-raja Mesir ke National Museum of Egyptian Civilization juga secara tidak langsung menampilkan museum tersebut sebagai destinasi pariwisata baru yang sangat megah. Begitu pula dengan video-video dan pertunjukan yang ditampilkan selama penyiaran acara pemindahan tersebut—yakni penuh dengan nuansa peradaban Mesir Kuno yang megah dan mistis. Dalam hal ini, tim penulis melihat bahwa “Pharaohs’ Golden Parade” merupakan bentuk dari soft power Mesir dalam mencapai kepentingan ekonomi maupun identitas politiknya yang berorientasi pada peradaban masa lampaunya. 

Acara “Pharaohs’ Golden Parade” turut menjadi signifikan bagi Mesir ketika kondisi geopolitik dan kontestasi, atau persaingan strategis, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara diperlihatkan. Dalam hal ini, penulis melihat Turki sebagai salah satu regional power yang menjadi rival bagi Mesir dalam keterlibatannya pada berbagai permasalahan di Timur Tengah dan Afrika. Hubungan Turki dan Mesir kemudian semakin bergeser menuju persaingan strategis setelah jatuhnya rezim Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 2013—yakni rezim el-Sisi yang dianggap oleh pemerintahan Erdogan sebagai ancaman yang dapat membahayakan proyek politiknya, baik di Turki maupun di kawasan (Fadhl, 2021). Dalam hal ini tim penulis berpendapat bahwa Pharaohs’ Golden Parade juga menjadi salah satu upaya soft power Mesir dalam menghadapi persaingan strategis dengan Turki sebagai rivalnya di kawasan. 

Kesimpulan

Melalui tulisan ini, tim penulis menyimpulkan bahwa “Pharaohs’ Golden Parade” yang diadakan pemerintah Mesir pada April 2021 menjadi signifikan bagi Mesir untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Dalam hal ini Mesir menggunakan unsur warisan budaya dan peninggalan bersejarah yang terkandung dalam rangkaian acara tersebut sebagai alat untuk mencapai kepentingan ekonomi Mesir di tengah penurunan angka pariwisata yang dihadapi Mesir saat ini. Ajang “Pharaohs’ Golden Parade” juga menjadi salah satu momentum yang digunakan pemerintah Mesir untuk mengangkat kembali ingatan masa lampau akan identitas bersama yang dimiliki oleh masyarakat Mesir. Bersama dengan ingatan ini, Mesir berharap masyarakatnya dapat kembali bersatu dan meningkatkan rasa kepercayaan mereka terhadap pemerintah negara di kala maraknya pandemi COVID-19. 

Terakhir, tim penulis juga melihat bahwa “Pharaohs’ Golden Parade” merupakan alat Mesir dalam menjalankan soft powernya. Dalam hal ini, soft power digunakan untuk menopang dan mendukung Mesir dalam menghadapi situasi dan kontestasi politik serta persaingan strategis dan ekonomi di kawasan. Pada akhirnya, tim penulis melihat bahwa “Pharaohs’ Golden Parade” memiliki nilai signifikansi yang sangat besar bagi kelangsungan Mesir sebagai regional power di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam menghadapi tantangan dan ancaman dari isu. Atas kesadaran tersebut, patut kembali dipertimbangkan bagaimana ilmu Hubungan Internasional memandang peran warisan budaya, peninggalan bersejarah, dan diskursus identitas lain dalam studinya. 

Daftar Pustaka

“A Motorcade of Mummies.” Comment. Apollo Magazine, 8 April 2021. https://www.apollo-magazine.com/royal-mummies-parade-egypt/.  

Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso, 1991.

Cunliffe, Emma and Luigi Currini. “ISIS and Heritage Destruction: A Sentiment Analysis” in Antiquity 92, no 364 (2018). 1094-1111. 

Essam, Angy, and Mustafa Marie. “Egypt’s Pharaohs’ Golden Parade: A Majestic Journey That History Will Forever Record.” EgyptToday, 4 April 2021. https://www.egypttoday.com/Article/4/100469/Egypt%E2%80%99s-Pharaohs-Golden-Parade-A-majestic-journey-that-history-will.  

Fadhl, Mohamed Abul. “The Shift from Hostility to Competition between Egypt and Turkey.” Arab Weekly, 17 April 2021. https://thearabweekly.com/shift-hostility-competition-between-egypt-and-turkey.  

Flood, Finbarr Barry. “Idol-Breaking as Image-Making in the Islamic State,” in Religion and Society: Advances in Research 7 (2016). 116-138. 

Hardy, Samuel. “Curbing the Spoils of War.” Wide Angle. UNESCO, 19 Oktober 2020. https://en.unesco.org/courier/october-december-2017/curbing-spoils-war.  

“How Terrorists Tap a Black Market Fueled by Stolen Antiquities.” NBCNews.com. NBCUniversal News Group, 11 Juni 2015. https://www.nbcnews.com/storyline/iraq-turmoil/how-terrorists-tap-black-market-fueled-stolen-antiquities-%20n137016?cid=eml_onsite#$7%20billion.  

McGivern, Hannah, and Aimee Dawson. “Egypt Revives Major Museum Projects, Six Years after Revolution.” The Art Newspape, 9 Agustus 2018. https://www.theartnewspaper.com/news/egypt-revives-major-museum-projects-six-years-after-revolution.   

Nye, Joseph S. Soft Power: the Means to Success in World Politics. New Delhi: Knowledge World, 2012.

UNESCO. “The General Conference of UNESCO at Its Seventeenth Session .” In Convention Concerning The Protection Of The World Cultural And Natural Heritage, 1–16. Paris, France: UNESCO, 1972. 

“The UNSC Resolution Will Provide Tools to Protect Cultural Heritage,” France ONU, 24 Maret 2017, https://onu.delegfrance.org/The-UNSC-resolution-will-provide-tools-to-protect-cultural-heritage

Brianna Ruth Audrey adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @ohdraye.

Danny Widiatmo adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Dapat ditemukan di Instagram dengan nama pengguna @dannywidiatmo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *